KETIK, BATU – Ketua Umum PW IKA PMII Jawa Timur, Thoriqul Haq, menyoroti sejumlah persoalan dalam proses kaderisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Menurutnya, pola rekrutmen, regenerasi kepengurusan, hingga materi kaderisasi perlu dievaluasi secara menyeluruh agar mampu menjawab tantangan mahasiswa saat ini.

Hal tersebut disampaikannya dalam Musyawarah Cabang IV IKA PMII Kota Malang bertajuk “Interkoneksi Diaspora Alumni Lintas Generasi dalam Simpul Gerakan” di Graha Arshaka, Jalan Semeru II Gang 1, Desa Pendem, Kota Batu, Minggu, 26 Juli 2026.

Mantan Bupati Lumajang ini mengungkapkan, saat ini muncul kecenderungan mahasiswa bergabung dengan PMII karena latar belakang keluarga, khususnya karena orang tuanya merupakan kader PMII.

“Hari ini ada kecenderungan yang ikut PMII ketika mahasiswa baru itu karena orang tuanya PMII dan memberikan pesan kepada putra-putrinya ketika masuk kuliah untuk ikut PMII. Tapi ini tidak boleh menjadi seakan-akan keabsahan bahwa yang ikut PMII karena orang tuanya PMII. Tidak bisa,” ujar Cak Thoriq, sapaan akrabnya.

Baca Juga:
IKA PMII Kota Malang Bangun Masjid di Kota Batu, Wali Kota Cak Nur: Manfaatnya Sangat Besar

Ia menegaskan masih memiliki komitmen untuk menghadirkan gagasan baru terkait proses kaderisasi PMII agar mampu melahirkan kader yang lebih berkualitas.

“Saya masih punya utang janji terkait harapan baru dan pikiran-pikiran baru tentang kaderisasi yang ada di PMII,” imbuhnya.

Selain itu, Cak Thoriq menilai terjadi pergeseran pola regenerasi kepengurusan yang berbeda dibandingkan masa sebelumnya.

Menurutnya, dahulu mahasiswa sudah mulai aktif memegang tanggung jawab organisasi sejak semester awal, sedangkan kini proses tersebut bergeser hingga setelah lulus kuliah.

Baca Juga:
Graha Arshaka IKA PMII Kota Malang Diresmikan, Jadi Rumah Kaderisasi dan Kolaborasi Alumni

“Hari ini ada lost generation dalam kaderisasi PMII. Dulu kami semester tiga sudah menjadi pengurus rayon, semester empat atau lima sudah menjadi pengurus komisariat, dan saat mengerjakan skripsi rata-rata sudah masuk pengurus cabang. Hari ini pergeserannya sudah berbeda,” ungkapnya.

Politisi PKB ini menjelaskan, jika sebelumnya mahasiswa sudah memegang tanggung jawab organisasi sejak awal masa kuliah, kini proses tersebut berlangsung jauh lebih lambat. 

Kepengurusan di tingkat rayon umumnya baru diisi mahasiswa semester enam, kepengurusan komisariat saat mahasiswa menjelang lulus, sementara kepengurusan cabang rata-rata dipegang oleh mereka yang telah menyelesaikan studi. 

Bahkan, menurutnya, ada kader yang memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 agar tetap berstatus mahasiswa dan dapat mengemban jabatan organisasi. Kondisi tersebut dinilai menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.

Menurut Cak Thoriq, persoalan tersebut berakar pada metode kaderisasi yang perlu dievaluasi agar proses pembinaan kader kembali berjalan sebagaimana mestinya.

“Problem dasarnya adalah cara berkaderisasinya yang perlu kita jadikan evaluasi sekaligus catatan untuk memastikan bahwa kembalinya proses kaderisasi yang khittah inilah yang harus dimulai,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, PW IKA PMII Jawa Timur tengah menyiapkan rekomendasi kepada Pengurus Besar PMII sebagai bahan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kaderisasi.

“Saya sedang berkeinginan mempunyai catatan-catatan rekomendasi kepada PB PMII dari kami IKA PMII Jawa Timur untuk melakukan evaluasi total, tidak sekadar soal regenerasi, tetapi juga materi-materi kaderisasinya,” katanya.

Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan mengumpulkan para senior yang selama ini memiliki perhatian terhadap kaderisasi bersama alumni PMII dari berbagai daerah di Jawa Timur.

“Mohon doa, dalam waktu dekat kami di Jawa Timur akan mengumpulkan para senior, terutama beliau-beliau yang konsen dengan kaderisasi, untuk bertemu bersama kami yang ada di alumni Jawa Timur, baik dari Malang, Jember, Surabaya, maupun beberapa kota dan kabupaten lain di Jawa Timur, untuk membahas soal ini,” tuturnya.

Ia berharap pembahasan tersebut menghasilkan rekomendasi yang mampu mengembalikan arah kaderisasi PMII sesuai tujuan awal organisasi.

“Sehingga rekomendasi kita betul-betul bisa mengembalikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, kaderisasinya kembali ke khittah,” ucapnya.

Cak Thoriq juga menyoroti meningkatnya sikap apatis mahasiswa terhadap organisasi kemahasiswaan. Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi ketidaksesuaian pola kaderisasi dengan kebutuhan mahasiswa masa kini.

“Ada banyak mahasiswa baru, terutama mahasiswa saat ini, yang apatis terhadap organisasi kemahasiswaan, bahkan cenderung berpikir negatif terhadap organisasi kemahasiswaan. Apa yang terjadi karena tidak update sesuai dengan kebutuhan yang hari ini dibutuhkan oleh mahasiswa. Itu juga akan kami lakukan evaluasi,” paparnya.

Karena itu, IKA PMII Jawa Timur berupaya menghadirkan pendekatan baru dalam proses kaderisasi agar lebih relevan dengan tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini.

“Kami akan melakukan cara pandang baru untuk menghadirkan kaderisasi dengan harapan-harapan yang kekinian bagi mahasiswa, karena tantangannya saat ini tentu berbeda,” pungkasnya.