Di Balik Tuntutan ‘Harus Kuat’, Mengenal Toxic Masculinity dalam Kehidupan Sehari-hari

Jurnalis: Kahila
Editor: Fisca Tanjung

15 Apr 2026 04:00

Thumbnail Di Balik Tuntutan ‘Harus Kuat’, Mengenal Toxic Masculinity dalam Kehidupan Sehari-hari
Ilustrasi korban toxic masculinity (Desain: Kahila/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Kalimat-kalimat seperti “laki-laki tidak boleh menangis,” “harus kuat,” “tidak boleh menunjukkan emosi,” hingga aturan tidak tertulis tentang cara berpakaian atau bersikap, masih kerap terdengar dalam kehidupan sehari-hari.

Ungkapan-ungkapan tersebut sering dianggap wajar, bahkan dijadikan nasihat. Padahal, tanpa disadari, hal itu merupakan bagian dari fenomena yang dikenal sebagai toxic masculinity.

Toxic masculinity, atau maskulinitas toksik, merujuk pada seperangkat norma budaya yang kaku dan cenderung merugikan dalam memaknai peran laki-laki.

Dalam konstruksi ini, laki-laki diharapkan selalu kuat, dominan, dan mampu mengendalikan situasi, sementara ekspresi emosi seperti sedih, takut, atau cemas sering kali dianggap sebagai tanda kelemahan.

Baca Juga:
Ketua DPRD Kota Malang Tekankan Pentingnya Safety Net Terpadu untuk Kesehatan Mental Mahasiswa

Akibatnya, laki-laki didorong untuk menekan perasaan mereka demi memenuhi standar “maskulin” yang telah dibentuk oleh masyarakat.

Lebih jauh, norma sosial tradisional sering menempatkan laki-laki sebagai sosok “super” yang harus selalu bisa diandalkan. Mereka diharapkan menjadi pemimpin, pencari nafkah utama, pengambil keputusan, sekaligus penanggung jawab dalam berbagai aspek kehidupan.

Ekspektasi ini tidak hanya membentuk peran sosial, tetapi juga menciptakan tekanan yang tidak sedikit. Dalam banyak kasus, laki-laki merasa harus terus terlihat kuat, bahkan ketika mereka sedang berada dalam kondisi sulit.

Pola pikir seperti ini umumnya terbentuk sejak usia dini. Pola asuh dalam keluarga, lingkungan sekolah, hingga pengaruh budaya patriarki berperan besar dalam membangun gambaran tentang “laki-laki ideal.”

Baca Juga:
Prof Ali Aziz Sebut Sikap Ekspresif Dapat Menjadi Terapi Kesehatan Mental Muslim

Anak laki-laki yang menangis kerap ditegur, sementara keberanian dan ketegasan lebih dihargai. Seiring waktu, nilai-nilai tersebut tertanam dan membentuk cara seseorang memahami diri sendiri serta berinteraksi dengan orang lain.

Sayangnya, tuntutan untuk selalu terlihat kuat dan superior ini memiliki berbagai konsekuensi negatif. Laki-laki yang terbiasa menekan emosi cenderung mengalami kesulitan dalam mengenali dan mengelola perasaannya sendiri. Hal ini dapat memicu tingkat stres yang tinggi, perasaan kesepian, serta anggapan bahwa mereka tidak dipahami oleh lingkungan sekitar.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga dapat berdampak pada kesehatan mental, termasuk meningkatnya risiko depresi hingga munculnya keinginan untuk mengakhiri hidup.

Di tengah kondisi tersebut, penting untuk dipahami bahwa mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan. Laki-laki yang memilih untuk bercerita kepada orang terpercaya atau mengakses bantuan profesional justru menunjukkan keberanian dan kesadaran diri.

Kemampuan untuk mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja merupakan langkah awal yang penting dalam mengelola masalah secara sehat.

Dengan demikian, sudah saatnya masyarakat mulai merefleksikan kembali makna maskulinitas yang selama ini diyakini. Menjadi laki-laki tidak harus selalu identik dengan menekan emosi atau memikul beban sendirian.

Sebaliknya, maskulinitas yang sehat justru memberi ruang bagi laki-laki untuk menjadi manusia yang utuh yang mampu merasakan, mengekspresikan, dan mengelola emosinya dengan baik. (*)

Baca Sebelumnya

Adu Banteng Scoopy vs Vario di Jalan Raya Kepuh Malang, Tiga Orang Luka Parah

Baca Selanjutnya

Polresta Banyuwangi Amankan 7 Pelaku Penimbun BBM Bersubsidi

Tags:

Toxic Masculinity maskulinitas laki-laki norma sosial kesehatan mental ekspresi emosi

Berita lainnya oleh Kahila

Lagu Galau sebagai Pelepas Emosi dan Dampak Tersembunyi bagi Kesehatan Mental

14 April 2026 00:15

Lagu Galau sebagai Pelepas Emosi dan Dampak Tersembunyi bagi Kesehatan Mental

Merasa Stuck di Usia 20-an? Ini Penjelasan tentang Quarter Life Crisis

10 April 2026 02:01

Merasa Stuck di Usia 20-an? Ini Penjelasan tentang Quarter Life Crisis

Sering Dianggap Terapi Murah, Benarkah Bernyanyi Bisa Buang Stres?

8 April 2026 08:00

Sering Dianggap Terapi Murah, Benarkah Bernyanyi Bisa Buang Stres?

10 Film Favorit Penonton di Letterboxd yang Wajib Masuk Daftar Tontonanmu

1 April 2026 02:10

10 Film Favorit Penonton di Letterboxd yang Wajib Masuk Daftar Tontonanmu

Pertanian Jadi Pilar Ekonomi Nganjuk, Bappeda Jatim Dorong Penguatan Sektor Agraris

14 Maret 2026 17:43

Pertanian Jadi Pilar Ekonomi Nganjuk, Bappeda Jatim Dorong Penguatan Sektor Agraris

Sportif Academy Batch 1, Terapkan Metode LTAD Demi Cetak Atlet Masa Depan Jawa Timur

13 Maret 2026 13:52

Sportif Academy Batch 1, Terapkan Metode LTAD Demi Cetak Atlet Masa Depan Jawa Timur

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar