UB Forest, Destinasi Wisata Edukasi di Malang yang Padukan Petualangan dan Pembelajaran Keanekaragaman Hayati

1 Juli 2026 20:10 1 Jul 2026 20:10

Nurul Aliyah, Dendy Ganda K.

Redaksi Ketik.com
Thumbnail UB Forest, Destinasi Wisata Edukasi di Malang yang Padukan Petualangan dan Pembelajaran Keanekaragaman Hayati

Peserta mengikuti kegiatan trail run menyusuri jalur hutan dalam program UB Forest Healing di kawasan UB Forest, Kabupaten Malang. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari wisata edukasi yang menggabungkan olahraga, pembelajaran keanekaragaman hayati, dan pelestarian lingkungan. (Foto: UB Forest)

KETIK, MALANG – Di tengah maraknya destinasi wisata berbasis hiburan, Universitas Brawijaya menghadirkan konsep berbeda melalui UB Forest, kawasan hutan pendidikan yang menggabungkan pengalaman wisata alam dengan pembelajaran tentang keanekaragaman hayati dan pentingnya pelestarian lingkungan.

Terletak di wilayah Kabupaten Malang, UB Forest bukan sekadar kawasan hutan yang dikelola perguruan tinggi, melainkan juga pusat riset biodiversitas yang menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna. Di tempat inilah pengunjung dapat menikmati suasana alam sekaligus belajar secara langsung mengenai ekosistem hutan dan upaya konservasi yang dilakukan Universitas Brawijaya.

Keberadaan UB Forest menjadi bukti bahwa kampus tidak hanya berperan sebagai penyedia pendidikan di ruang kelas, tetapi juga menghadirkan laboratorium alam terbuka yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa, peneliti, akademisi, hingga masyarakat umum.

Selain menjadi lokasi penelitian, UB Forest kini berkembang sebagai destinasi wisata edukasi yang menawarkan berbagai aktivitas menarik melalui program UB Forest Healing. Konsep tersebut mengajak pengunjung menikmati keindahan hutan sambil membangun kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

Kegiatan yang ditawarkan pun beragam, mulai dari trekking santai hingga trail run sejauh 12 kilometer yang melintasi kawasan hutan industri milik Universitas Brawijaya. Selama perjalanan, pengunjung tidak hanya menikmati udara segar dan panorama alam, tetapi juga diperkenalkan dengan berbagai jenis tumbuhan, satwa, serta fungsi ekologis hutan.

Kepala UPT Pengelola Kawasan Hutan Universitas Brawijaya, Dr. Mochammad Roviq, S.P., M.P., mengatakan bahwa konsep wisata yang diusung UB Forest memang berbeda dengan destinasi wisata pada umumnya.

Menurutnya, tujuan utama kegiatan di UB Forest bukan sekadar memberikan hiburan, melainkan menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna bagi para pengunjung.

"Jadi bukan wisata yang sekadar bersenang-senang tanpa ada nilai edukasinya. Kami memang mengemasnya sebagai wisata berbasis edukasi karena itulah identitas dan semangat yang dibawa Universitas Brawijaya," ujarnya.

Melalui berbagai aktivitas di alam terbuka, UB Forest berupaya menghadirkan pengalaman yang mampu meningkatkan mindfulness, wellness, harmoniousness, dan connectedness para pengunjung dengan alam.

Konsep tersebut menjadikan UB Forest bukan hanya tempat untuk berolahraga atau berlibur, tetapi juga ruang refleksi yang membantu pengunjung membangun hubungan yang lebih dekat dengan lingkungan sekitar.

Komitmen terhadap pelestarian lingkungan juga menjadi prinsip utama dalam pengelolaan kawasan tersebut. Untuk menjaga kelestarian ekosistem hutan, pengunjung tidak diperbolehkan membawa kendaraan bermotor masuk ke area UB Forest.

Karena itu, seluruh aktivitas wisata dilakukan dengan berjalan kaki melalui jalur-jalur trekking yang telah disiapkan oleh pengelola.

