KETIK, SURABAYA – Di tengah pekerjaan malam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Gresik di Desa Slempit, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik, terselip pemandangan yang membuat warga tersenyum sekaligus penasaran.
Ada apa? Ternyata ada seorang pemuda mengenakan seragam SD (Sekolah Dasar) duduk diatas atap mobil bak terbuka (Pick-Up) yang sedang melangsir campuran adukan semen pasir kerikil (koral) dari truk mixer (truk molen) ke jalan akan di cor.
Malam itu, Selasa, 5 Mei 2026, prajurit TNI bersama warga melakukan pekerjaan fisik pengecoran Jalan Usaha Tani (JUT) di sekitar lokasi kerja kasar yang dilakukan prajurit TNI dan warga hingga larut pagi keeseokan harinya, sekitar pukul 03.30 WIB.
Bagi sebagian masyarakat desa, itu bukan sekadar candaan. Ada mitos leluhur yang dipercaya turun-temurun. Saat ada pekerjaan kasar seperti membangun jalan, irigasi, atau cor malam hari, seseorang memakai pakaian anak kecil termasuk seragam SD, sebagai simbol tertentu agar hujan tidak turun.
Baca Juga:
Tak Sekadar Singgah! Di Rumah Ibu Ani, Rasa Rindu Prajurit untuk Keluarga Seketika TerobatiSecara budaya, tindakan itu biasanya bukan dianggap hal aneh atau mistis berbahaya, melainkan bagian dari simbol tradisi turun-temurun. Ada yang percaya pakaian anak kecil melambangkan kepolosan sehingga alam iba dan cuaca menjadi tenang.
Di tempat lain, ada juga yang menganggapnya sekadar guyonan tradisional untuk membangkitkan semangat pekerja malam agar tak mengantuk.
"Oh itu hanya pawang hujan, dan juga semangat untuk kerja. Tapi itu tergantung permintaan dari yang dapat kerjaan, " kata Bandy, warga Slempit
Secara ilmiah, tentu belum ada bukti bahwa ritual atau pakaian tertentu bisa mengendalikan hujan. Cuaca tetap dipengaruhi kondisi atmosfer dan alam.
Baca Juga:
Belajar dari Tangan Sang Jenderal! Jadi Contoh Nyata Membangun Desa itu Kerja BersamaMeski begitu, tradisi seperti ini menarik karena menunjukkan bagaimana masyarakat desa memadukan kerja gotong royong, kepercayaan leluhur dan suasana kebersamaan saat bekerja hingga malam.
Fenomena seperti yang ini dapat anda lihat di Kecamatan Kedamean dan bisa menjadi cerita budaya lokal yang unik, apalagi jika dikaitkan dengan semangat warga saat pekerjaan fisik berlangsung malam hari.
Di lokasi tersebut, prajurit yang tergabung dalam Satgas TMMD tetap bekerja menuntaskan pembangunan bersama warga hingga bahan baku semen, pasir dan batu kerikil habis.
Dari kisah ini, dapat kita simpulkan di program TMMD ke-128 Gresik bukan hanya menghadirkan pembangunan fisik, tetapi juga mempertemukan prajurit TNI dengan kehidupan, budaya tradisi dan kepercayaan masyarakat desa yang masih dijaga hingga sekarang. (*)