KETIK, SIDOARJO – Muchammad Nur Arafa dan M. Nur Arafi memang belum kuasa untuk berkata-kata. Dua anak kembar yang mengalami cerebral palsy itu terus bergerak-gerak di atas kursi roda baru. Mereka gembira. Wajah berseri-seri. Seakan-akan putra pasangan Abdul Munif dan Sunarti itu hendak berucap, ”Terima kasih Ayah Subandi.”

”Ayah Subandi” adalah panggilan anak-anak yatim kepada Bupati Subandi. Seorang pria yang sejak muda menjadi pekerja keras. Pernah menjadi kepala desa, anggota DPRD, sekaligus pengusaha properti. Sekarang tokoh kelahiran 23 Oktober 1972 (54 tahun) itu menjabat Bupati Sidoarjo.

Subandi adalah ayah bagi anak-anak yatim Sidoarjo, pelindung janda-janda, sahabat rakyat miskin, dan tempat menitipkan hati warga tak mampu yang memerlukan uluran tangan. Begitu pula saat mendapatkan laporan tentang dua anak kembar cerebaral palsy. Keluarganya masuk Desil 2. Bocah kembar berusia 10 tahun itu tergolong disabilitas berat.

”Berdasarkan informasi, kondisi ekonomi dan sosial keluarga tersebut membutuhkan bantuan.” Begitu pesan yang masuk ke ponsel Bupati.

Bupati Subandi merangkul Abdul Munif, ayah bocah Rafa dan Rafi. (Foto: Dokumen)

Baca Juga:
Luncurkan Buku Asmaul Husna dalam Kancah Kehidupan, YPM Sidoarjo Perdalam Nilai-Nilai Ketuhanan

Sabtu pagi (19 September 2026), Subandi mengunjungi rumah Arafa dan Arafi di Dusun Banjarpoh, Desa Banjarbendo, Kecamatan Sidoarjo. Warga kampung maupun keluarga Rafa dan Rafi hangat menyambutnya. Subandi menyalami mereka.

Langkahnya segera tertuju kepada Rafa dan Rafi. Dua bocah luar biasa itu terus bergerak. Mengangkat kepala yang tak mampu tegak. Memandang dengan sorot mata yang tak bisa fokus. Wajah polos Rafa dan Rafi itu ternyata memanggil sang tamu untuk mendekat. Tanpa suara.

Subandi pun mendekat. Memegang pipi mereka dengan dua tangan. Menciumi keduanya beberapa kali. Gemas seperti sedang memeluk anak sendiri. Kehadiran Subandi sebagai bupati membawa makna. Sederhana, namun prinsip: seorang pemimpin selalu hadir untuk rakyatnya.

Kursi roda baru untuk Rafa dan Rafi bukan sekadar tempat duduk. Dengan alat bantu itu, orang tua Rafa dan Rafi tidak perlu lagi selalu menggendong buah hati mereka. Dua bocah yang mengalami kelainan sejak lahir itu kini bisa berjalan-jalan menyaksikan dunia luar. Ruang lebih luas dalam hidup mereka. 

Baca Juga:
Ketua YJI Sidoarjo Sriatun Subandi: Jaga Jantung sejak Muda

Sambil memeluk Abdul Munif, 35 tahun, Subandi menitipkan pesan antara manusia dengan manusia. Dia berterima kasih karena Abdul Munif telah mengasuh Rafa dan Rafi dengan baik hingga sejauh ini. Karunia Tuhan yang istimewa.

”Yang penting semua sehat. Mudah-mudahan anak-anak kita ini selalu diberikan kesehatan. Orang tua juga diberikan kesabaran dalam merawat anak-anak yang luar biasa ini,” kata bapak dua anak itu kepada orang tua maupun para tetangga.

Bagi anak-anak biasa yang sehat dan mampu berjalan dengan bebas, kursi roda memang alat bantu sederhana. Namun, bagi anak-anak disabilitas yang memiliki keterbatasan, kursi roda akan mampu mengubah warna anak-anak dalam menjalani hari-harinya penuh dunai bermain.

Kehadiran pemerintah yang membawa bantuan memberikan makna. Kedatangan Subandi yang membawa hati menghadirkan arti. Melayani warga yang rentan dan memerlukan uluran tangan.

