Surabaya Raih AIDS-TB-Malaria Award 2026, Perkuat Kolaborasi Menuju Eliminasi 2030

6 November 2026 20:24 6 Nov 2026 20:24

Sutejo Rc, Al Ahmadi

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Surabaya Raih AIDS-TB-Malaria Award 2026, Perkuat Kolaborasi Menuju Eliminasi 2030

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messak saat menerima penghargaan. (Foto: Diskominfo Surabaya)

KETIK, SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menerima AIDS-TB-Malaria Award 2026 dari Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (Adinkes), Jumat, 6 November 2026.

Penghargaan tersebut diberikan atas upaya pemerintah kota dalam memperkuat pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), serta malaria.

Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap upaya Surabaya membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan.

Penilaiannya mencakup sejumlah aspek, mulai dari dukungan anggaran, regulasi, skrining aktif, pelayanan medis, hingga keterlibatan berbagai sektor dalam menjalankan program kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, mengatakan keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan pembiayaan lintas sektor.

Selain anggaran Dinkes, program juga didukung perangkat daerah nonkesehatan, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), Baznas, lembaga filantropi, hingga anggaran di tingkat kelurahan.

Menurut Billy, keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi kekuatan untuk memastikan program pencegahan dan pengendalian ketiga penyakit berjalan secara konsisten.

Upaya penanganan pun tidak hanya bertumpu pada fasilitas pelayanan kesehatan.

Dalam penanggulangan HIV/AIDS, Pemkot Surabaya memperluas edukasi dan pemeriksaan bagi kelompok berisiko, termasuk upaya mencegah penularan dari ibu kepada bayi.

Layanan tes HIV tersedia di puskesmas, rumah sakit, dan klinik.

Penderita juga mendapatkan akses pengobatan antiretroviral (ARV), konseling, serta pemberian makanan tambahan (PMT).

Sementara pengendalian TBC dilakukan melalui skrining aktif, pelacakan kontak erat, terapi pencegahan, dan pendampingan pasien hingga menyelesaikan pengobatan.

Adapun penanganan malaria mencakup pengendalian vektor, perbaikan lingkungan, diagnosis dini, pengobatan sesuai standar, serta penguatan surveilans.

Pemkot Surabaya juga melibatkan organisasi masyarakat sipil (OMS) dan kader untuk menjangkau serta mendampingi masyarakat.

Keterlibatan mereka didukung pembiayaan APBD Kota Surabaya sehingga edukasi, pemeriksaan, dan pendampingan dapat menjangkau lebih banyak warga.

Billy menegaskan, seluruh unsur bergerak bersama melalui sistem skrining terpadu dan aktif.

Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk menemukan kasus lebih dini sekaligus memastikan masyarakat memperoleh penanganan yang tepat.

Capaian program sepanjang 2026 menunjukkan pemeriksaan HIV di Surabaya telah menjangkau 99.437 orang dengan persentase penemuan kasus sebesar 0,82 persen.

Pemeriksaan dilakukan melalui puskesmas, rumah sakit, klinik, serta penjangkauan aktif terhadap kelompok berisiko.

Untuk TBC, pelacakan kasus telah melibatkan 63 puskesmas. Hingga Oktober 2026, capaian penemuan kasus mencapai 78,98 persen atau sesuai target yang ditetapkan.

Sementara itu, Surabaya berhasil mempertahankan status eliminasi malaria tanpa ditemukan penularan lokal.

Capaian tersebut didukung surveilans, deteksi dini, dan pengendalian vektor secara berkelanjutan.

Ke depan, Pemkot Surabaya menargetkan eliminasi HIV/AIDS, TBC, dan malaria pada 2030.

Target tersebut akan dikejar melalui peningkatan kualitas layanan kesehatan, perluasan skrining dan pengobatan, peningkatan penemuan kasus, serta penguatan keberhasilan terapi dan deteksi dini.

Selain aspek medis, Pemkot Surabaya juga memberi perhatian terhadap persoalan stigma dan diskriminasi kepada orang dengan HIV (ODHIV) maupun pasien TBC.

Menurut Billy, dukungan masyarakat diperlukan agar penderita tidak takut memeriksakan diri dan menjalani pengobatan.

"Keberhasilan pengendalian HIV/AIDS, TBC, dan malaria membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kolaborasi lintas sektor, edukasi, serta pengurangan stigma harus terus diperkuat agar target eliminasi pada 2030 dapat tercapai," pungkasnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

Aids Award Malaria Award dinkes surabaya Info kesehatan Aids-tb-malaria Award 2026 Pemkot Surabaya HIV Aids Tuberkulosis TBC Eliminasi Malaria Kesehatan Masyarakat Berita Surabaya Info Surabaya