KETIK, BONDOWOSO – Sekarputih mendadak menjadi panggung besar kebudayaan masyarakat Bondowoso. Tradisi Ancak Agung Kironggo kembali digelar meriah di Kelurahan Sekarputih, Kecamatan Tegalampel, dengan melibatkan sedikitnya 42 kelompok masyarakat.

Pawai budaya yang dimulai dari Kantor Kelurahan Sekarputih menuju kawasan Makam Kironggo itu dipadati ribuan warga. Beragam kreasi ditampilkan dalam arak-arakan, mulai dari hasil bumi, ornamen tradisional, hingga sajian bernuansa religi dan budaya.

Bukan sekadar pesta rakyat, Ancak Agung tahun ini memiliki makna lebih luas karena dirangkai dengan tiga momentum penting sekaligus, yakni Maulid Nabi Muhammad SAW, HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, serta Hari Jadi Bondowoso (HJB) ke-207.

Perpaduan tiga momentum tersebut menjadikan pawai tidak hanya sarat nuansa budaya, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan nilai religiusitas, nasionalisme, dan kecintaan terhadap daerah.

Camat Tegalampel Rifky Hariadi menilai Ancak Agung Kironggo memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Tradisi tersebut, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai agenda tahunan tanpa memahami nilai yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga:
Ribuan Langkah, Satu Semangat: Bondowoso Night Run 2026 Gebrak Harjabo ke-207

“Ancak Agung memiliki nilai yang sangat penting karena tidak hanya melestarikan tradisi leluhur, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan dan kebersamaan masyarakat,” kata Rifky. Sabtu malam (29/08/2026)

Menurutnya, keberadaan tradisi lokal juga menjadi sarana pendidikan budaya bagi generasi muda. Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan, generasi penerus dapat mengenal sejarah, budaya, sekaligus nilai-nilai yang membentuk identitas masyarakat Bondowoso.

Rifky menegaskan, tiga momentum yang dirangkai dalam satu kegiatan memiliki pesan yang saling menguatkan.

“Semangat yang ingin dibangun adalah rasa syukur kepada Allah SWT, kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta kecintaan terhadap daerah dan bangsa. Nilai-nilai ini perlu terus diwariskan agar tidak tergerus perkembangan zaman,” ujarnya.

Baca Juga:
Dari Ki Bagus Asra hingga Ijen Geopark, Bondowoso Teguhkan Jati Diri di HARJABO ke-207

Salah satu daya tarik utama Ancak Agung adalah keberadaan hasil bumi yang dibawa dalam arak-arakan. Bagi masyarakat, hasil bumi tersebut bukan sekadar ornamen untuk mempercantik pawai.

Hasil bumi menjadi simbol rasa syukur atas rezeki dan keberkahan yang diterima masyarakat. Setelah diarak, hasil bumi tersebut kemudian dibagikan kepada warga sebagai bentuk berbagi dan memperkuat solidaritas sosial.

Tradisi tersebut menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi medium untuk menerjemahkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan masyarakat.

Rifky berharap Ancak Agung tidak berhenti pada kemeriahan pawai. Lebih dari itu, tradisi tersebut harus menjadi ruang untuk memperkuat persatuan, kepedulian, gotong royong, dan pendidikan karakter bagi generasi muda.

“Kami berharap Ancak Agung Kironggo tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi benar-benar menjadi media untuk memperkuat persatuan masyarakat, menjaga tradisi, dan menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada generasi muda,” tuturnya.

Sementara itu, Lurah Sekarputih Rizal Hidayat mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan Ancak Agung Kironggo. Keterlibatan 42 kelompok, menurutnya, menjadi bukti bahwa tradisi tersebut masih memiliki tempat kuat di hati masyarakat.

“Alhamdulillah, pelaksanaan Ancak Agung tahun ini mendapat antusiasme yang luar biasa dari masyarakat. Ada 42 kelompok yang ikut berpartisipasi dan semuanya membawa kreativitas masing-masing. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Sekarputih memiliki semangat kebersamaan yang sangat kuat,” kata Rizal.

Ia menegaskan, Ancak Agung tidak boleh dipandang hanya sebagai pawai atau hiburan rakyat. Di dalamnya terdapat nilai syukur, doa, silaturahmi, gotong royong, serta kepedulian terhadap sesama.

“Ancak Agung ini bukan sekadar pawai atau tontonan. Di dalamnya ada nilai syukur, doa, silaturahmi, gotong royong, dan berbagi. Nilai-nilai inilah yang harus kita jaga dan diwariskan kepada anak-anak kita,” tegasnya.

Menurut Rizal, perpaduan Maulid Nabi, HUT Kemerdekaan RI, dan Hari Jadi Bondowoso juga memberikan pesan yang kuat kepada masyarakat.

“Maulid mengajarkan kita untuk mencintai Rasulullah SAW, kemerdekaan mengingatkan kita pada perjuangan para pahlawan, sedangkan Hari Jadi Bondowoso mengajak kita mencintai daerah dan menjaga warisan para leluhur. Ketiganya bertemu dalam satu semangat, yaitu kebersamaan,” ungkapnya.

Rizal berharap generasi muda tidak hanya hadir sebagai penonton. Mereka harus diberi ruang untuk menjadi bagian dari pelestarian budaya.

“Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari pelaku budaya. Kalau anak-anak muda sudah mencintai tradisinya, insyaallah Ancak Agung akan terus hidup dan menjadi identitas masyarakat Sekarputih,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat menjaga keamanan, ketertiban, dan kebersihan selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, keberhasilan Ancak Agung bukan hanya diukur dari meriahnya pawai, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga lingkungan dan kebersamaan.

“Terima kasih kepada seluruh masyarakat, panitia, peserta, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta semua pihak yang telah bergotong royong menyukseskan kegiatan ini. Semoga Ancak Agung Kironggo membawa keberkahan, mempererat persaudaraan, dan menjadi kebanggaan masyarakat Sekarputih,” pungkas Rizal.

Meriahnya Ancak Agung Kironggo menjadi bukti bahwa tradisi leluhur masih mampu menjadi magnet kebersamaan di tengah masyarakat modern.

Di Sekarputih, agama, nasionalisme, dan budaya tidak berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya bertemu dalam satu arak-arakan, dibawa bersama hasil bumi, doa, kreativitas, dan semangat gotong royong.

Ancak Agung Kironggo akhirnya bukan hanya tentang apa yang diarak menuju Makam Kironggo, tetapi tentang nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya: bahwa menjaga budaya berarti menjaga identitas, dan menjaga kebersamaan berarti menjaga kekuatan masyarakat. (*)