KETIK, MALANG – Universitas Brawijaya (UB) lama dikenal dengan kampus yang menggencarkan inklusivitas di lingkungan pendidikan. Bersama Consortium of Inclusive Teacher Education and Development (CITED), UB pun menggelar konferensi internasional yang membahas tentang inklusivitas.
Konferensi internasional tersebut mengambil tajuk Belonging Without Borders: Strengthening Collective Commitment for an Inclusive World, yang digelar 28 Oktober 2026. Wakil Rektor I Bidang Akademik UB, Prof Imam Santoso menjelaskan dunia pendidikan harus dapat merangkul seluruh masyarakat.
Dalam pendidikan inklusif, tak hanya tentang ketersediaan akses kesempatan belajar saja, namun juga menciptakan lingkungan yang membuat individu merasa dihargai, dihormati, didukung dan diberdayakan.
"Jadi menciptakan lingkungan pendidikan di mana setiap individu merasa dihargai, dihormati, didukung, dan diberdayakan untuk berpartisipasi secara bermakna, terlepas dari latar belakang, kemampuan, maupun kondisi mereka," ujar Prof Imam.
Dalam mewujudkan pendidikan inklusif, dibutuhkan kerja sama dan kolaborasi antar pihak. Tak hanya inisiatif individu dan kebijakan institusional, pendidikan inklusif juga membutuhkan komitmen berkelanjutan, dan kemitraan.
Baca Juga:
FBiPK UB dan Petrokimia Gresik Luncurkan PANDAWA, Integrasikan Konservasi Hulu dan Peningkatan Kesejahteraan Warga"Pendidikan inklusif menuntut komitmen berkelanjutan, kemitraan, serta kesediaan kolektif untuk belajar dari berbagai pengalaman dan perspektif yang beragam. Melalui kesempatan ini, kita dapat menguatkan aksi bersama untuk menciptakan pendidikan yang inklusif,” tambahnya.
Sebagai kampus inklusif, UB telah mendukung kesetaraan gender dengan memiliki 52,2 persen dosen perempuan, 36,6 tendaga pendidik perempuan, dan 58 persen mahasiswa UB juga merupakan perempuan. Selain itu terdapat 6 program afirmasi untuk daerah tertinggal. Mulai dari ADik Papua, ADEM Papua, ADEM Repatriation, ADik 3T, jalur penerimaan khusus mahasiswa disabilitas, dan penerimaan mahasiswa internasional.
“ADik untuk peserta didik lulusan pendidikan dasar dan menengah Papua, ADEM untuk peserta didik yang menyelesaikan pendidikan di luar Papua, Repatriation untuk mereka yang orang tuanya Pekerja migran Indonesia,” lanjut Prof Imam.
UB juga telah memfasilitasi 329 mahasiswa aktif yang merupakan penyandang difabel dan 185 wisudawan dalam 74 program studi. Pelayanan mahasiswa difabel dilengkapi dengan program dari Sub-direktorat Layanan bagi Penyandang Disabilitas dan Pendidikan Inklusif.(*)