KETIK, SITUBONDO – Bupati Situbondo membuka Festival Permainan Tradisional yang digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) ke-208 dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa 18 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk melestarikan permainan tradisional yang merupakan bagian dari kekayaan budaya
masyarakat Situbondo. yang dimainkan melibatkan anak-anak dan masyarakat.

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menyampaikan bahwa permainan tradisional tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga memiliki nilai edukasi, kebersamaan, sportivitas, serta dapat mempererat hubungan sosial antarmasyarakat.

“Permainan tradisional merupakan warisan budaya yang harus terus kita lestarikan. Jangan sampai anak-anak kita hanya mengenal permainan digital dan melupakan permainan tradisional,” ujar Mas Rio.

Menurut Mas Rio, festival tersebut diharapkan mampu memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal.

Mas Rio juga mengajak seluruh masyarakat, khususnya para orang tua dan generasi muda, untuk bersama-sama menjaga dan mengembangkan permainan tradisional agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Festival permainan tradisional, Congklak, Egrang, Balap karung, Panah bambu, Bakiak, Bola bekel, Yoyo, Gasing, Karet bentel dan Kelereng yang berlangsung di Alun-Alun Situbondo tersebut berlangsung meriah.

Peserta dan masyarakat tampak antusias mengikuti berbagai permainan yang sarat dengan nilai kebersamaan dan kegembiraan.

"Perlombaan permainan Tradisional digelar untuk perkuat interaksi sosial anak, sebagai upaya menekan tingginya penggunaan Gadget. Permainan tradisional ini digelar dari awal memasuki Peringatan Harjakasi hingga memasuki puncak acara Harjakasi ke-208 dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI," kata Mas Rio.

Kegiatan yang diawali dari tingkat kecamatan hingga kabupaten ini bertujuan untuk mengajak generasi muda kembali mengenali dan melestarikan budaya lokal. Penyelenggaraan acara ini merupakan bagian dari strategi untuk mengembalikan anak-anak pada kondisi sosial yang komunal.

"Melalui permainan tradisional, anak-anak didorong untuk berinteraksi secara langsung dan mengurangi sifat individualis yang kerap dipicu oleh penggunaan handphone yang berlebihan. Harapannya permainan tradisional ini dapat kembali mengasah rasa kebersamaan dan memperkuat karakter sosial anak-anak sebagai bagian dari nilai kebudayaan Indonesia," terang Mas Rio.

Pemerintah daerah dan dinas terkait telah menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan gadget di lingkungan sekolah.

Mas Rio juga berharap permainan tradisional tidak hanya hadir saat momen perlombaan saja, melainkan menjadi pilihan utama aktivitas anak-anak sehari-hari, baik di lingkungan rumah, alun-alun, maupun ruang publik lainnya.

"Melalui langkah ini, interaksi anak diharapkan tidak lagi didominasi oleh layar ponsel, melainkan lewat keceriaan dan kebersamaan di dunia nyata," pungkas Mas Rio (*)

Baca Juga:
Pakaian Adat Semarakkan Upacara Harjakasi ke-208, Ini kata Bupati Situbondo
Baca Juga:
Bupati Situbondo Kukuhkan Paskibraka, Upacara Dialihkan ke Alun-Alun Besuki