Sepi Ing Pamrih – Rame Ing Gawe: Tantangan Altruisme Terkini

22 Oktober 2026 16:06 22 Okt 2026 16:06

Aisyah Fisa, Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Sepi Ing Pamrih – Rame Ing Gawe: Tantangan Altruisme Terkini

Oleh: Erry Himawan*

KETIK, SURABAYA – “Sunyi dari kepentingan pribadi, ramai dalam bekerja” itulah arti yang sebenarnya dari petuah bijak Jawa tersebut. Ia adalah sebuah sikap hidup yang mengajarkan kepada kita bahwa janganlah terlalu banyak berpikir dan berhitung apa yang akan kita dapatkan dan terima, tetapi banyaklah berbuat, bekerja serta banyaklah memberi. Ia adalah sebuah pitutur leluhur yang sederhana dalam kata, tetapi dalam maknanya.

Dalam konteks kekinian, sepi ing pamrih-rame ing gawe, memiliki kedekatan arti dan makna dengan altruisme. Altruisme merupakan sikap dari seseorang yang cenderung untuk membantu atau memberikan kemanfaatan kepada yang lain tanpa berpikir menjadikan kepentingan pribadi menjadi dasar meraih timbal balik. Tidak menjadikan keuntungan pribadi sebagai basis relasi. Hemat kata, bahwa altruisme adalah sikap empati, peduli, bahkan kesediaan menanggung sebagian beban dari lainnya tanpa memikirkan kembalian.

Muncul sebuah pertanyaan, apakah sikap ini masih relevan di tengah situasi dan kondisi terkini yang semakin bersaing? Dalam kehidupan saat ini, relasi antar manusia lebih bersifat transaksional. Semuanya serba dikalkulasi, seberapa besar fee yang aku dapatkan? Aku dapat penghargaan apa? Aku dapat jabatan apa? Semua pertanyaan tersebut, saya menyebutnya sebagai logika transaksional. Saya pun menyatakan, logika tersebut tidaklah salah. Yang salah adalah ketika logika tersebut dijadikan satu-satunya ukuran. Dalam konteks seperti itulah, sepi ing pamrih-rame ing gawe, menemukan hubungannya.

Sepi ing pamrih, bukan berarti bahwa manusia tidak boleh memiliki kepentingan. Bukan pula tidak usah memikirkan dan bahkan abai terhadap kebutuhannya sendiri. Kalau sampai terjadi keadaan yang demikian malahan manusia keluar dari kodratnya. Manusia menggali liang kuburnya sendiri. Yang terpenting adalah, janganlah menjadikan urusan dan kepentingan pribadi sebagai dasar yang berlebihan dari setiap tindakan. Jadi, ada kalanya kita bertanya, “Apa yang dapat saya berikan untuk yang lain?” Sudahkah saya bekerja dan berkarya untuk peradaban umat manusia?

Dalam ilmu psikologi, ada satu hal yang menurut saya penting untuk ditelaah, yaitu motivasi. Yang satu ini sangatlah kompleks. Maksud saya adalah sebuah sikap dan tindakan yang dilakukan oleh seseorang mengandung dua muatan. Dua muatan ini adalah kepedulian dan keinginan. Sebagai contoh, jika seseorang memberi bantuan, menolong lalu merekamnya dan mengunggahnya di media sosial, bukan berarti bahwa bantuan dan pertolongan tersebut tidak tulus. Malahan, dengan sikap dan tindakannya tersebut, berharap dapat dicontoh oleh yang lain.

Dengan demikian, yang menjadi persoalan adalah bukan semata-mata apakah kebajikan tersebut terlihat atau tidak terlihat. Yang terutama dan terpenting adalah motif dan tujuannya. Apakah dengan mengunggahnya di media sosial, dilakukan untuk memberikan contoh (baca: menginspirasi), atau hanya untuk pamer diri agar dapat validasi? Tetapi menurut saya, sebuah kebajikan tidak membutuhkan sebuah validasi. Satu pertanyaan lagi, apakah popularitas yang telah dimiliki bisa menjadi “alat” untuk kemanfaatan bagi yang lain atau bahkan sebaliknya, menjadi tujuan utama? Adalah penting untuk dipikirkan sebelum bersikap dan bertindak.

