KETIK, PASURUAN – Upaya membangun kesadaran remaja terhadap bahaya perundungan terus dilakukan melalui pendekatan edukasi yang lebih kreatif dan dekat dengan kehidupan siswa.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menggelar sosialisasi dan kampanye edukasi anti-bullying di SMKN 1 Tutur, Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan, Kamis (10/9/2026).
Mengusung tema “Penanaman Karakter Remaja dalam Aksi Anti-Bullying Melalui ILM sebagai Media Edukasi”, kegiatan tersebut menyasar peningkatan pemahaman siswa mengenai berbagai bentuk perundungan yang dapat terjadi, baik di lingkungan sekolah maupun ruang digital.
Ketua Tim Pengmas FISIP UB, Diyah Ayu Amalia Avina, S.E., M.Si., mengatakan edukasi anti-bullying perlu disampaikan dengan metode yang sesuai dengan karakter komunikasi remaja saat ini.
Menurutnya, tidak semua tindakan yang dianggap sebagai candaan oleh remaja dapat dibenarkan. Candaan yang merendahkan, mengucilkan, menyakiti secara fisik maupun verbal, hingga tindakan di media digital dapat berkembang menjadi bentuk perundungan.
Tim Pengmas FISIP UB saat edukasi bersama para siswa SMKN 1 Tutur Pasuruan. (Foto: Dok. Ketik.com)
Dalam kegiatan tersebut, siswa SMK 1 Tutur diperkenalkan dengan sejumlah bentuk bullying, mulai dari perundungan fisik, verbal, pengucilan sosial, hingga cyberbullying.
Untuk memperkuat pesan kampanye, Tim Pengmas FISIP UB menggunakan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) berbasis video sebagai media utama edukasi. Pendekatan tersebut dipilih sebagai alternatif dari metode penyampaian materi melalui ceramah konvensional.
“Melalui video ILM, siswa diajak mengenali bentuk-bentuk perundungan sekaligus memahami pentingnya membangun karakter yang mampu menolak tindakan bullying di lingkungan sekitar,” ujar Diyah Ayu.
Ia menjelaskan, penggunaan media visual dan kreatif diharapkan membuat pesan mengenai bahaya perundungan lebih komunikatif dan mudah diterima oleh kalangan remaja.
Diukur melalui Pre-Test dan Post-Test
Tak hanya memberikan sosialisasi, Tim Pengmas FISIP UB juga melakukan evaluasi untuk mengukur efektivitas kampanye edukasi yang diberikan.
Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test kepada siswa SMK 1 Tutur. Instrumen tersebut digunakan untuk melihat perubahan tingkat pemahaman peserta sebelum dan setelah mengikuti sosialisasi serta menyaksikan video ILM.
“Evaluasi ini menjadi bagian penting dalam melihat sejauh mana metode edukasi berbasis video dapat membantu siswa memahami isu perundungan dan membangun kesadaran mengenai tindakan pencegahan,” jelas Diyah Ayu.
Program tersebut juga melibatkan mahasiswa FISIP UB secara aktif melalui pendekatan experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman.
Mahasiswa tidak hanya berperan saat kegiatan berlangsung, tetapi terlibat sejak tahap awal. Mereka ikut melakukan identifikasi permasalahan, menyusun konsep kampanye, memproduksi video ILM, hingga membantu distribusi instrumen evaluasi kepada siswa.
Keterlibatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan akademik secara langsung dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Sekolah Jadi Mitra Penguatan Karakter
Dalam proses pelaksanaannya, Tim Pengmas FISIP UB menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam menyesuaikan jadwal kegiatan dengan agenda akademik, pelaksanaan ujian, serta padatnya jam belajar siswa.
Meski demikian, SMK 1 Tutur menjadi mitra yang mendukung pelaksanaan program. Pihak sekolah turut membantu penyediaan fasilitas, pengaturan peserta, hingga proses evaluasi siswa.
Diyah Ayu berharap kampanye tersebut tidak berhenti pada pemahaman mengenai definisi dan bentuk bullying. Lebih jauh, siswa diharapkan memiliki keberanian untuk menolak, mencegah, dan melaporkan tindakan perundungan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
“Ini bagian dari upaya perguruan tinggi dalam berkontribusi terhadap penguatan karakter remaja dan penciptaan lingkungan pendidikan yang aman dari bullying,” pungkasnya. (*)
