KETIK, MALANG – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Malang (Polinema) menggelar Kenduri Kebudayaan 2026 sebagai wadah untuk memperkenalkan keberagaman agama dan budaya sekaligus menanamkan nilai toleransi serta moderasi beragama kepada mahasiswa baru.

Kegiatan tahunan tersebut berlangsung di Graha Politeknik Negeri Malang (Grapol), Minggu, 27 September 2026, dengan seluruh mahasiswa baru Polinema tahun akademik 2026 menjadi sasaran utama.

Kenduri Kebudayaan digelar dengan mempertimbangkan keberagaman latar belakang mahasiswa baru, baik dari sisi agama, budaya, maupun daerah asal. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diajak memahami perbedaan sebagai bagian dari kehidupan kampus sekaligus membangun sikap terbuka untuk mencegah potensi intoleransi.

Rangkaian acara diawali penampilan seni tari dari UKM Seni Theatrisic, kemudian dilanjutkan dengan sambutan resmi. Memasuki acara inti, panitia menghadirkan talkshow interaktif lintas agama dengan narasumber dari lima agama di Indonesia, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.

Diskusi membahas keberagaman, toleransi, moderasi beragama, serta berbagai isu kontekstual yang dekat dengan kehidupan mahasiswa di lingkungan perkuliahan.

Baca Juga:
BEM Polinema Gelar Expo Gemilang Prestasi 2026, Dorong Mahasiswa Baru Berprestasi dan Berkarya

Agar peserta terlibat aktif, kegiatan juga dilengkapi diskusi dua arah dan kuis berbasis kasus. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan games interaktif, refleksi bersama, dan pengisian evaluasi kegiatan.

Mahasiswa baru Polinema mengikuti Kenduri Kebudayaan 2026 di Graha Politeknik Negeri Malang (Grapol), Minggu, 27 September 2026. (Foto: BEM Polinema)

Menteri Agama BEM Polinema sekaligus panitia acara, Finxa Yoja Olivia, mengatakan konsep Kenduri Kebudayaan tahun ini sengaja dibuat lebih interaktif dan relevan dengan kehidupan mahasiswa baru.

“Kenduri Kebudayaan tahun ini kami coba kemas dengan konsep yang lebih interaktif dan dekat dengan mahasiswa baru. Tidak hanya menghadirkan pemuka dari lima agama untuk menyampaikan materi mengenai keberagaman, toleransi, dan moderasi beragama, tetapi kami juga menghadirkan isu-isu yang dekat dengan kehidupan mahasiswa sehingga pembahasannya tidak hanya bersifat satu arah,” ujar Finxa.

Baca Juga:
BEM Polinema Bekali Mahasiswa Baru Lewat Agenda Manajerial Diri 2026

Menurutnya, panitia juga memberikan ruang kepada mahasiswa baru untuk berkonsultasi dan bertukar pikiran secara langsung dengan para tokoh agama yang hadir.

“Mahasiswa baru diberikan ruang untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, serta menceritakan permasalahan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang berkaitan dengan agama dan keberagaman. Mereka juga dapat secara langsung meminta pandangan maupun solusi dari para narasumber berdasarkan pengalaman dan pemahaman masing-masing,” jelasnya.

Melalui Kenduri Kebudayaan 2026, BEM Polinema berharap nilai toleransi dan keterbukaan dapat diterapkan mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus.

“Harapannya, melalui Kenduri Kebudayaan ini mahasiswa tidak hanya datang untuk mendengarkan materi, tetapi juga mendapatkan ruang untuk memahami dan membicarakan hal-hal yang mungkin selama ini mereka alami. Kami ingin mahasiswa baru merasa bahwa perbedaan agama dan latar belakang bukan sesuatu yang perlu dijadikan batas untuk saling berinteraksi. Justru melalui diskusi dan keterbukaan, mahasiswa dapat belajar bagaimana menyikapi perbedaan dengan lebih bijak dan tetap menjaga toleransi. Semoga kegiatan ini dapat menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk membangun sikap saling menghargai, menjaga kerukunan, dan menciptakan lingkungan Polinema yang inklusif bagi seluruh umat beragama,” pungkas Finxa.