KETIK, SIDOARJO – Kamis (10 Agustus 2006), sekitar pukul 08.30, kepanikan meledak.  Guru-guru SDN Siring 1 dan TK Dharma Wanita Siring bergegas memulangkan murid-murid ke rumah masing-masing. Sebagian harus segera dikembalikan ke pengungsian korban lumpur di Pasar Porong Baru Sidoarjo. Insiden ini baru awal dari ancaman terhadap masa depan pendidikan anak-anak korban lumpur.

Pagi itu, air lumpur merembes dari tanggul di belakang pabrik PT Pacific Prestess Indonesia (PPI). Tidak jauh dari SDN Siring 1 dan 2 yang juga berdekatan. Sekitar 30 menit kemudian, tanggul benar-benar jebol. SDN Siring terendam. Lumpur bercampur air menyerbu masuk ke permukiman. Cokelat pekat. Peringatan terdengar kencang dari pengeras suara masjid. Warga berhamburan.

Truk-truk dikerahkan untuk membantu evakuasi warga Kelurahan Siring keluar dari kampung menuju rel kereta api di dekat Jalan Arteri Porong Lama. (Foto: Dokumen Fathur Roziq)

”Warga RT 11 diharap segera mengungsi.” Begitu suara peringatan terdengar berkali-kali. Berhamburan warga ke luar rumah. Ada yang bercelana pendek. Pakai daster atau sarungan. Mereka berduyun-duyun mendekat rel kereta api di Siring. Tepatnya, depan Masjid An Nur, Porong. Sekitar 1 jam kemudian, wilayah Siring terendam lumpur hingga setinggi pinggang orang dewasa.

”Saya tidak tahu kalau tanggul jebol. Saya langsung lari keluar menyelamatkan diri,” ujar Munayah, seorang warga Siring yang Kamis pagi itu keluar paksa dari rumahnya.

Baca Juga:
20 Tahun Lumpur Panas Sidoarjo, Pelajaran tentang Pentingnya Terbuka kepada Rakyat (1)

Genangan air yang merembes dari tanggul lumpur memaksa guru-guru memulangkan murid SD Siring lebih cepat. (Foto: Dokumen Fathur Roziq).

Tabiat Jurnalis memang tidak lazim. Ketika sebagian besar warga cepat-cepat keluar dari rumah dan mencari tempat aman, saya justru masuk ke lokasi lebih dalam. Menyaksikan sekolah yang terendam lumpur. Mengabadikan warga yang menggotong apa saja sambil menyelematkan diri. Malah, ada yang memilih naik tanggul lumpur di belakang rumah.

Kepanikan seperti warga Kelurahan Siring itu selanjutnya menjalar ke berbagai desa lain. Hari berganti. Minggu berlalu. Tahun-tahun mengayun nasib korban lumpur saat itu semakin dirundung ketidakpastian. Puluhan ribu jiwa terdampak bencana ini hingga sekarang, 20 tahun lumpur panas Sidoarjo.

Di antaranya, Warga Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin. Lumpur bercampur air mengalir ke utara lewat dua gorong-gorong di Jalan tol jurusan Gempol-Surabaya PP. Puluhan ribu jiwa tinggal di wilayah Desa Kedungbendo. Termasuk, di dalamnya penghuni Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perum TAS).

Baca Juga:
Bupati Subandi dan PC NU Sidoarjo Semakin Kompak dalam Peringatan Satu Abad NU

Warga berselisih dengan sesama warga di atas setelah tanggul lumpur jebol di wilayah Siring dan Jatirejo. Mereka didamaikan oleh anggota TNI. (Foto: Dokumen Fathur Roziq)

Tanggul Jebol Memicu Konflik

Kades Kedungbendo (saat itu) Hasan SH MH (alm) mengungkapkan kekhawatiran warganya harus mulai mengungsi. Sebenarnya, warga Desa Kedungbendo ingin menutup lubang gorong-gorong itu. Tapi, mereka juga khawatir warga Siring marah karena rumah mereka semakin tenggelam.

Begitu pula warga Kelurahan Jatirejo. Saat tanggul lumpur di Siring jebol, mereka juga khawatir. Ada yang mencoba membendung aliran lumpur menuju wilayah tersebut. Akibatnya, terjadi salah paham. Nyaris terjadi baku hantam antarwarga kalau saja anggota TNI tidak turun tangan.

Mereka empat saling lempar batu. Yang di bawah tanggul melempar batu-batu dari sekitar rel kereta. Batu-batu tajam itu kemudian di lempar balik dari atah ke bawah. Posisi saya ada di tengah-tengah. Kalau saja Yang Kuasa tidak melindungi, mungkin sudah hancur kepala. Korban saling lempar.

