KETIK, MALANG – Kemarau panjang dan banyaknya masyarakat yang menggelar hajatan, berdampak langsung pada melambungnya harga kebutuhan pokok di Pasar Bunulrejo Kecamatan Blimbing Kota Malang. Kenaikan harga secara signifikan terjadi pada sejumlah komoditas sayuran dan bumbu dapur seperti cabai, tomat, hingga jeruk nipis. 

Salah seorang pedagang, Nasir mengaku harga tomat dengan kualitas baik telah menyentuh harga Rp 10.000 per kilogram. Padahal dalam kondisi normal, tomat biasanya dibanderol sekitar Rp 6.000 per kilogram.

"Lonjakan juga terjadi pada komoditas cabai rawit yang kini harganya Rp 75.000 per kilogram. Melonjak tajam dari harga normal yang berada di kisaran Rp 40.000 per kilogram," jelasnya, Selasa, 6 Oktober 2026. 

Untuk harga cabai merah besar juga ikut naik. Kini harganya menjadi Rp 30.000 per kilogram dari yang sebelumnya di harga Rp 20.000 per kilogram. Kemudian cabai keriting juga ikut naik, dari yang awalnya Rp 30.000 per kilogram kini menjadi Rp 50.000 per kilogram.

"Harga jeruk nipis juga ikut naik menjadi Rp 30.000 per kilogram, padahal biasanya Rp 10.000 per kilogram. Ini pun saya jual per biji dengan harga Rp 2.000," tambahnya. 

Baca Juga:
Bedah Buku “Irian Barat”, UM Bahas Sejarah Papua dalam Pusaran Politik Global

Selain itu, harga jagung manis kini naik di harga Rp 10.000 per kilogram dari normalnya sekitar Rp 6.000 per kilogram. Demikian juga dengan sayur kubis, kini harganya sekitar Rp 9.000 per kilogram dari harga normal Rp 5.000 per kilogram.

Menurut Nasir, pasokan barang dari daerah penghasil berkurang drastis akibat kemarau. Di sisi lain, tingkat permintaan justru sedang tinggi seiring banyaknya masyarakat yang menggelar hajatan pernikahan.

"Cuacanya lagi panas, tetapi pasokan sayur berkurang. Padahal permintaan lagi tinggi-tingginya karena musim hajatan, jadi harganya naik banyak," pungkasnya.

Sebelumnya menurut BMKG, El Nino diprediksi masih akan bertahan hingga awal 2027. Dengan kondisi tersebut, membuat periode musim hujan yang sedianya sudah terjadi pada Oktober menjadi mundur.

Baca Juga:
Tak Perlu Jauh-Jauh ke Bali! HARRIS Hotel & Conventions Malang Buka Wellness Studio, Hadirkan Pijat Tradisional Bali dan Jawa ‎

Kondisi ini pun perlu diwaspadai, mengingat dapat meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, hingga rawan menimbulkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).