KETIK, LAMONGAN – Upaya memperkuat ketahanan pangan melalui pemberdayaan masyarakat mulai diterapkan di Dusun Ngulaan, Desa Tebluru, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan. Salah satunya melalui pengembangan demplot budidaya kedelai SENTRA (Sekolah Nasional Tangguh untuk Ketahanan Pangan Rakyat) yang digelar Sabtu, 15 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 11.30 WIB itu memanfaatkan lahan seluas satu hektare milik Kepala Desa Tebluru Hamtoro. Tim pengelola menerapkan teknologi Tanpa Olah Tanah (TOT) dalam proses budidaya.
Demplot tersebut tidak hanya berorientasi pada kegiatan penanaman. Pengelola juga menjadikannya sebagai lokasi pembelajaran, pengamatan, penelitian, sekaligus percontohan budidaya kedelai bagi masyarakat.
Pengelola membagi lahan menjadi dua petak dengan perlakuan berbeda. Petak pertama menerapkan teknologi presisi yang dikelola SMKS Miftahul Ulum, sedangkan petak kedua menggunakan teknologi pupuk SENTRA.
Tim akan mengamati kedua metode tersebut sejak tahap penanaman hingga panen. Perbandingan hasil diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai metode budidaya yang paling efektif dan efisien.
Baca Juga:
Pramuka Kota Malang Wakili Jatim di Jambore Nasional, Bawa Gagasan Teknologi untuk Ketahanan Pangan
FKP UNESA Tekankan Budidaya Sesuai SOP
Wakil Dekan I Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) UNESA, Isnawati, menekankan pentingnya menjalankan setiap tahapan budidaya sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Menurut dia, proses tersebut mencakup penanganan dan perlakuan benih, persiapan lahan, penanaman, pemupukan, hingga pemanenan. Setiap tahapan perlu dilakukan secara tepat agar menghasilkan data dan produksi yang optimal.
Baca Juga:
Ketahanan Pangan Tak Cukup Soal Produksi, FBiPK UB Soroti Kesejahteraan PetaniIa juga menilai penggunaan beberapa pola perlakuan dalam satu demplot penting untuk mendukung kegiatan penelitian. Melalui perbandingan tersebut, tim dapat mengukur efektivitas dan efisiensi masing-masing teknologi.
“Untuk kepentingan riset, perlu dibuat beberapa demplot dengan pola penanganan yang berbeda. Dari situ dapat diketahui mana yang lebih efektif dan efisien dengan hasil yang maksimal,” ujar Isnawati.
Sementara itu, Wakil Dekan II FKP UNESA, Ahmad Ajib Ridlwan, mengatakan perguruan tinggi perlu mengambil peran langsung dalam membangun ketahanan pangan di tengah masyarakat.
Menurutnya, ketahanan pangan tidak cukup hanya menjadi konsep atau slogan. Perguruan tinggi perlu mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan teknologi agar masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara langsung.
“Ketahanan pangan tidak hanya slogan, tetapi harus dibuktikan di masyarakat. FKP sebagai lembaga perguruan tinggi harus turun langsung mengaplikasikan teori sehingga masyarakat dapat menerima manfaat dan memperoleh hasil yang maksimal,” tegasnya.
Demplot Disiapkan untuk Pembelajaran dan Penelitian
Koordinator SENTRA, Rasmian, menjelaskan bahwa demplot kedelai di Desa Tebluru memiliki dua fungsi utama. Selain menjadi sarana pembelajaran, lahan tersebut digunakan sebagai objek pengamatan dan penelitian.
Tim juga mengarahkan hasil pengamatan untuk dikembangkan menjadi karya ilmiah tingkat nasional. Karena itu, seluruh proses budidaya harus mengikuti SOP yang telah ditetapkan tim pembimbing dari FKP UNESA.
Rasmian berharap hasil penelitian dari demplot tersebut tidak berhenti sebagai data akademik. Jika mampu menghasilkan produksi yang baik, metode budidaya yang diterapkan dapat menjadi contoh bagi petani dan masyarakat di wilayah sekitar.
“Kegiatan ini selain untuk pembelajaran juga untuk pengamatan dan penelitian yang akan diarahkan menjadi karya ilmiah nasional. Karena itu, pelaksanaannya harus sesuai SOP. Jika hasilnya bagus, kami berharap bisa menjadi percontohan bagi daerah sekitar,” kata Rasmian.
Libatkan Sekolah dan Kelompok Tani
Pengembangan demplot kedelai tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari perguruan tinggi, sekolah, kelompok tani, hingga pemerintah desa.
Peserta berasal dari FKP UNESA, pengurus SENTRA, siswa dan guru SMKS Miftahul Ulum, SMAS Wachid Hasjim Maduran, SMAS Muhammadiyah 11 Laren, kelompok tani Desa Tebluru, Pemerintah Desa Tebluru, serta kelompok tani Masjid Baiturrohim Bulubrangsi, Kecamatan Laren.
Kegiatan tersebut melibatkan lima orang dari FKP UNESA, tiga pengurus SENTRA, 12 peserta dari SMKS Miftahul Ulum, 24 peserta dari SMAS Wachid Hasjim Maduran, 15 anggota kelompok tani Desa Tebluru, lima unsur pemerintah desa, dua anggota kelompok tani Masjid Baiturrohim Bulubrangsi, serta dua guru SMAS Muhammadiyah 11 Laren.
Sejumlah kepala sekolah dan pendamping kegiatan turut hadir, antara lain Kepala SMAS Wachid Hasjim Maduran Sudarmadji, Kepala SMAS Nurul Fattah Solokuro Purwadi, Wakil Kepala Sekolah Moh. Salim Khudbi, Kepala SMAS Muhammadiyah 11 Laren Khumaidah, serta Kepala SMKS Miftahul Ulum Solokuro Suhabiburromyi.
Para pembina karya ilmiah dari masing-masing sekolah juga ikut mendampingi kegiatan tersebut.
Dari Pemerintah Desa Tebluru, Kepala Desa Hamtoro hadir bersama jajaran perangkat desa. Sementara dari SENTRA hadir Rasmian, Lasmono, dan Imam Bagus. Dukungan kegiatan juga diberikan Takmir Masjid Baiturrohim Bulubrangsi.
Demplot kedelai SENTRA di Desa Tebluru menjadi ruang pertemuan antara pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat. Melalui lahan seluas satu hektare tersebut, para peserta dapat belajar sekaligus menguji penerapan teknologi budidaya kedelai secara langsung.
Hasil pengamatan dan penelitian nantinya diharapkan mampu menghasilkan model budidaya kedelai yang efektif, efisien, dan produktif. Jika memberikan hasil optimal, model tersebut dapat dikembangkan di wilayah lain untuk mendukung ketahanan sekaligus kemandirian pangan masyarakat. (*)