Foto Kepala UPT Pengelola Kawasan Hutan Universitas Brawijaya (UB) Dr. Mochammad Roviq, S.P., M.P., UB Forest menjadi tempat kegiatan healing sekaligus edukasi keanekaragaman hayati. (Foto: Aliyah/Ketik.com)Kepala UPT Pengelola Kawasan Hutan Universitas Brawijaya, Dr. Mochammad Roviq, S.P., M.P., menjelaskan konsep UB Forest sebagai destinasi healing berbasis edukasi yang mengedepankan pembelajaran tentang keanekaragaman hayati dan pelestarian lingkungan. (Foto: Aliyah/Ketik.com)

Roviq menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keasrian kawasan sekaligus meminimalkan gangguan terhadap habitat satwa liar yang hidup di dalam hutan.

Menurutnya, aktivitas seperti off-road memang memberikan sensasi tersendiri bagi sebagian orang, tetapi berpotensi mengganggu ekosistem yang selama ini dijaga oleh Universitas Brawijaya.

Selain trekking dan trail run, UB Forest juga menawarkan berbagai program wisata edukasi lainnya seperti agroforestri kopi, inventarisasi satwa, pengenalan flora dan fauna, hingga wisata nokturnal untuk mengenal kehidupan satwa pada malam hari.

Dengan demikian, setiap kunjungan ke UB Forest diharapkan memberikan pengetahuan baru bagi para peserta, bukan sekadar menjadi aktivitas rekreasi biasa.

Untuk mengikuti kegiatan wisata edukasi tersebut, pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp85.000 untuk masyarakat umum dan Rp75.000 bagi sivitas akademika Universitas Brawijaya.

Biaya tersebut sudah mencakup berbagai fasilitas pendukung seperti makanan ringan, asuransi, parkir kendaraan, hingga voucher belanja senilai Rp10.000 yang dapat digunakan untuk membeli hasil panen masyarakat di sekitar kawasan UB Forest.

Selain itu, pengelola juga menyediakan pos kesehatan yang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya guna memastikan keamanan dan kenyamanan peserta selama mengikuti kegiatan di lapangan.

Pengelolaan wisata di UB Forest juga menerapkan prosedur keamanan yang cukup ketat. Setiap pengunjung diwajibkan mengajukan izin terlebih dahulu sebelum memasuki kawasan hutan.

Kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan menjaga kelestarian kawasan, tetapi juga memastikan keselamatan seluruh peserta selama berada di dalam hutan.

Sebelum kegiatan dimulai, tim lapangan UB Forest terlebih dahulu melakukan pengecekan jalur, memasang penanda pada area yang licin atau berpotensi membahayakan, hingga memastikan seluruh rute aman untuk dilalui peserta dari berbagai kelompok usia.

Petugas juga akan mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung agar seluruh aktivitas dapat berjalan dengan aman dan nyaman.

"Kami memastikan jalur sudah aman sebelum kegiatan dimulai. Ada pengecekan kondisi medan, pemasangan penanda di titik-titik tertentu, baru setelah itu kegiatan dilakukan," jelas Roviq.

Ke depan, UB Forest juga berencana menambah fasilitas berupa glamping dan akses internet bagi para peneliti yang membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan riset di kawasan tersebut.

Fasilitas tersebut diproyeksikan dapat mendukung penelitian jangka panjang mengenai flora dan fauna yang ada di UB Forest, termasuk bagi akademisi yang membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan di lapangan.

Melalui berbagai program tersebut, Universitas Brawijaya berharap UB Forest semakin dikenal bukan hanya sebagai kawasan hutan pendidikan, tetapi juga sebagai destinasi wisata edukasi unggulan yang mampu menghadirkan pengalaman belajar, petualangan, dan pelestarian lingkungan dalam satu kesatuan.

Tombol Google News

Tags:

UB Forest Universitas Brawijaya Kampus Malang Kota Malang Dr. Mochammad Roviq Wisata Hutan Hutan Ub