Potensi konflik antarwarga ini terus tersimpan. Pada saatnya, sesama korban sering berselisih pendapat. Misalnya, tentang hak untuk memperoleh uang kontrak dan uang pindahan serta jatah hidup (jadup). Perselisihan terjadi akibat pengaturan giliran. Ada yang minta didulukan. Ada yang malah menolak pindah.

Warga Kelurahan Siring berhamburan keluar kampung setelah mendengar tanggul lumpur jebol pada Kamis pagi (10 Agustus 2006). (Foto: Dokumen Fathur Roziq)

Perbedaan semakin tajam saat penentuan skema ganti rugi di tahun-tahun berikutnya. Ada yang memilih cash and carry. Semua kerugian dibayar tunai.  Sebagian lagi memilih resetlemen. Yaitu, pemindahan atau penataan kembali penduduk ke lokasi baru. Salah satunya, Desa Kedungsolo, Kecamatan Porong, yang dikenal dengan nama Renojoyo. 

Ada pula yang menerima ganti rugi uang, lalu bersama-sama membangun rumah baru di wilayah Kecamatan Krembung. Beberapa tetangga atau saudara tinggal berdekatan rumah. Mereka tidak ingin kilangan siwur atau putus hubungan saudara. Sudah 20 tahun lumpur panas Sidoarjo terjadi, mereka menetap di sana.

Pemerintah Tawarkan Rumah Ganti Rumah

Tawaran yang bagus sebenarnya sudah disampaikan pemerintah jauh sebelum itu. Para korban lumpur ditawari skema rumah ganti rumah di Perumahan Kahuripan Nirvana Village. Lokasinya ada di Desa Jati, Kecamatan Sidoarjo. Lewat Bupati Win Hendrarso, calon pengembang perumahan itu minta saya mau bertemu.

”Tolong Mas Rozi. Ini kita mau bangun perumahan yang benar-benar layak. Ini menguntungkan warga. Bantu kami sosialisasi kepada korban lumpur agar mau pindah ke sini,” kata Pak YM, inisial pengusaha itu, saat bertemu saya di Hotel Elmi Surabaya.

Saya mengiyakan saja. Itu pilihan yang sangat masuk akal. Tanpa kompensasi apa pun, saya dengan sukarela menyampaikan kabar gembira itu kepada korban lumpur. Baik secara lisan maupun lewat pemberitaan. Seorang rekan wartawan menurutinya. Dia mengaku untung besar.

Rumahnya di Perum TAS Tanggulangin mendapatkan ganti di Kahuripan Nirvana Village. Rumahnya satu, tapi dapat ganti dua rumah. Itu pun masih ada sisa uangnya. Wartawan itu telah pensiun. Menikmati hidup bersama anak-cucu setelah 20 tahun lumpur panas Sidoarjo menyembur.

Pintu gerbang Perumahan Kahuripan Nirvana Village saat masih awal dibangun. (Foto: Dokumen)

Sayang, sebagian besar menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Rupanya, kepanikan warga ternyata berubah menjadi trauma. Bahkan, fobia (phobia). Pebisnis takut. Penduduk cemas.

Sebab, saat itu, bertebaran isu yang sangat mengoyak citra Kabupaten Sidoarjo. Bahwa semburan lumpur itu akan menyebabkan tanah amblas hingga Bungurasih, Kecamatan Waru. Retakan bisa sampai wilayah Watukosek, Kecamatan Gempol, bahkan Mojosari, Mojokerto.

Lebih-lebih, para ahli geologi memprediksi. Semburan lumpur panas itu baru akan berhenti antara 25 hingga 30 tahun sejak menyembur pertama pada 2006. Ramalan itu memang benar adanya. Hingga 20 tahun lumpur panas Sidoarjo berlangsung, belum ada tanda-tanda pasti kapan berhenti.

Gara-gara itulah, ekonomi Sidoarjo remuk redam. Nilai properti Kabupaten Sidoarjo anjlok luar biasa. Hampir tidak ada yang mau beli aset. Penjualan rumah lesu. Bank tidak mau mengucurkan kredit. Jaminan sertipikat rumah untuk pinjaman di bank pun ditolak. Hancur. Lebur. Phobia itu tidaklah terbukti.

Sudah 20 tahun lumpur panas Sidoarjo terjadi, perkembangan Sidoarjo kembali membaik. Pertumbuan propreti merambah ke berbagai kecamatan. Dan, Perumahan Kahuripan Nirvana Village yang dulu ditolak hari-hari ini justru menjadi hunian yang paling diminati. Ruang terbuka hijaunya mempesona. Pertokoan, restoran, bahkan hotel tumbuh di sana. (bersambung)