KETIK, MALANG – Akademisi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Ahmad Izzuddin, M.HI., memaknai Hari Raya Iduladha sebagai momen untuk kembali kepada resiliensi keluarga dengan keluar dari zona nyaman dan bersama-sama mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Momentum Hari Raya Iduladha bukan hanya sekadar perayaan lebaran dengan beragam tradisi penyembelihan hewan. Namun, hari besar Islam ini memiliki makna lebih dalam mengenai nilai keikhlasan dan pengorbanan.
Dalam hal ini, akademisi UIN Malang, Ahmad Izzuddin selaku Direktur Ma'had Sunan Ampel Al-Aly sekaligus dosen Fakultas Syariah Program Studi Hukum Keluarga Islam memaknai Hari Raya Iduladha sebagai momentum bagi semua keluarga untuk kembali bersama.
Menurutnya, puncak Hari Raya Iduladha adalah pengorbanan. Ia menggambarkan pengorbanan seperti seorang anak yang ikhlas menaati orang tuanya, serta seorang ayah yang selalu mengabdi dan mengajak anaknya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
"Menurut saya, memaknai Iduladha pada masa-masa sekarang adalah kembali kepada resiliensi keluarga. Jadi, ketahanan keluarga yang terdiri dari seorang ayah, seorang ibu, dan anak. Kalau trisula ini kuat, maka fondasi keluarga akan sangat kokoh dan masyarakat juga akan menjadi kuat karena bangunan terkecil dari struktur masyarakat adalah keluarga,"
Baca Juga:
Tak Terlihat Tiga Hari, Mahasiswa Ditemukan Meninggal Dalam Kamar KosDi era kemajuan teknologi, terkadang orang tua dan anak jarang terlihat dalam satu frame. Karena itu, dimensi spiritual dapat menyatukan keduanya, di mana orang tua turut hadir dalam proses mendekatkan diri kepada Tuhan.
Puncak dari Iduladha adalah pengorbanan, yang secara lebih mendalam tidak hanya sekadar mengorbankan harta untuk mengabdi kepada Tuhan, namun juga pengorbanan yang dapat ditemukan dalam keseharian.
Izzuddin menyampaikan bahwa nilai pengorbanan lebih mendalam lagi, seperti ketika seorang ayah harus terus bekerja demi menghidupi anak dan keluarganya. Begitu pula seorang ibu yang rela bangun pagi demi menyiapkan dan merawat anak, kemudian sang anak yang dengan ikhlas melaksanakan keinginan orang tua untuk sekolah.
"Tapi runtutannya mulai dari bagaimana perjuangan seorang ibu, bagaimana perjuangan seorang anak, keikhlasan anak yang senantiasa taat kepada orang tuanya, dan juga keikhlasan seorang ayah untuk betul-betul mengabdi kepada Tuhan. Itu makna sebenarnya yang patut untuk kita renungkan pada saat ini," ujar Izzuddin.
Baca Juga:
Tren Kurban 2026 di Kota Malang: Sapi Lebih Diminati Ketimbang KambingSemua pengorbanan tersebut telah menjadi kewajiban di dunia yang nantinya membawa keluarga untuk bisa semakin dekat dengan Tuhan. Tak hanya itu, nilai pengorbanan tersebut juga berkaca pada kisah Nabi Ibrahim yang harus mengorbankan Nabi Ismail untuk mengabdikan diri kepada Tuhan.
Dalam hal ini, Izzuddin menegaskan bahwa semua pengorbanan yang telah dilakukan di dunia, dari zaman dahulu hingga sekarang, masih sangat relevan. Semua yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan tentunya mengorbankan titik-titik nyaman di dunia.
Pada momen Iduladha 2026, Izzuddin berharap agar seluruh umat Islam bisa merefleksikan diri bersama dalam mengorbankan titik nyaman yang benar-benar berlandaskan pada nilai spiritualitas.
Tentunya, dengan berlandaskan nilai spiritualitas, seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, mampu mengorbankan suatu hal yang terasa nyaman untuk dapat lebih dekat dengan Sang Pencipta.
"Mudah-mudahan momentum ini menjadi momentum refleksi kita bersama, baik pada tingkat yang paling rendah di level masyarakat sampai pada level yang tertinggi. Bagaimana kita ini ketika melakukan aktivitas, mengorbankan titik nyaman dalam hidup harus betul-betul dilandaskan pada nilai-nilai spiritualitas, bukan sekadar pencapaian materi," tutur Izzuddin penuh harapan.
"Karena kalau semua aktivitas kita tujuannya adalah materi, itu akan sangat jauh dari makna pengorbanan itu sendiri dan menjadikan kita orang-orang yang palsu," imbuhnya.
Ia juga berpesan kepada generasi muda untuk bisa meninggalkan zona nyaman dan berkomitmen berbuat baik bagi masyarakat hingga negara serta menjadi pemuda yang berkontribusi nyata dalam kemajuan Negara Republik Indonesia.
"Pesan saya untuk para anak muda, dalam kehidupan saat ini yang begitu memberi ruang bagi generasi muda untuk menjadi orang-orang yang nyaman dengan kehidupannya sendiri, keluarlah dari zona nyaman itu. Berbuatlah untuk masyarakat, untuk negeri kita, sehingga Anda betul-betul menjadi pemuda yang memiliki sumbangsih bagi kemajuan Indonesia Emas di masa akan datang," pesan Direktur Ma'had Sunan Ampel Al-Aly UIN Malang tersebut. (*)