KETIK, JAKARTA – Jenazah pria yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu yang masuk Samudera Hindia pada pertengahan September 2026 lalu, dipastikan merupakan jenazah ABK kapal Arupadhatu I. Kapal tersebut hilang kontak lima hari sebelumnya, saat membawa lima jurnalis yang hendak melakukan peliputan Anak Gunung Krakatau di Selat Sunda.
Penemuan tersebut menimbulkan keterkejutan banyak masyarakat. Mengingat jauhnya jarak antara titik awal dilaporkannya kapal hilang, yakni di Selat Sunda, dengan titik penemuan di Pulau Enggano. Meski demikian, korban lain hingga kini belum ditemukan.
Pakar Oseanografi IPB University Prof Agus Saleh Atmadipoera menganalisis pergerakan kapal dan jasad korban yang terbawa arus laut dari kawasan Selat Sunda menuju perairan Pulau Enggano.
Menurut Agus, kapal yang mengalami masalah dan tidak lagi menggunakan mesin akan bergerak mengikuti kondisi perairan di sekitarnya. Gelombang, angin, dan arus laut menjadi faktor alam yang menentukan arah serta jarak pergerakan objek terapung.
“Kapal itu dianggap mesinnya mati, jadi objek yang terapung. Posisi terakhir pasti tidak fixed karena terbawa arus,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu, 7 Oktober 2026.
Baca Juga:
Posisi Kapal di Selat Sunda Bisa Tentukan Arah Pergerakannya, Ini Penjelasan Pakar OseanografiAgus menjelaskan, pemodelan dinamika laut pada September menunjukkan adanya arus kuat yang bergerak ke arah barat laut menuju perairan Enggano.
“Begitu keluar Selat Sunda, arus sedang kencang-kencangnya dari arah timur, tertarik sampai ke Enggano. Tanggal 7 sampai 12 itu perkiraannya kapal sudah terbawa arus ke Enggano,” terangnya.
Berdasarkan pemodelan tersebut, objek terapung diperkirakan mulai memasuki kawasan Samudra Hindia sekitar dua hari setelah bergerak dari perairan sekitar Krakatau.
Penemuan jenazah korban pada hari ke-12 turut menjadi temuan yang memperkuat dugaan mengenai lintasan objek yang terbawa arus menuju kawasan perairan tersebut.
Baca Juga:
Pulau Sebesi Terdeksi Jadi Lokasi Terakhir Lima Jurnalis Sebelum Hilang di Sekitar Gunung Anak KrakatauAgus menilai kondisi itu menunjukkan bahwa posisi terakhir kapal tidak dapat dijadikan satu-satunya patokan dalam menentukan lokasi pencarian. Setelah kapal kehilangan daya gerak, dinamika laut dapat membuat objek bergeser jauh dari titik terakhir keberadaannya.
Karena itu, pola arus menjadi salah satu informasi penting untuk memperkirakan ke mana objek dapat bergerak setelah keluar dari kawasan Selat Sunda.
Analisis tersebut juga dapat membantu tim pencarian memahami kemungkinan lintasan kapal maupun jasad korban. Dengan memperhitungkan arah arus pada periode tertentu, wilayah pencarian dapat disesuaikan dengan kemungkinan pergerakan objek di laut.
Selain arus, kondisi gelombang dan angin tetap perlu diperhitungkan karena ketiganya dapat memengaruhi pergerakan objek terapung.
Untuk mempersempit wilayah pencarian, pola pergerakan tersebut selanjutnya dapat dikombinasikan dengan pemodelan area pencarian dan teknologi pemantauan lainnya.
Prof Agus sebelumnya juga menyampaikan adanya fasilitas pemetaan satelit yang dapat digunakan untuk membantu mendeteksi keberadaan kapal di sekitar Selat Sunda dan kawasan Krakatau.
Pendekatan tersebut membuka peluang untuk menggabungkan analisis oseanografi dengan pemantauan dari udara sehingga pencarian kapal maupun korban dapat dilakukan berdasarkan data pergerakan laut dan kondisi lapangan. (*)