Setiap 28 Oktober, kita mengenang Sumpah Pemuda sebagai tonggak penting perjalanan bangsa. Pada 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang berani melampaui perbedaan demi satu cita-cita: Indonesia yang bersatu. Mereka mewariskan pelajaran bahwa perubahan besar membutuhkan keberanian, persatuan, dan kesediaan memperjuangkan masa depan bersama.

Hampir satu abad kemudian, tantangan generasi muda telah berubah. Kita hidup di tengah digitalisasi, persaingan global, perkembangan kecerdasan buatan, dan perubahan dunia kerja yang cepat. Namun, satu pertanyaan tetap relevan: jika pemuda dahulu berani melampaui perbedaan demi Indonesia, sudahkah mahasiswa hari ini berani melampaui kemalasan, ketakutan, dan kenyamanan diri sendiri demi masa depan bangsa?

Pertanyaan ini penting karena Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibangun dengan harapan dan slogan. Indonesia membutuhkan generasi yang bersungguh-sungguh belajar, berani menghadapi tantangan, dan mampu mengubah pengetahuan menjadi karya serta pengabdian.

Sumpah Pemuda dan Tantangan Generasi Hari Ini

Semangat Sumpah Pemuda perlu diterjemahkan melalui perjuangan yang sesuai dengan zaman. Kini, akses pengetahuan semakin terbuka. Mahasiswa dapat belajar melalui internet, mengikuti pelatihan, dan bertukar gagasan tanpa batas ruang. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu sejalan dengan kesungguhan belajar.

Baca Juga:
Aksi ‘Indonesia Sadar”, Ribuan Mahasiswa Padati Bundaran HI Sampaikan Aspirasi

Di tengah derasnya informasi dan hiburan digital, mahasiswa dituntut mampu menjaga fokus, mengelola waktu, serta membedakan aktivitas produktif dari kegiatan yang sekadar menghabiskan waktu. Kita bisa mengakses banyak pengetahuan tanpa mendalaminya, mengikuti berbagai isu tanpa memahami persoalannya, bahkan berbicara tentang masa depan tanpa benar-benar mempersiapkannya.

Karena itu, mahasiswa perlu berani melampaui kebiasaan yang menghambat pertumbuhan diri. Sebab, tantangan terbesar terkadang bukan berasal dari luar, melainkan dari kebiasaan menunda, takut gagal, dan merasa cukup dengan kemampuan yang dimiliki.

Belajar Bukan Sekadar Mengejar Gelar

Pendidikan tinggi seharusnya membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, memahami persoalan, dan menemukan solusi. Ijazah memang penting, tetapi nilai pendidikan sesungguhnya terletak pada kemampuan menggunakan ilmu untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Baca Juga:
Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Seremoni! Plt Bupati Tulungagung Ungkap 3 Kunci Pemuda Hadapi Masa Depan

Mahasiswa teknologi perlu memikirkan pemanfaatan teknologi untuk menyelesaikan persoalan publik. Mahasiswa pendidikan perlu berkontribusi meningkatkan kualitas pembelajaran. Mahasiswa ekonomi perlu memahami persoalan ekonomi secara kritis, sedangkan mahasiswa fakultas hukum perlu menjadikan hukum sebagai instrumen penegakan keadilan dan perlindungan hak masyarakat.

Apa pun bidang studinya, setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk menjadikan ilmu sebagai sumber manfaat. Karena itu, budaya membaca, berdiskusi, meneliti, dan mengikuti perkembangan ilmu perlu dibangun secara konsisten, bukan sekadar ketika tuntutan akademik mengharuskannya.

Mahasiswa juga perlu mengembangkan literasi digital, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, pemikiran kritis, dan kecakapan bekerja sama. Dunia terus berubah sehingga kemauan belajar sepanjang hayat menjadi kebutuhan.

Ijazah menandai selesainya satu jenjang pendidikan, bukan berakhirnya proses belajar.

Melampaui Diri Sendiri dan Menjaga Integritas

Melampaui diri sendiri bukan berarti harus selalu mengalahkan orang lain, melainkan berani menjadi lebih baik daripada diri sendiri kemarin. Jika belum memahami materi, pelajari kembali. Jika belum memiliki keterampilan, carilah kesempatan untuk mengembangkannya. Jika gagal, evaluasi dan cobalah lagi.

Kemajuan membutuhkan disiplin. Menyusun jadwal belajar, menetapkan target realistis, membatasi distraksi digital, dan mengevaluasi perkembangan diri merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan. Perubahan besar sering kali berawal dari kebiasaan kecil yang dijalankan secara konsisten.

Namun, kecerdasan saja tidak cukup. Indonesia juga membutuhkan generasi muda yang jujur, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. Integritas harus dibangun sejak bangku kuliah melalui kejujuran akademik, penolakan terhadap plagiarisme, keberanian mengakui kesalahan, dan penghargaan terhadap karya orang lain.

Kedisiplinan, kemampuan menerima kritik, serta kesediaan menghargai perbedaan juga menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab, bangsa yang maju tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga manusia yang dapat dipercaya dan bersedia menggunakan kemampuannya untuk kepentingan bersama.

Indonesia Emas Dimulai Hari Ini

Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan mampu bersaing secara global. Mahasiswa hari ini kelak akan menjadi guru, peneliti, tenaga kesehatan, insinyur, ahli hukum, pengusaha, dan pemimpin yang turut menentukan arah pembangunan bangsa.

Karena itu, ruang kelas dan lingkungan kampus harus menjadi tempat mempersiapkan masa depan. Kesungguhan belajar, keterlibatan dalam penelitian, aktivitas organisasi, dan pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian dari proses membangun kapasitas diri.

Kontribusi tidak harus menunggu seseorang menduduki jabatan tinggi. Mahasiswa dapat mulai dari lingkungan terdekat melalui gagasan, penelitian, kegiatan sosial, atau keterampilan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dari Sumpah Pemuda, kita mewarisi keberanian untuk menyatukan cita-cita. Menuju Indonesia Emas, kita ditantang membuktikan keberanian itu melalui tindakan nyata.

Belajarlah dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar demi gelar. Bertumbuhlah tanpa henti, bukan sekadar demi pengakuan. Jagalah integritas, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi. Gunakanlah ilmu bukan hanya untuk meraih keberhasilan pribadi, tetapi juga untuk memberikan manfaat bagi sesama.

Indonesia Emas tidak dimulai pada 2045. Ia dimulai hari ini, dari ruang kelas, dari karakter yang dibangun, dan dari keberanian setiap mahasiswa untuk melampaui dirinya sendiri.

Tugas mahasiswa bukan sekadar menjadi bagian dari masa depan Indonesia, melainkan mempersiapkan diri untuk ikut menentukan arah masa depan itu.

*) Dr. H. Miftahul Huda, S.H.I., M.H. adalah dosen Fakultas Syariah UIN Malang. adalah dosen Fakultas Syariah UIN Malang
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis.
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat pada redaksi