Tradisi Ruwat Bumi Guci 2026 di Tegal, Simbol Syukur dan Jaga Lingkungan

17 Juni 2026 12:27 17 Jun 2026 12:27

Suherman, Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Tradisi Ruwat Bumi Guci 2026 di Tegal, Simbol Syukur dan Jaga Lingkungan

Ruat bumi guci di Kawasan Wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Selasa, 16 Juni 2026, (Foto: Suherman/Ketik.com)

KETIK, TEGAL – Pemerintah Kabupaten Tegal menggelar puncak acara adat Ruwat Bumi Guci Tahun 2026 di kawasan wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Selasa, 16 Juni 2026. 

Kegiatan ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus langkah strategis untuk menjaga kelestarian lingkungan dan memulihkan sektor pariwisata pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut.

Wakil Bupati Tegal, Ahmad Kholid, menegaskan bahwa keberhasilan menjaga dan mengembangkan kawasan wisata Guci sangat bergantung pada semangat kebersamaan dan gotong royong seluruh warga. 

Menurutnya, upaya pelestarian lingkungan tidak bisa hanya ditangani oleh pemerintah saja, melainkan membutuhkan partisipasi aktif dari semua pihak.

“Jangan ada yang mementingkan kepentingan pribadi. Jika kita rukun, kompak, dan bersama menjaga lingkungan, maka Guci akan tetap lestari, aman, dan terus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Kholid dalam sambutannya. 

Ia juga mendorong agar tradisi ini terus dikembangkan dan dipromosikan guna menarik lebih banyak kunjungan wisatawan.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Tegal, Akhmad Uwes Qoroni, menyampaikan bahwa Ruwat Bumi Guci adalah tradisi turun-temurun sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Kegiatan ini juga menjadi sarana meningkatkan kesadaran menjaga kawasan resapan air di wilayah tersebut.

“Melalui Ruwat Bumi, kita memperkuat komitmen bersama merawat lingkungan dan melestarikan warisan budaya leluhur,” kata Uwes.

Rangkaian kegiatan telah berlangsung sejak 12 Juni 2026, meliputi aksi penanaman pohon melalui program Nandur Kekayon, Festival Hadrah, malam Lir-Ilir, hingga kirab gunungan hasil bumi dari Desa Guci dan Dukuh Pekandangan. 

Prosesi dilanjutkan dengan penyembelihan kambing kendit di Gunung Kelir, istighosah tayuban, serta penyebaran kembang di Pancuran 13 sebagai simbol harapan keberkahan dan kesejahteraan.

Diharapkan, tradisi ini tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga mempererat kebersamaan, meningkatkan kesadaran lingkungan, serta mendorong pertumbuhan pariwisata dan perekonomian warga sekitar. (*)

Tombol Google News

Tags:

Kabupaten Tegal Wisata Guci pelestarian lingkungan Gotong royong budaya lokal Pariwisata Tegal Tradisi Adat