KETIK, BONDOWOSO – Nahdlatul Ulama (NU) Bondowoso memasuki babak baru. Sebanyak 46 pengurus Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bondowoso periode 2026–2031 resmi dilantik di Pondok Pesantren Darul Falah, Desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Pelantikan tersebut menjadi momentum penting bagi konsolidasi organisasi di tengah tuntutan NU untuk semakin responsif terhadap persoalan masyarakat.

Prosesi pelantikan disaksikan langsung Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Wakil Ketua PBNU Amin Said Husni, Wakil Bupati Bondowoso As'ad Yahya Syafi'i, Kapolres Bondowoso, serta Ketua DPRD Bondowoso H. Ahmad Dafir.

Puluhan pengurus yang dilantik berasal dari berbagai latar belakang. Mereka akan menjalankan roda organisasi di bawah kepemimpinan Ketua Tanfidziyah Dr. H. Moh. Syaeful Bahar dan Rais Syuriah KH Abdul Qadir Syam.

Kehadiran langsung pimpinan PBNU menjadi sinyal kuat bahwa PCNU Bondowoso diharapkan tidak sekadar menjalankan rutinitas organisasi, tetapi mampu memperluas kiprah dan memperkuat konsolidasi di tengah masyarakat.

Baca Juga:
Penilaian UNESCO Tuntas, Bondowoso Siap Pertahankan Mahkota Ijen Geopark

Gus Yahya bahkan menyatakan optimismenya terhadap kepengurusan baru tersebut. Menurutnya, jajaran PCNU Bondowoso diisi figur yang telah memiliki rekam jejak pengabdian sekaligus kapasitas dalam mengelola organisasi.

“Saya optimis PCNU Bondowoso,” tegas Gus Yahya.

Ia berpesan agar kepengurusan baru mampu menjalankan apa yang disebutnya sebagai konsolidasi semesta. Konsep tersebut diarahkan pada upaya menyambungkan berbagai elemen masyarakat agar dapat saling menguatkan dan bekerja bersama dalam mewujudkan kepedulian serta cita-cita bersama.

Pesan tersebut sejalan dengan tantangan PCNU Bondowoso ke depan yang tidak hanya berkutat pada urusan internal organisasi, tetapi juga menyentuh langsung berbagai persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.

Baca Juga:
Dari Curahdami untuk Jawa Timur, Kader Posyandu Bondowoso Raih Predikat Terbaik II

Ketua PCNU Bondowoso Dr. H. Moh. Syaeful Bahar menegaskan, program kerja lima tahun ke depan tetap akan berpijak pada nilai-nilai dan tradisi perjuangan para kiai. Namun, implementasinya harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat Bondowoso.

Menurutnya, NU memiliki modal organisasi yang besar melalui berbagai lembaga yang bergerak di sektor pendidikan, sosial kemasyarakatan hingga kebencanaan. Potensi tersebut, kata dia, harus dikelola secara terarah dengan program yang memiliki target jelas.

“Yang terpenting hari ini saya kira penguatan di internal,” ujar Syaeful Bahar.

Memasuki abad kedua perjalanan NU, ia menilai program organisasi tidak bisa lagi disusun secara sporadis. Setiap agenda harus memiliki skala prioritas serta target yang realistis agar keberadaan NU benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat.

Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah pemberdayaan ekonomi warga. Syaeful Bahar melihat Bondowoso memiliki potensi ekonomi yang besar, namun masih membutuhkan penguatan melalui program pemberdayaan dan kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pemerintah daerah.

“Karena ngurus warga NU itu sama dengan ngurus warga Bondowoso,” tegasnya.

Dukungan terhadap penguatan sinergi tersebut juga datang dari Ketua DPRD Bondowoso H. Ahmad Dafir. Ia mendorong agar hubungan antara NU dan pemerintah daerah semakin diperkuat untuk menopang pembangunan Bondowoso.

Menurut Ahmad Dafir, kontribusi NU tidak hanya dibutuhkan dalam pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia serta penguatan kemaslahatan masyarakat.

“NU bukan hanya organisasi kemasyarakatan, tetapi juga organisasi kesejarahan yang punya andil besar dalam lahirnya NKRI,” kata Ahmad Dafir bersama Wakil Bupati Bondowoso As'ad Yahya Syafi'i.

Ia berharap sinergi antara NU dan pemerintah daerah terus diperluas dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama maupun ras.

Pelantikan tersebut berlangsung semarak dengan dihadiri sekitar 1.200 warga jam'iyah NU dari berbagai wilayah di Bondowoso.

Dengan kepengurusan baru periode 2026–2031, PCNU Bondowoso kini dihadapkan pada pekerjaan besar: memperkuat organisasi dari dalam, menerjemahkan nilai perjuangan para kiai ke dalam program nyata, sekaligus memastikan keberadaan NU semakin terasa dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Bondowoso.(*)