KETIK, BLITAR – Akses penting di Kota Blitar kembali menjadi sorotan. Jembatan di Jalan C.R Soekandar (Gotong Royong), Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, hingga kini masih ditutup total dan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan, meski kondisinya sudah lama mengalami kerusakan.

Jembatan tersebut memiliki peran strategis sebagai jalur alternatif sekaligus akses utama menuju sejumlah fasilitas pendidikan, seperti SMK Telkom Brawijaya Kampus IV dan Kampus Putra Sang Fajar melalui Jalan Dr Sutomo. Penutupan ini membuat aktivitas warga dan pelajar terganggu.

Warga sekitar mengaku harus memutar cukup jauh untuk beraktivitas sehari-hari. Kondisi ini juga berdampak pada kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar lokasi.

“Warga juga bayar pajak, tapi fasilitas seperti ini tidak segera diperbaiki. Sudah lama ditutup tanpa kejelasan, gimana sih pemerintah kok lamban,” ujar salah satu warga Bendogerit.

Keluhan serupa datang dari kalangan pelajar yang setiap hari melintasi jalur tersebut. Mereka mengaku sering terlambat karena harus mencari jalur alternatif.

Baca Juga:
Kota Kediri dan Blitar Diperkirakan Berawan di Hari Buruh ini

“Saya jadi sering telat karena harus muter dulu ke sekolah,” kata salah satu siswa.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi jembatan memang sudah tidak layak dilalui. Keretakan pada bagian penyangga serta potensi longsor akibat terkikis air hujan membuatnya berbahaya bagi pengguna jalan. Penutupan pun dilakukan sebagai langkah antisipasi keselamatan.

Namun demikian, hingga kini belum ada kepastian terkait waktu perbaikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan dari masyarakat terkait penanganan infrastruktur tersebut.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Blitar, Erna Santi, menjelaskan bahwa kerusakan terjadi secara bertahap akibat curah hujan tinggi.

Baca Juga:
KA Dhoho Tabrak Truk Mogok di Perlintasan Imam Bonjol Kota Blitar, Perjalanan Sempat Tersendat

“Longsor itu terjadi sedikit demi sedikit saat beberapa kali hujan lebat,” ujarnya.

Terkait belum dimulainya perbaikan, pihaknya menyebut anggaran masih dalam proses pengusulan.

“Iya, karena anggaran masih diusulkan,” tambahnya.

Sebagai perbandingan, penanganan jembatan rusak di wilayah Kabupaten Blitar dilakukan dengan skema berbeda. Jembatan di Desa Bangle, Kecamatan Kanigoro, yang sebelumnya mengalami kerusakan parah, dapat diselesaikan dalam waktu 42 hari.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Kabupaten Blitar, Hamdan Zulfikri Kurniawan, menyampaikan bahwa percepatan pembangunan dilakukan dengan memanfaatkan dana darurat.

“Karena jembatan tersebut menopang jalur transportasi ekonomi masyarakat, digunakan dana darurat. Kalau menunggu dana usulan, prosesnya akan lebih lama,” jelasnya.

Hingga saat ini, masyarakat Kota Blitar masih menunggu kepastian perbaikan jembatan Gotong Royong agar akses transportasi dan aktivitas sehari-hari dapat kembali normal. (*)