Berikutnya, rame ing gawe. Bukan ramai omong, tetapi ramai bekerja. Kita sering diskusi atau bahkan berdebat tentang sesuatu urusan yang sepele. Kita sering menggunjing atau ngrasani orang karena orang itu kere. Kita sering nggibah karena kawan kita seorang pengangguran. Bahkan acap kali kita sering lupa bahwa permasalahan hidup ini tidak semuanya memerlukan pemikiran yang dalam. Yang butuh diselesaikan sampai-sampai kepala cumpleng-puyeng, sikring di kepala rasanya mau njebles.  Yang kita butuhkan adalah aksi. Walaupun aksi itu berupa tindakan kecil, tetapi darinya semua permasalahan teratasi.

Kita sering berdebat tentang kemiskinan, tetapi kita tidak mau bertindak untuk membantu orang miskin. Kita sering membahas lingkungan, tetapi kita tidak mau bertindak untuk menciptakan lingkungan yang sehat, aman dan nyaman. Kita sering berbicara tentang kaum berkebutuhan khusus, tetapi kita tindak mau bertindak untuk mengupayakan agar kehidupannya lebih baik. Untuk itulah, rame ing gawe adalah sebuah sikap yang mengubah energi komentar menjadi energi tindakan.

Masyarakat tidak akan dapat bertahan hanya dengan kompetisi. Namun, kompetisi dapat membuat hidup lebih hidup. Kompetisi adalah pemicu inisiasi, kreasi, serta inovasi. Ia dapat membuat hidup lebih menyala. Tetapi manusia haruslah memiliki rasa solidaritas agar manusia tetap punya daya tahan. Lebih lanjut, ketika tradisi dan budaya melekat pada manusia seperti saling menolong-membantu dan empati, maka terbentuklah modal sosial. Dari modal sosial inilah, kepercayaan tumbuh serta solidaritas berkembang.

Sepi ing pamrih-rame ing gawe, adalah sebuah altruisme. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kita melakukan altruisme, tidaklah perlu sampai burnout. Kita boleh membantu, menolong sesama, namun hanya sebatas kemampuan kita. Kita juga harus memperhatikan diri sendiri agar jangan sampai terjadi kelelahan fisik dan jiwa. Karena altruisme yang sehat adalah altruisme yang simetri, yang membutuhkan keseimbangan.

Kita dapat memberikan pertolongan kepada orang lain tanpa membuat diri kita hancur. Kita bisa empati dan peduli tetapi tetap memperhatikan batas. Kita dapat memberikan waktu, tenaga, pikiran bahkan materi sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Dengan demikian, orang yang mampu mengelola dirinya dengan baik akan lebih siap memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Masyarakat yang baik, bukanlah masyarakat yang sebagian besar orangnya ingin menjadi orang terkenal dan terkaya, tetapi masyarakat yang baik adalah masyarakat yang sebagian besar orangnya memiliki berkat dan menjadi saluran berkat bagi yang lain. Sebab ketinggian derajat manusia bukan hanya seberapa tinggi ia mampu dan berhasil mengangkat dirinya, melainkan seberapa banyak orang lain ikut terangkat karena kehadirannya.

“Majulah bangsaku, Jayalah negeriku!”

*) Erry Himawan merupakan “Pak Guru” di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya untuk Program Studi Manajemen dan anggota Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI). 

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat pada redaksi.

 

 

Tombol Google News

Tags:

Tulisan Opini Erry Himawan opini Artikel opini Altruisme Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya Stiesia Surabaya