KETIK, MALANG – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang meluas hingga 8 hektar old sanitary landfill. Tambahan alat pemadam pun dikerahkan untuk dalat menjangkau medan sulit. 

Pasalnya nyala api yang masuk hingga ke dalam timbunan sampah menjadi kendala utama bagi petugas. Bahkan ditemukan bara api yang ditemukan di celah-celah tumpukan sampah sehingga pemadaman harus dilakukan dengan injeksi. 

Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin menjelaskan upaya percepatan dilakukan dengan menambah kekuatan alat pemadam hingga 2-3 kali lipat. Melalui penambahan alat, proses pemadaman yang sebelumnya menjangkau sekitar 200 meter dalam 2 jam ditargetkan meningkat menjadi 400-600 meter. 

Berdasarkan hasil rapat koordinasi, dibutuhkan 16 unit armada supply air dan 8 alat injek atau pemukul api untuk percepatan pemadaman api. 

"Ini untuk mempercepat area-area itu sehingga api yang belum tersentuh di titik yang susah itu bisa ditangani," ujar Ali, Kamis 22 Oktober 2026.

Baca Juga:
Asap Masih Mengepul di TPA Supit Urang, Puskesmas Mulyorejo Buka Layanan Pengobatan Gratis

Area kebakaran seluas 8 hektar tersebut berada di lahan old sanitary landfill seluas 32 hektare. Sebelumnya terdapat sekitar 1 hektar lahan yang terbakar pada 21 Oktober 2026 silam. Petugas pemadam hingga kini, sekitar pukul 13.00 WIB masih berusaha memadamkan api. 

"Semua alat sudah kita upayakan untuk kita hadirkan, baik milik kita sendiri, Kabupaten Malang, Kota Batu, Polresta, Dandim, kemudian Rindam, dan swasta. Kemudian tandon air, pengambilan air sudah kita hitung di mana titik pengambilan sehingga tidak terputus dalam pemadaman," jelasnya. 

Ali menjelaskan, kondisi alam menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman kebakaran di TPA Supit Urang. Kontur lahan yang tinggi menyulitkan akses peralatan pemadam, ditambah suhu panas ekstrem dan angin kencang turut mempercepat perambatan api.

"Untuk anginnya juga kencang sehingga agak kesusahan. Kemarin dari titik api yang dari seberang itu enggak sampai 3 jam sudah sangat luar biasa karena ada rumput kering dan angin yang sangat kencang sehingga cepat," tuturnya. 

Baca Juga:
Terdampak Asap Karhutla dan TPA Supit Urang, Dinkes Kota Batu Imbau Warga Rentan Pakai Masker

Pada tahun 2022 TPA Supit Urang juga sempat mengalami kebakaran. Berkaca dari peristiwa tersebut, proses pemadaman api menghaniskan waktu hingga 2 bulan. 

Dengan tambahan bantuan dan peralatan yang memadai, diharapkan proses berjalan lebih cepat. Kendati demikian Ali tak dapat memastikan kapan api dapat segera padam.

"Kalau belajar dari tahun yang lalu kan cuma alat yang dimiliki Pemkot, membutuhkan waktu hampir 2 minggu. Kita upayakan lebih cepat karena ada 3 kali lipat alat yang bisa kita datangkan pada hari ini dan berupaya untuk memadamkan lebih cepat," tuturnya. (*)