KETIK, SURABAYA – Seniman Coffee yang terletak di Jl. Trunojoyo No. 81, DR. Soetomo, Kecamatan Tegalsari, Surabaya bukan hanya menyelipkan kata 'seniman' dalam namanya tanpa arti.
Bulan ini Seniman Coffee melakukan kolaborasi dengan Komunitas Orkestra POSS Surabaya. Penampilan Mini Concertino itu dilaksanakan pada Sabtu, 26 September 2026 pukul 19.30 sampai dengan 20.00 WIB.
Open gate dimulai sejak 19.00 WIB dengan sesi coaching clinic oleh pemilik sekaligus pendiri POSS Surabaya Heru Prasetyono dan pengaba atau konduktor Dhana Kusuma. Penonton yang sudah datang di lantai 2 Seniman Coffee saat open gate dapat menyimak informasi terkait orkestra, komponen ansambel, dan profil POSS Surabaya.
Dari informasi yang disajikan salah satunya mengenai busur atau alat penggesek ansambel yang terbuat dari ekor kuda asli. Teknik yang digunakan dalam orkestra juga dijelaskan, salah duanya adalah pitching dan stakato.
Penampilan ini dinamakan Mini Concertino dengan mengusung tema Tiba-Tiba Maen-Maen—Classic for Everyone. Lebih masuk disebut concertino karena jumlah ansambel yang lebih sedikit daripada full orkestra. Namun meski begitu masih terdapat pembagian suara satu, dua, tiga, dan solis atau melodi utama.
Penampilan malam itu POSS Surabaya bersama dengan 15 ansambel dan 1 konduktor. POSS membawa enam repertoar atau lagu yang dibawakan dalam format instrumental penuh.
Lagu-lagu ini terdiri dari lagu dengan format klasik penuh hingga lagu daerah dengan aransemen klasik.
1. Hornpipe in D Major, karya Georg Friedrich Händel
Sebagai pembukaan lagu ini berdurasi tiga menit. Dilansir dari Wikipedia, dalam sejarahnya karya ini digubah atas permintaan Raja George I untuk mengiringi parade perahu kerajaan pada 17 Juli 1717.
2. Eine Kleine Nactmusik Movement 1: Allegro , karya Wolfgang Amadeus Mozart
Sebelum lanjut lagu kedua, dikatakan oleh pengaba bahwasannya lagu ini diperlukan "stretching" terlebih dahulu, mengingat durasinya yang mencapai tujuh menit. Dibutuhkan kelincahan jari mengikuti tempo yang cepat, intonasi presisi, dan fokus yang tajam dalam memainkan lagu ini.
3. Melody No.4 from Beriot`s Study, aransemen Dayous
Dayous merupakan salah satu musisi terkenal yang sedang membangun karier bermusik di Negeri Jiran Malaysia. Lagu ini dikenal sebagai lagu yang identik dengan penyambutan tamu. Dalam lagu ini pula pengaba mulai memainkan flute sebagai melodi utamanya.
4. Concertino da Camera Movement 1: Allegro Spirituoso, karya Antonio Saileri
Khusus lagu keempat pendiri POSS Surabaya hadir di depan penonton sebagai pengaba. Di lagu ini pula terlihat kertas partitur full score pengaba memiliki panjang hampir menyentuh lantai.
5. Padhang Bulan, lagu daerah Jawa Tengah, aransemen Widyo
Widyo merupakan salah satu musisi senior yang saat ini masih aktif berkarya di wilayah Jabodetabek. Dalam penampilan malam itu POSS menyelipkan interjeksi audio atau gimmick dengan kalimat "Nungguin, ya?" di sela kosong lagu Padhang Bulan. Lagu ini menjadi salah satu lagu yang memiliki nuansa ceria dari keenam lagu yang dibawakan.
6. O Sole Mio from Eduardo di Capua, aransemen Heru Prasetyono—pendiri POSS Orkestra
Lagu terakhir dibawakan POSS usai ucapan terima kasih dan sampai jumpa dikumandangkan. Tepat sebelum perkenalan satu persatu oleh tiap personil dan sesi foto bersama penonton yang hadir dimulai.
Tidak hanya menampilkan orkestra semata, dalam tampilan Mini Concertino ini POSS Surabaya mengedepankan interaksi dengan penonton. Konduktor memberi kesempatan kepada penonton untuk simulasi menjadi dirigen orkestra, terutama pada lagu "Eine Kleine".
Menariknya, terlihat dari penampilan malam itu bahwa anggota POSS berasal dari ragam latar belakang. Mulai dari anak SD, SMP, SMA, mahasiswa, hingga bapak-bapak. Bahkan dari luar kota, Sidoarjo sampai Krian.
Dhana Kusuma mengungkapkan kunci dari kekompakan para anggota dengan latar belakang berbeda tersebut adalah sambung rasa. Mengedepankan satu sama lain untuk saling mengerti, perbanyak interaksi, dan mempelajari karakter setiap pemain.
Penampilan yang luar biasa juga didukung dengan latihan keras. Setiap Minggu di Balai Pemuda diadakan latihan rutin oleh POSS. Bahkan untuk penampilan di Seniman Coffee ini diperlukan latihan khusus selama satu bulan sebelumnya.
Salah satu pemain dengan ansambel Cello, Lili, mengungkap "Eine Kleine" menjadi lagu yang paling menantang.
"Lagu "Eine Kleine", sangat menantang. Sebenere menurutku gak seng susah banget gitu seh, cuman aku pas lihat partiture iku lo hampir gak kelihatan kan, harus maju-maju gini. Itu seng bikin aku susah," ujarnya.
Dengan kapasitas 50 penonton, setiap penontonnya disuguhkan penampilan menakjubkan.
"Jujur takjub banget, karena setelah sekian lama udah nggak pernah lihat orkestra lagi jadi kayak benar-benar kangen banget sih rasanya," ucap Sachiko, salah satu penonton kepada Ketik.com.
Heru Prasetyono menyampaikan harapannya usai penampilan Mini Concertino tersebut berakahir.
"Harapan kita, anak-anak terus fokus latihan dan terus melatih skillnya aja," ujarnya.
"Kami berharap jangan bosen-bosen. Kalau misalkan kami ada pertunjukan konser lagi silakan datang, seperti itu. Antusiasme penonton juga semangat bagi kami meneruskan pelatihan lagu-lagu klasik ini," pesan Dhana Kusuma.
Jika Anda tertarik dengan penampilan musik klasik di Surabaya, Anda dapat mengunjungi dan pantau akun Instagram @poss.sby untuk informasi mengenai penampilan Orkestra POSS Surabaya selanjutnya.(*)
