KETIK, BREBES – Indonesia saat ini tengah berada di puncak bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif yang mendominasi. Di sisi lain, lonjakan generasi Z (Gen Z) yang mulai memasuki dunia kerja massal dihadapkan pada realitas pasar kerja yang muram akibat gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai sektor industri.

Merespons tantangan besar menuju Indonesia Emas 2045 tersebut, Forum 2045 menggelar Dialog Kebangsaan virtual bertajuk "Bonus Demografi, PHK, dan Masa Depan Kerja Gen Z" pada Rabu , 28 Oktober 2026 malam.

Diskusi ini mempertemukan perspektif akademisi, gerakan pekerja, dan peneliti untuk membedah tantangan ketenagakerjaan anak muda secara kritis.

Akademisi Universitas Harkat Negeri Tegal, Azmi Asmuni Majid, selaku pemateri mengungkapkan data yang kontradiktif antara penurunan pengangguran nasional dan lonjakan pengangguran di kalangan usia muda.

"Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional pada Mei 2026 memang tercatat 4,65 persen, terendah sejak 1994. Namun TPT kelompok usia 15–24 tahun justru naik menjadi 17,37 persen dari sebelumnya 16,36 persen pada Februari 2026," ungkap Azmi kepada media, Rabu, 28 Oktober 2026.

Lebih lanjut, Azmi memaparkan potret buram ketenagakerjaan per Februari 2026, diantaranya:

  • Dominasi Sektor Informal: Pekerja formal hanya mencakup 40,58 persen dari total penduduk bekerja, artinya mayoritas anak muda terlempar ke sektor informal.
  • Tingginya Setengah Pengangguran: Jumlah pekerja setengah pengangguran di Indonesia menyentuh angka 10,73 juta orang.
  • Fenomena Skill Mismatch: TPT tertinggi justru disumbang oleh lulusan berpendidikan tinggi (Diploma IV hingga S3) yang mencapai 6,09 persen. Hal ini mengindikasikan ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri.

Ketidakpastian kerja ini dinilai tidak hanya berdampak pada angka statistik, melainkan juga mengganggu kesehatan mental anak muda serta merusak kemampuan mereka dalam merencanakan masa depan, mulai dari melanjutkan pendidikan, membangun keluarga, hingga membeli rumah.

Dipandu oleh Moderator Ardinar Paramandana (Serikat Pekerja Mahasiswa) dan dibuka oleh Host Wahid Nur Kartiko (Researcher Forum 2045), jalannya diskusi yang juga menghadirkan Ketua Umum F-Semesta Faisal Makruf ini berfokus pada tiga rumusan masalah utama:

1. Potensi Bom Waktu: Mengukur seberapa nyata ancaman bonus demografi berubah menjadi bencana sosial akibat badai PHK di industri tekstil, manufaktur, hingga ekonomi digital.

2. Akar Masalah Struktural: Membedah penyebab sulitnya Gen Z mendapat pekerjaan layak, mulai dari pergeseran tren industri, lemahnya perlindungan pekerja gig (informal), hingga skill mismatch.

Baca Juga:
Dorong Mahasiswa Kritis, UIN Malang Gelar Dialog Kebangsaan Bersama Tiyo Ardianto

3. Solusi Kolaboratif: Merumuskan langkah konkret yang harus diambil oleh pemerintah, dunia usaha, institusi pendidikan, dan organisasi pekerja agar hak atas pekerjaan layak bagi Gen Z dapat terpenuhi.

Melalui dialog ini, Forum 2045 menegaskan komitmennya untuk mengawal suara generasi muda agar didengar oleh para pembuat kebijakan.

"Harapannya, bonus demografi ini dapat dikelola secara kolektif menjadi modal kemajuan bangsa, bukan justru menjadi bom waktu yang memicu pengangguran massal dan memperlebar jurang ketimpangan," pungkas Azmi.(*)

Baca Juga:
Dialog Kebangsaan Hadirkan Ning Inayah Wahid, Ngatawi Al-Zastrouw, dan KM Faizi di Pesantren Annuqayah