Rafa dan Rafi bukan anak-anak luar biasa pertama yang disambangi Subandi.  Ada Kenzie Rizqullaha, bocah Desa Mergosari, Kecamatan Tarik. Ada Muhammad Anta Dwi di Desa Jerukgamping, Kecamatan Krian. Ada Bianca Beatrix Pearl Suseno, bocah dari Desa Sidorejo, Krian. Ada pula Naysha Aulia Farzana, anak Desa Watutulis, Kecamatan Prambon.

Mereka adalah anak-anak Sidoarjo yang memerlukan kasih sayang. Baik sakit sejak lahir maupun akibat infeksi atau bakteri yang mengakibatkan kaki mereka tidak bisa berjalan. Sentuhan kasih Subandi menjadikan hari-hari merea lebih berarti.

 

Bupati Subandi memeluk perempuan lansia saat menyambangi warga di Desa Kureksari, Kecamatan Waru, Sidoarjo. (Foto: Dokumen)

Bawa Tawa untuk Para Lansia

Perhatian Subandi tak hanya untuk anak-anak balita dan bocah-bocah. Orang tua lanjut usia (lansia) pun menjadi bagian dari hatinya yang peduli. Pada medio Februari 2026, Achmad Kandek, 60 tahun, warga Desa Sawocangkring; serta M. Khoiril Arifin, 65 tahun; dan Jumali, 55 tahun, warga Desa Wonokalang. Ketiganya menderita stroke. Tak sanggup lagi berjalan.

Ada pula Rodiyah, 65 tahun; Sampurni, 60 tahun; dan Badriyah, 56 tahun, warga Kecamatan Wonoayu. Sudah bertahun-tahun mereka juga sakit stroke. Begitu pula Ginem, 79 tahun, warga Desa Berbek, Kecamatan Waru; dan Dasimah, 70 tahun, warga Desa Betro, Kecamatan Sedati.

Tidak terhitung sudah berapa banyak lansia. Di desa-desa mulai ujung utara, selatan, hingga barat Kota Delta, Sidoarjo. Dari yang masih punya keluarga sampai yang hidup sebatangkara. Sakit telah menjadi sahabat mereka di usia senja.

Kehadiran Subandi sering mengikis kesedihan.  Saat rasa ngilu mendera tubuh. Dalam hari-hari yang sepi. Ketika tidak tahu harus kepada siapa bercerita. Subandi datang dengan melempar tawa. Senyum tulus. Pelukan yang penuh arti.

Kepada para lansia tersebut, Subandi bertanya. Bagaimana kondisi mereka. Sakit apa? Perlu dibantu apa? Pertanyaan itu justru memicu tangis haru. Tak segan-segan para lansia meraih dan memeluk tangan Subandi.

Mereka pun mengaku masih ingin sembuh. Bisa berjalan lagi. Bermain dengan cucu-cucu nan lucu. Atau, setidaknya, mampu mandiri, tak menjadi beban anak. Jauh dari percikan-percikan konflik dengan menantu.

Mereka butuh berobat murah. Bisa keluar untuk mencari udara segar. Tidak kehujanan saat beristirahat di rumah. Makan seadanya pun tidak apa-apa. Di usia senja, para lansia merasa telah bisa menerima keadaan.

Langsung kepada mereka atau keluarga, Subandi selalu memastikan apakah semua lansia punya BPJS yang masih aktif. Dia ingin memastikan semua warga Sidoarjo bisa berobat secara gratis. Cukup dengan menunjukkan KTP. 

 Apakah sudah memperoleh asupan permakanan. Bantuan apa saja yang telah diterima keluarga. Baik bantuan sosial pusat lewat kementerian maupun bantuan pemerintah daerah melalui dinas-dinas, atau Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sidoarjo.

”Alhamdulillah. Maturnuwun, Pak Bupati. Mugi-mugi diparingi sehat, jembar rejekine,” ungkap Kasmina, 60 tahun, lansia warga Desa Kupang, Kecamatan Jabon.

”Maturnuwun Pak Bupati. Dungaaken kulo saget sembuh malih nggih,” ucap Moanah, 70 tahun, lansia warga Desa Masangankulon, Kecamatan Sukodono.

 

Munjiati, warga Sidokumpul, Kecamatan Sidoarjo, menatap wajah Bupati Subandi dengan gembira saat menerima kunci rumahnya yang sudah layak huni setelah direnovasi pada Agustus 2026. (Foto: Dokumen)

Melindungi Warga, Bantu Rehab Rumah

Hujan, bagi warga yang tidak beruntung, sama dengan kecemasan. Mereka yang atapnya ambrol, dindingnya retak, dan lantainya rendah selalu dihantui kebanjiran. Bupati Subandi menghadirkan diri untuk memupus ketakutan warganya.

