KETIK, BATU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mencatat sebanyak 340 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) hingga Agustus 2026. Data tersebut menunjukkan gangguan jiwa tidak hanya ditemukan pada kelompok usia dewasa dan lanjut usia, tetapi juga telah dialami remaja.

Kepala Bidang Pencegahan, Penanggulangan Penyakit, dan Penyelamatan (P2P) Dinkes Kota Batu, dr. Icang Sarrazin, mengatakan ODGJ yang tercatat berada dalam rentang usia 15 hingga 59 tahun.

“Di Kota Batu tercatat pada tahun 2026 per Agustus lalu ada sebanyak 340 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ),” ujarnya, Kamis, 24 Seotember 2026.

Menurut dr Icang, kondisi tersebut umumnya berkaitan dengan stres berat yang berlangsung dalam waktu panjang. Keadaan itu dapat semakin berat ketika seseorang menghadapi persoalan di lingkungan sosialnya.

“Pemicunya biasanya karena stres berat yang berkepanjangan. Kemudian kondisi diperparah oleh faktor lingkungan sosial,” katanya.

Baca Juga:
Genjot PAD, Pemkot Batu Siap Optimalkan Sektor Pariwisata, UMKM, dan Aset Daerah

Faktor sosial yang dimaksud meliputi berbagai persoalan yang dihadapi seseorang, mulai dari masalah keluarga, tekanan ekonomi hingga trauma yang pernah dialami. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan jiwa dengan jenis yang paling dominan adalah skizofrenia.

“Faktor lingkungan sosial yang menjadi pemicu ODGJ juga beragam, mulai dari masalah keluarga, tekanan ekonomi hingga adanya trauma masa lalu,” tuturnya.

Skizofrenia merupakan gangguan mental berat dan kronis yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, serta berperilaku. Penderita juga dapat mengalami kesulitan dalam membedakan kenyataan dengan khayalan atau pikirannya sendiri.

Untuk menangani sekaligus mengantisipasi kondisi tersebut, Dinkes Kota Batu menyediakan layanan psikologi dan konseling melalui Puskesmas Sisir dan Puskesmas Batu. Kedua fasilitas kesehatan tersebut juga memiliki layanan pendampingan yang dilakukan hingga ke rumah pasien.

Baca Juga:
Utamakan Keselamatan! Laka Lantas di Kota Batu Capai 213 Kasus dan Renggut 22 Nyawa

Kunjungan rumah ditujukan terutama bagi pasien ODGJ yang mengalami kesulitan atau tidak patuh menjalani konsumsi obat oral setiap hari. Layanan tersebut juga diberikan kepada pasien yang kerap mengalami kekambuhan atau relaps karena menghentikan pengobatan.

Selain itu, petugas mendatangi rumah pasien yang memiliki riwayat berulang kali menolak pengobatan. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pasien perlu mendapatkan injeksi long acting.

“Dua puskesmas ini memiliki layanan pendampingan hingga ke rumah pasien,” jelas dr Icang.

Upaya penanganan juga dilakukan melalui langkah promotif. Dinkes memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan pikiran serta mengelola emosi.

Selain edukasi, kampanye antistigma dilakukan untuk mengurangi rasa malu maupun diskriminasi terhadap orang yang mengalami masalah kejiwaan. Upaya tersebut ditujukan agar mereka tidak enggan mencari pertolongan.

Di sisi pencegahan, Dinkes Kota Batu menjalankan deteksi dini melalui skrining atau pemeriksaan awal terhadap gejala stres dan kecemasan. Pemeriksaan dilakukan di sejumlah tempat, yakni puskesmas, posyandu, sekolah hingga tempat kerja.

Dinkes juga menyediakan layanan psikologis bagi masyarakat yang mengalami tekanan hidup berat sebelum kondisinya berkembang menjadi gangguan jiwa. Layanan tersebut didukung psikolog klinis yang tersedia di Puskesmas Batu dan Puskesmas Sisir.

“Untuk preventif ada deteksi dini dengan melakukan skrining atau pemeriksaan awal gejala stres dan kecemasan di puskesmas, posyandu, sekolah dan tempat kerja,” pungkasnya.(*)