KETIK, MALANG – Program Studi Seni Rupa Murni Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) kembali menggelar Brawijaya Fine Art Competition (BFAC) 2026 sebagai ajang kompetisi seni rupa tingkat nasional bagi pelajar SMA/SMK/MA sederajat. Kegiatan yang memasuki tahun ketiga penyelenggaraan ini menjadi ruang apresiasi sekaligus pengembangan kreativitas generasi muda di bidang seni rupa dan industri kreatif.
Mengusung tema “Future Canvas: dari Seni Rupa Murni FIB UB, Lahir Generasi Kreatif”, BFAC 2026 menghadirkan berbagai cabang lomba yang memadukan seni konvensional dengan media digital sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan dunia kreatif masa kini.
Kompetisi yang berlangsung di Gedung B FIB UB tersebut menghadirkan empat cabang lomba, yakni Digital Drawing, lomba lukis, Digital Poster, dan fotografi. Cabang Digital Drawing serta lomba lukis dilaksanakan secara luring di lingkungan FIB UB, sementara Digital Poster dan fotografi digelar secara daring agar dapat menjangkau peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Dekan FIB UB, Sahiruddin, mengatakan bahwa pelaksanaan BFAC 2026 merupakan bagian dari komitmen Program Studi Seni Rupa Murni FIB UB dalam membuka ruang eksplorasi artistik bagi generasi muda sekaligus memperkenalkan lingkungan akademik seni rupa kepada calon mahasiswa.
“Selain menjadi wadah kompetisi, kegiatan ini juga dirancang sebagai media edukasi dan promosi budaya visual kreatif di kalangan pelajar,” ujarnya, Rabu, 13 Mei 2026.
Baca Juga:
Capaian Zona Integritas FTAB UB Dilirik UIN Bandung hingga UTMPada cabang Digital Drawing, peserta diwajibkan membawa perangkat gambar digital secara mandiri seperti pentab dan laptop, sedangkan panitia menyediakan fasilitas tempat dan kelistrikan. Sementara itu, cabang lomba lukis memberikan pengalaman praktik langsung dengan fasilitas kanvas dan easel yang telah disiapkan panitia.
Untuk cabang daring seperti Digital Poster dan fotografi, peserta dapat mengikuti kompetisi tanpa harus hadir langsung di Malang. Pengumpulan karya dilakukan melalui Google Form, sedangkan proses penjurian dilaksanakan secara daring melalui Google Drive dan Zoom Meeting bersama dewan juri.
Tak hanya memperebutkan uang pembinaan, para pemenang juga mendapatkan potongan Iuran Pembangunan Institusi (IPI) serta sertifikat yang dapat menjadi golden ticket prioritas masuk Program Studi Seni Rupa Murni FIB UB. Hal tersebut menunjukkan bahwa BFAC bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan bagian dari strategi pembinaan talenta muda seni rupa yang berpotensi melanjutkan pendidikan di bidang seni dan budaya.
Penyelenggaraan BFAC 2026 turut didukung strategi publikasi kreatif melalui desain poster, konten media sosial, hingga promosi melalui kanal berita FIB UB dan media eksternal. Dokumentasi kegiatan juga disiapkan dalam bentuk video dan konten media sosial guna memperluas jangkauan publikasi sekaligus menampilkan dinamika kreativitas peserta selama kompetisi berlangsung.
Baca Juga:
Alumni UB Sayangkan Nama FMIPA Diganti FSTeM: Khawatir Bingung dan Salah Kaprah“Melalui kegiatan ini, FIB UB kembali menegaskan posisinya sebagai ruang pengembangan seni dan budaya yang terbuka terhadap kreativitas generasi muda. BFAC 2026 bukan sekadar perlombaan, melainkan upaya membangun ekosistem seni rupa yang inklusif, inovatif, dan relevan dengan perkembangan zaman,” ungkap Sahiruddin.
Ia berharap BFAC dapat terus menjadi panggung lahirnya talenta-talenta muda yang mampu membawa perkembangan seni rupa Indonesia ke tingkat yang lebih luas, baik nasional maupun internasional.(*0