KETIK, SURABAYA – United States Trade and Development Agency (USTDA) menawarkan peluang kerja sama investasi kepada pelaku usaha di Jawa Timur untuk mendukung pembangunan infrastruktur di sejumlah sektor prioritas yang mencakup sektor sejumlah sektor.
Ini disampaikan Perwakilan U.S. International Development Corporation Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Adrian Bastien, di sela dialog investasi bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur di Surabaya pada Kamis 30 April 2026.
Sejumlah sektor tersebut yakni Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), transportasi (darat, laut dan udara), serta infrastruktur digital dan pengembangan kota cerdas.
Pada kegiatan sama dihadiri Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto beserta jajaran pengurus, sejumlah ketua asosiasi seperti Apindo, ALFI, dan INSA, serta 35 perusahaan anggota Kadin yang bergerak di bidang pengembangan proyek infrastruktur, energi, transportasi dan digital.
“Kegiatan diselenggarakan bersama dengan U.S. Trade and Development Agency atau USTDA yang memiliki peran strategis dalam mendorong pengembangan infrastruktur berkualitas tinggi di berbagai negara. USTDA merupakan first mover pemerintah AS dalam pengembangan infrastruktur kritis di negara berkembang,” ujarnya.
Peran tersebut diwujudkan melalui dukungan sejak tahap awal proyek, mulai dari identifikasi peluang, studi kelayakan, hingga persiapan proyek agar layak secara komersial dan siap didanai.
Menurut Adrian, selama bertahun-tahun USTDA telah mendukung lebih dari 127 miliar dolar AS dalam ekspor, bekerja sama dengan lebih dari 380 komunitas dan usaha kecil, serta menghasilkan rata-rata US$ 226 ekspor untuk setiap 1 Dolar AS yang diprogramkan.
Ia menambahkan, pendekatan pemerintah Amerika Serikat dilakukan secara terintegrasi melalui kerja sama berbagai lembaga, termasuk Konsulat Jenderal, USTDA, DFC, Export-Import Bank, dan U.S. Foreign Commercial Service.
Lebih lanjut, Adrian menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur berkualitas tinggi yang mengedepankan keandalan, transparansi, standar lingkungan, serta keberlanjutan finansial.
“Infrastruktur merupakan fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi, konektivitas, sistem energi, dan daya saing jangka panjang. Keputusan yang diambil hari ini akan membentuk rantai pasok, ekosistem digital, dan keamanan energi selama beberapa dekade ke depan,” tegasnya.
Dalam konteks Indonesia, ia menyebut Jawa Timur memiliki posisi strategis dengan dukungan basis industri yang kuat, tenaga kerja kompeten, serta konektivitas yang baik. Namun, pembangunan infrastruktur dalam skala besar memerlukan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra internasional.
Sementara itu, perwakilan USTDA dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Anna Pitzer, menjelaskan bahwa lembaganya merupakan badan independen pemerintah AS dengan peran strategis dalam mendorong perdagangan dan investasi di sektor infrastruktur global.
“USTDA adalah sebuah lembaga pemerintah independen yang relatif kecil dengan sekitar 80 personel. Kami berperan sebagai pelopor dalam mendorong perdagangan Amerika Serikat di sektor infrastruktur luar negeri,” ucapnya.
Secara global, USTDA telah mendukung lebih dari seribu proyek di lebih dari 32 negara. Sementara di Indonesia, lembaga tersebut telah menangani lebih dari 35 proyek lintas sektor. “Hingga saat ini, kami telah mendukung lebih dari seribu proyek di lebih dari 32 negara. Khusus di Indonesia, kami telah menangani lebih dari 35 proyek lintas sektor,” tuturnya.
Menanggapi tawaran tersebut Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menegaskan bahwa pihaknya sangat terbuka dan menyambut gembira, apalagi kerja sama antara Jawa Timur dan Amerika Serikat tidak hanya berbicara soal pembangunan fisik, tetapi juga kesiapan ekosistem pendukungnya.
Menurutnya, seperti yang disampaikan oleh pihak mitra internasional, pembangunan infrastruktur memiliki karakteristik yang berbeda dan berkembang sangat cepat, sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif.
"Dan Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur mengambil peran strategis dalam mengisi kebutuhan tersebut, khususnya melalui penguatan sumber daya manusia. Fokus ini menjadi penting agar pertumbuhan infrastruktur yang pesat dapat diimbangi dengan tenaga kerja yang kompeten dan siap menghadapi tuntutan industri global," tegas Adik. (*)
