KETIK, SIDOARJO – Senin pagi (29 Mei 2006), seluruh Indonesia masih terguncang oleh dahsyatnya gempa di Jogjakarta pada Sabtu (27 Mei 2006). Belum semua sadar benar bahwa ada sebuah bencana alam baru yang lukanya bisa jadi akan merobek masa depan satu generasi.
Itulah semburan lumpur panas di Porong. Mafhum bagi kalangan luas sebagai Lumpur Lapindo. Dinamakan pula sebagai Lusi (Lumpur Sidoarjo). Perdebatan ”identitas” semburan lumpur ini sepanas suhu lumpur itu sendiri.
Dari pusat semburan di kawasan Kelurahan Jatirejo, Kecamatan Porong, suhunya bisa mencapai 60 derajat Celsius. Bahkan, konon juga mencapai 100 derajat Celcius. Semakin menjauh dari pusat semburan, kian turun pula suhunya. Bisa sampai 20 derajat Celcius.
Tanaman yang dilewati lumpur panas tidak berapa lama kemudian layu, mengering, dan meranggas. (Foto: Dokumen Fathur Roziq)
Entah siapa yang mengukur suhunya atau alatnya bernama apa. Saya bisa merasakan tingkat kepanasan lumpur saat itu dari pohon-pohon yang meranggas. Hanya beberapa menit setelah batangnya dilewati lumpur. Atau, dari sandal saya yang langsung melengkung begitu menginjak aliran lumpur.
Sampai sekarang, suhu lumpur itu belum akan dingin. Seperti titik kulminasi persengketaannya. Kontroversinya. Belum reda hingga saat ini 29 Mei 2026. Setelah dua dekade berlalu. Sudah 20 tahun. Setiap tahun ada perayaan ”ulang tahun” yang getir. Di atas kehilangan harta, riwayat keluarga, maupun sejarah daerah.
Saya sendiri baru sadar betapa hebatnya potensi berita lumpur panas hingga beberapa hari berikutnya. Sejak itu, saya setia meliput perkembangan letupan lumpur tersebut sebagai wartawan Harian Jawa Pos. Dari hari ke hari. Berupaya mampu sedekat mungkin menjangkau lokasi semburan.
Warga Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, mengintip lokasi pusat semburan setelah gotong royong memasang blokade gedhek yang akhirnya ditembus aliran lumpur panas. Foto diambil 2 Juni 2006. (Foto: Dokumen Fathur Roziq)
Mendekat dari depan dulu mulanya. Tak jauh dari pabrik jam yang pernah mempekerjakan tokoh buruh Marsinah. PT Catur Putra Surya (CPS). Aliran lumpur begitu deras. Pada awal-awal menyembur, lumpur panas itu memuntahkan sekitar 100 ribu hingga 130 ribu meter kubik per hari.
Alirannya begitu cepat merangsek. Sawah, rumah-rumah, pabrik, dilumat habis. Jalan Raya Jatirejo yang ujungnya berada di Tugu Kuning bahkan lenyap tinggal nama. Masyarakat panik. Semua sesungguhnya belum mengerti. Apa sebenarnya yang mereka hadapi ini. Sedahsyat apa monster bernama Lumpur Panas ini.
Sulit menjangkau dari dekat pabrik Marsinah, hari berikutnya saya ganti jalan belakang, lewat Desa Renokenongo. Di sini, terlihat warga sibuk memasang sand bag, karung-karung berisi pasir atau tanah. Kayu, batu bata, atau apa saja penghalang mereka pasang secara acak. Cuma mengikuti intuisi.
Namun, endapan lumpur panas terus meninggi. Hamparan sawah nan hijau berubah cokelat dan abu-bau. Sengatan bau seperti belerang menusuk hidung bersama aliran lumpur bercampur air.
Warga Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, masih belum sadar benar bencana apa ini sebenarnya. Mereka tetap berjualan rujak cingur. Nasi punel dengan mendol yang gurih. Bakso dan es dawet. Padahal, sebenarnya situasi mungkin sudah gawat.
Itu terlihat dari pasukan tentara yang turun dari beberapa truk. Mereka begitu gesit membendung luberan lumpur panas yang terus bergerak bagai ombak. Setiap yang dilewatinya bakal melepuh.
Dari sela-sela gang, saya menuju persawahan di belakang kampung. Beberapa warga sudah membendung aliran lumpur dengan besek bambu (gedhek). Gotong-royong. Mereka melindungi rumah masing-masing.
Beberapa pekerja melangkah pergi dari lokasi pengeboran, melewati rig yang masih berdiri tegak di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong. Gambar diambil pada Jumat, 2 Juni 2006. (Foto: Dokumen Fathur Roziq).
Tak seberapa jauh dari situ, saya melihat banyak pekerja sedang berkemas. Sebagian terlihat melangkah pergi. Ada pula yang masih tampak berkutat dengan peralatan. Saat itu, rig (atau drilling rig) masih berdiri. Pekerja dan rig itu diketahui sebagai lokasi pengeboran minyak milik PT Lapindo Brantas Inc.
Apakah semburan lumpur benar-benar bermula dari lokasi itu atau tidak? Hanya para ahli yang berhak menyimpulkannya. Saya tidak ingat persis kapan pemerintah resmi mengumumkan tragedi lumpur panas itu sebagai kecelakaan pengeboran atau bencana alam.
Yang pasti, kelambanan mitigasi telah menjadi penyebab penderitaan panjang puluhan ribu jiwa. Informasi yang saya tahu, posisi pusat semburan lumpur masuk kawasan Kelurahan Siring. Aktivitas pengeboran berada di Desa Renokenongo. Tapi, keduanya memang berbatasan langsung-sung-sung. (bersambung)
