KETIK, SURABAYA – PT RPH Surabaya Perseroda bersama Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar kegiatan Program Praktisi Mengabdi di Auditorium FKP Unesa, Selasa 26 Mei 2026.
Kegiatan bertema “Manajemen Rantai Pasok RPH untuk Menjamin Keamanan, Kehalalan, dan Mendukung Ketahanan Pangan” itu menghadirkan Direktur Utama PT RPH Surabaya Perseroda, H. Fajar Arifianto I sebagai narasumber utama.
Dalam paparannya, Fajar menjelaskan bahwa RPH Surabaya memiliki visi menjadi pusat pelayanan jasa potong hewan dan bisnis daging yang berorientasi pada ketahanan pangan dengan produk yang terjamin Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH). Menurutnya, pelayanan yang higienis dan berkualitas menjadi prioritas utama perusahaan.
Ia mengatakan, RPH Surabaya juga terus memperkuat misi sebagai penyedia daging terbaik di Surabaya dan sekitarnya, termasuk menjadi pusat produksi dan bisnis olahan daging sehat dan halal. Selain itu, RPH Surabaya berkomitmen menjadi penyedia protein hewani terbaik bagi masyarakat Kota Surabaya.
Fajar menyebutkan, saat ini RPH Surabaya memiliki beberapa unit pelayanan, yakni Unit Pegirian untuk pemotongan sapi dan kambing, Unit Kedurus khusus pemotongan sapi, Unit Banjarsugihan untuk pemotongan babi, serta RPH Unggas Unit Lakarsantri yang melayani pemotongan ayam dan bebek.
Terkait rantai pasok, ia menjelaskan bahwa kebutuhan sapi potong di Surabaya tidak dapat dipenuhi dari populasi ternak lokal.
Berdasarkan data BPS tahun 2025, populasi sapi potong di Kota Surabaya hanya sekitar 218 ekor sehingga pasokan sapi hidup didatangkan dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Magetan, dan Kediri.
Selain dari Jawa Timur, pasokan sapi hidup juga berasal dari luar provinsi seperti Jawa Barat dan Lampung yang menjadi lokasi penggemukan sapi (feedlot) impor asal Australia. Untuk menjaga ketersediaan pasokan, RPH Surabaya menjalin kerja sama dengan perusahaan penggemukan sapi.
Menurut Fajar, penerapan SOP operasional pemotongan hewan menjadi langkah penting dalam menjamin keamanan pangan dan kehalalan produk. RPH Surabaya juga telah memiliki sertifikasi halal dan memenuhi standar higiene sanitasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV).
Sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat, RPH Surabaya memberikan penanda khusus kepada lapak pedagang daging di pasar tradisional yang menjual hasil pemotongan dari RPH Surabaya. Program tersebut memudahkan masyarakat memilih daging yang aman dan berkualitas.
Saat ini terdapat sekitar 30 pasar di Surabaya yang memiliki Mitra RPH dengan jumlah pedagang mencapai kurang lebih 290 orang. Program itu menjadi salah satu upaya memperluas akses masyarakat terhadap produk daging yang memenuhi standar ASUH.
Fajar menambahkan, RPH Surabaya juga aktif mendukung pengendalian inflasi daerah melalui partisipasi dalam kegiatan Gerakan Pasar Murah (GPM) yang digelar pemerintah. Menurutnya, keterlibatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam menjaga stabilitas pangan daerah.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ketahanan Pangan Unesa, Prof Nining W K menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin dengan PT RPH Surabaya Perseroda. Ia juga memperkenalkan sejumlah program studi yang dimiliki FKP Unesa kepada peserta kegiatan.
Prof Nining berharap sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dapat terus diperkuat, khususnya dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. FKP Unesa juga membuka peluang kemitraan dengan RPH Surabaya guna mendukung pengembangan sumber daya manusia dan inovasi di sektor ketahanan pangan. (*)