Subandi hadir lebih dari sekadar kunjungan seorang pejabat. Dia turun sendiri menyaksikan kondisi tempat tinggal warganya rumah yang masuk kategori rumah tidak layak huni (RTLH). Subandi melakukan itu sejak sebelum resmi menjabat Bupati Sidoarjo.

Pada Sabtu (13 Juli 2024), Subandi masih menjadi Plt Bupati Sidoarjo. Dia membantu M. Irfan Efendi dan Qomariah, warga Desa Tebel, Gedangan. Juga rumah Sugeng Wandoyo dan Iis di Desa Sidomulyo, Buduran. Mereka menempati rumah yang kondisinya tidak layak huni.

”Alhamdulillah kami dibantu merenovasi rumah. Terima kasih Pak Subandi yang sangat peduli kepada orang tidak mampu seperti saya,” ungkap Irfan yang menempati rumah warisan orang tua bersama seorang kakaknya.

Seorang lansia warga Sedati Gede, Kecamatan Sedati, juga senang bukan main rumahnya didatangi Subandi bersama Baznas Sidoarjo. Pada Minggu (2 Februari 2026), pria bernama Subakin, 60 tahun, itu mendapat kepastian bahwa rumahnya akan dibantu renovasi. Atapnya sudah nyaris roboh. Namun, keluarganya tak mampu memperbaiki.

”Terima kasih Pak Subandi. Maturnuwun keluarga saya diperhatikan,” ucap Subakin. 

Selasa (25 Agustus 2026), giliran rumah Anna di Desa Mliriprowo, Kecamatan Tarik. Bersama dua warga Tarik lain, yaitu Jumadi di Desa Singogalih; dan Siti Muanah di Desa Sebani, Anna memperoleh bantuan rehab rumah. Kamar mandi tak layak.

”Saya sangat bersyukur. Terima kasih nggih Pak Subandi yang membantu perbaikan rumah kami. Semoga setelah diperbaiki, keluarga saya dapat hidup lebih aman dan nyaman,” kata Anna dengan gembira.

Ungkapan Irfan, Subakin, dan Anna mewakili ribuan warga lain yang rumahnya tidak layak huni dan mendapatkan bantuan dari Pemkab Sidoarjo maupun Baznas Sidoarjo. Ada Handoko di Desa Tropodo, Kecamatan Waru. Sujiono, Soleh, Dayat, dan Rukiani di Desa Pabean, Kecamatan Sedati. Mereka merasakan benar bagaimana pemerintah hadir melalui sosok Bupati Subandi.

Bagi keluarga Irfan, Subakin, Anna dan penerima lainnya, kedatangan Subandi tidak hanya meninggalkan bantuan fisik rumah. Subandi meninggalkan rasa aman, percaya, dan keyakinan bahwa ada pemimpin daerah yang melindungi mereka. Saat warga miskin sedang kesulitan, mereka tidak sendirian.

”Apabila ada warga yang membutuhkan perbaikan rumah, pemerintah daerah akan segera turun. Kasihan warga yang rumahnya tidak layak, apalagi menjelang musim hujan. Atap yang bocor dan genangan air dapat menyebabkan timbulnya penyakit,” kata Subandi.

 

Emak-emak warga Kelurahan Porong, Kecamatan Porong, mengajak foto bersama Bupati Subandi yang sedang sidak rumah tidak layak huni di kelurahan tersebut pada Sabtu (19 Juli 2025). ((Foto: Dokumen)

 

Akhir Pekan yang Berharga

Bertemu orang-orang tak mampu, anak-anak yatim, maupun janda-janda miskin telah bertahun-tahun menjadi napas kehidupan Bupati Subandi. Vitamin semangat bagi bupati yang tercatat paling kaya di Jawa Timur tersebut. Baik saat saat sedih, lelah, dan gundah.

Membantu warga yang sedang kesulitan, bagi Subandi, adalah healing yang menyenangkan. Pelepas penat dan stres dari rutinitias harian. Jangan heran. Setiap akhir pekan, Subandi bukannya berlibur, piknik, atau jalan-jalan.

