KETIK, SURABAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur baru saja melaporkan perkembangan terbaru mengenai kondisi tenaga kerja. Berdasarkan laporannya, pengangguran didominasi lulusan sarjana.

Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Jawa Timur, Nurul Adriana mengatakan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Timur per Februari 2026 berada di angka 3,55 persen.

"Angka itu mengalami penurunan 0,06 persen secara Year on Year (YoY). TPT Jawa Timur pada Februari 2025 tercatat sebesar 3,61 persen," katanya dalam keterangan resmi pada Kamis, 7 Mei 2026.

Lebih lanjut, saat ini tingkat pengangguran dari lulusan sarjana sebesar 6,04 persen hingga Februari 2026. TPT itu berasal dari lulusan D-IV dan Strata I.

Sebelumnya, pengangguran disumbang dari lulusan SMA/SMK. Saat ini lulusan dari jenjang itu mengalami peningkatan, SMA sebanyak 5,75 persen dan SMK sebesar 5,73 persen.

Baca Juga:
Kantor SAR Surabaya Gembleng 41 Rescuer lewat Pelatihan Medical First Responder Selama Tiga Pekan

"TPT masih didominasi oleh pendidikan tinggi yaitu D-IV ke atas kemudian SMA dan juga SMK," lanjutnya.

Sementara itu untuk tingkat pengangguran lulusan SMP berasa di angka 3,75 persen. Disusul lulusan Diploma I hingga III sebesar 1,91 persen dan lulusan SD ke bawah sebesar 1,32 persen.

Lebih lanjut, Nurul menjelaskan, TPT di wilayah perkotaan dan perdesaan berbeda. Di perkotaan, tingkat TPT mencapai 4,09 persen, sedangkan di pedesaan sebanyak 2,68 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun angka pengangguran di Jawa Timur mengalami penurunan, tantangan baru muncul dari meningkatnya jumlah pengangguran terdidik.

Baca Juga:
Persebaya Waspadai Kendal Tornado FC, Bernardo Tavares Ingatkan Pemain Tak Meremehkan Lawan

Hal ini menjadi sinyal adanya ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja, yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

Secara keseluruhan, jumlah angkatan kerja di Jawa Timur pada Februari 2026 mencapai 25,14 juta orang. Rinciannya, sebanyak 24,25 juta orang merupakan penduduk yang bekerja, sedangkan 892,64 ribu orang masih menganggur. (*)