KETIK, JAKARTA – Jaringan listrik nasional Kuba mengalami lumpuh total pada Minggu, 2 Agustus 2026 malam waktu setempat.
Akibatnya, sekitar 10 juta penduduk negara tersebut terpaksa menjalani aktivitas dalam kegelapan di tengah krisis energi yang semakin memburuk.
Dikutip dari REUTERS, pemadaman listrik berskala nasional itu menjadi yang keempat dalam waktu kurang dari satu bulan.
Sebelumnya, Kuba telah mengalami tiga kali pemadaman besar sepanjang Juli 2026.
Operator jaringan listrik milik negara, Union Electrica de Cuba, mengonfirmasi terjadinya gangguan melalui akun media sosial resmi mereka.
Baca Juga:
Isu Nuklir, Kedubes Iran Beri Respons Tegas atas Polemik Pidato PrabowoNamun, hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai penyebab pasti lumpuhnya sistem kelistrikan nasional tersebut.
Krisis energi di Kuba semakin diperparah oleh kesulitan pemerintah memperoleh pasokan bahan bakar impor.
Kondisi tersebut membuat sistem pembangkit listrik yang sudah berusia tua bekerja di bawah tekanan tinggi.
Situasi ini juga dipengaruhi oleh blokade minyak yang diberlakukan Amerika Serikat.
Baca Juga:
Serangan Israel Tewaskan 19 Warga Palestina di Tengah Klaim Gencatan Senjata TrumpKuba kehilangan salah satu sumber pasokan energi utamanya setelah Venezuela, yang selama ini menjadi pemasok minyak terbesar, terdampak tekanan politik dan ekonomi dari Washington.
Selain itu, impor minyak dari Meksiko juga dilaporkan terhenti, sehingga semakin mempersempit pilihan pasokan bahan bakar bagi pemerintah Kuba.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah Kuba mulai membuka sektor energi yang selama ini dikendalikan secara ketat.
Langkah itu diambil untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar dan menjaga pasokan energi nasional.
Pemerintah untuk pertama kalinya mengizinkan impor bahan bakar dengan dukungan pihak asing.
Selain itu, hampir 200 perusahaan di Kuba juga telah memperoleh izin untuk ikut berpartisipasi dalam distribusi bahan bakar secara grosir sebagai bagian dari reformasi sektor energi.
Meski demikian, kebijakan tersebut belum mampu mengatasi krisis listrik yang terus berulang dan berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat maupun perekonomian negara.(*)