Akhir pekan justru diisi dengan inspeksi mendadak (sidak) ke desa-desa.  Sambang rakyat. Hari Jumat, Sabtu, dan Minggu bukan hari libur. Subandi justru memakainya untuk turun ke masyarakat. Jenguk warga sakit, rumah tidak layak huni, anak-anak yang butuh bantuan, lansia yang ingin diajak tertawa, dan fasilitias publik yang perlu perbaikan. Menghibur  warganya yang terkena musibah.

”Tugas kita pemerintah ini menjadi pelayan. Yo opo carane masyarakat iki iso seneng. (Bagaimana caranya masyarakat ini senang,” ungkap Subandi kepada para pejabatnya dalam berbagai kesempatan.

Tentu saja, para pejabat Pemkab Sidoarjo harus mengikuti irama Subandi saat berkegiatan akhir pekan. Otomatis juga tidak bisa libur. Ikut sidak pagi-pagi hingga siang. Berturut-turut Jumat dan Sabtu, atau Sabtu dan Minggu, bahkan Jumat, Sabtu, dan Minggu. Mereka bersemangat. Meski, tekanan darah kadang naik, badan lemas, atau diomeli anak.

 

Bupati Subandi bersama Kepala BPBD Sidoarjo Sabino Marianno mendatangi rumah yang ambruk di Kelurahan Magersari, Sidoarjo, pada Rabu (23 Oktober 2025). (Foto: Dokumen)

Saat Hari Ulang Tahun pun Tetap Sidak

Tekad Subandi untuk mewakafkan diri bagi masyarakat Sidoarjo adalah motivasi. Hajat pribadi, seperti merayakan hari ulang tahun, pun kalah dari keinginan membantu sesama. Itu terjadi pada 2025 lalu. Pada Selasa (21 Oktober 2025), rumah seorang warga ambruk di Kecamatan Sidoarjo. Tempat tinggal Alfa, warga RT 11 RW 04 Kelurahan Magersari, ambruk. Laporan itu masuk ke Bupati Subandi esok harinya, Senin (22 Oktober 2025).

Nah, Rabu (23 Oktober 2025), keluarga dan pegawai Pemkab Sidoarjo ingat bahwa hari itu adalah ulang tahun Subandi yang ke-53. Subandi lahir pada 23 Oktober 1972. Alih-alih bersama merayakan bersama keluarga atau tumpengan dengan pegawai.

Subandi memilih melakukan sidak ke rumah Alfa. Dia menyaksikan bangunan yang ambruk. Rumah itu tidak bisa ditempati lagi. Kondisinya rawan, membahayakan.

”Kalau hujan lagi bisa roboh,” ungkapnya.

Subandi mengajak Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo Sabino Marianno ke lokasi. BPBD Sidoarjo diminta segera memperbaiki rumah yang rusak tersebut. Perbaikan secepatnya dilakukan. Agar keluarga pemilik rumah tidak terlalu lama terlantar.

Bupati Subandi mengunjungi lansia di Desa Janti, Kecamatan Waru, pada Jumat (23 Oktober 2026). (Foto: Dokumen)

Pada Jumat, 23 Oktober 2026, Subandi mengulanginya lagi.  Pas di hari ulang tahunnya, dia memilih tidak mengadakan pesta atau perayaan lain. Subandi malah sidak ke sejumlah rumah warga yang sedang butuh bantuan.

Setelah sidak ke pintu keluar Terminal Bungurasih. Dia menyambangi rumah tidak layak huni (RTLH) milik Widada di Jalan Brigjen Katamso, Desa Janti. Lalu, kediaman Wati Soedjiati dan Zakaria di Jalan Brigjen Katamso VI, Desa Janti, untuk menyerahkan bantuan kursi roda.

Satu lagi tradisi rutin yang tak pernah terlewatkan saat merayakan ulang tahunnya. Subandi selalu mengundang anak-anak yatim dan piatu ke rumahnya di Desa Pabean, Kecamatan Sedati. Doa bersama keluarga.

Sebagai Bupati Sidoarjo, Subandi juga telah memberikan kuota beasiswa khusus anak-anak yatim di Sidoarjo. Dia tidak mau mendengar ada anak yatim yang putus sekolah. Subandi yakin benar. Bahwa doa-doa anak-anak yatim selalu mengundang keajaiban dalam hidupnya.

”Doa anak-anak yatim memiliki kekuatan yang luar biasa. Semoga dengan kegiatan ini, Sidoarjo juga terus diberkahi. Semoga kita semua dapat mewujudkan kabupaten yang harmonis, inovatif, dan berdaya saing,” ujar Subandi. (adv)