KETIK, SURABAYA – Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) memantau sejumlah wilayah Jawa Timur yang mulai memasuki puncak kemarau. Pada musim kemarau kali ini wilayah Jatim bisa disebut “hari tanpa hujan”.
Di sebagian wilayah Jatim, sejak awal Juli 2026 sudah jarang terjadi hujan lokal. Bahkan kekeringan mulai terlihat di sebagian wilayah Kabupaten Madiun, Ponorogo, Kediri dan Kabupaten Blitar.
Pada Agustus 2026 diprediksi sebagai puncak kemarau. Sedangkan suhu maksimum tercatat 34 derajat Celcius. Kategori tersebut masih dalam kondisi normal.
“Di sebagian wilayah di Jatim berpotensi terjadi kekeringan dan tidak terjadi hujan lokal," ujar Trya Chandra, Prakirawan BMKG Stasiun Juanda, Sidoarjo yang dihubungi Ketik.com, Kamis, 30 Juli 2026.
Trya menjelaskan, berdasarkan data BMKG, mulai 20 Juli 2026 sebagian besar wilayah Jawa Timur terjadi kekeringan. Kondisi sebagian daerah yang tidak diguyur hujan tergolong ekstrem.
“Namun tidak semua masuk kondisi ekstrem karena ada sebagian wilayah masih ada hujan lokal”, kata Trya menambahkan.
Pada musim kemarau saat ini, kecepatan angin lebih kencang dibandingkan saat musim pancaroba. Kecepatan angin pada musim kemarau tercatat sampai 20 knot. Hal ini terpantau di wilayah pesisir pulau Madura bagian timur.
Menurut Trya, terjadinya angin kencang tidak menyebabkan puting beliung. Angin kencang yang terjadi akibat menguatnya angin muson timur.
“Puting beliung hanya terbentuk jika terjadi awan Cumulonimbus yang berkembang kuat,” ujarnya.
Angin Timuran
Berdasarkan pantauan BMKG Stasiun Tanjung Perak, Surabaya di Jawa Timur lima hari ke depan memasuki pola (streamline) angin Timuran. Angin Timuran tersebut terjadi di wilayah pesisir dengan kecepatan 25 knot.
Dampak angin Timuran dapat mengganggu aktivitas pelayaran kapal maupun nelayan yang sedang melaut. Dampak angin Timuran ini berpengaruh pada pelayaran kapal feri penyeberangan Gilimanuk (Bali) dan Ketapang (Banyuwangi).
Kapal yang akan bersandar di pelabuhan Ketapang, misalnya mengalami kesulitan karena tinggi gelombang mencapai sekitar 1 meter. Akibatnya feri akan kesulitan bersandar dan bergantian.
“Peningkatan tinggi gelombang selama sepekan sekitar 1 meter. Hal ini terjadi pada penyeberangan Jawa-Bali,” kata Puteri Permatasari, Prakirawan BMKG Tanjung Perak.
Wilayah Jawa Timur yang berdekatan langsung dengan Samudera Hindia tinggi gelombang cukup kuat. Di pantai Selatan Jawa Timur sepekan tercatat 2.0 hingga 3.0 meter. (*)
