Menolak Redup, Rujak Cingur Hj. Simpen Sukodono Sidoarjo Tetap Eksis Selama 5 Dekade

2 September 2026 11:33 2 Sep 2026 11:33

Zenyta Eka A., Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Menolak Redup, Rujak Cingur Hj. Simpen Sukodono Sidoarjo Tetap Eksis Selama 5 Dekade

Tampak bagian depan Warung Rujak Cingur Dungus Hj. Simpen di Jalan Raya Dungus, Sukodono, Sidoarjo. Warung yang telah berdiri sejak 1971 tersebut masih melayani pelanggan dan mempertahankan rujak cingur sebagai menu utamanya.

KETIK, SIDOARJO – Suasana Rujak Cingur Hj. Simpen di Jalan Raya Dungus Nomor 22, Sukodono, Sidoarjo, masih cukup ramai saat dikunjungi sekitar pukul 14.00 WIB. Sejumlah pelanggan yang didominasi ibu-ibu dan bapak-bapak terlihat menikmati hidangan di dalam warung. Beberapa pelanggan lainnya datang menggunakan mobil.

Warung legendaris tersebut telah berdiri sejak 1971 dan dirintis oleh Hj. Simpen. Setelah lebih dari lima dekade, usaha kuliner tersebut kini diteruskan oleh generasi kedua. Keberadaan warung yang telah melewati dua generasi itu membuat Rujak Cingur Hj. Simpen tetap bertahan di tengah berkembangnya berbagai pilihan kuliner.

Rujak cingur menjadi menu utama yang ditawarkan dengan harga Rp20.000 per porsi. Selain rujak cingur, warung tersebut juga menyediakan beberapa menu lain, seperti gado-gado dan bakso. Harga yang terjangkau menjadi salah satu alasan warung tersebut masih diminati pelanggan.

Cucu Hj. Simpen yang turut mengelola warung mengatakan, peningkatan jumlah pelanggan justru mulai terlihat ketika usaha tersebut diteruskan oleh generasi kedua. Menurutnya, perkembangan media sosial turut berperan dalam membuat warung tersebut semakin dikenal masyarakat.

Foto Potret Hj. Simpen bersama cucunya di area dapur Rujak Cingur Hj. Simpen, Sukodono, Sidoarjo. Usaha kuliner yang dirintis Hj. Simpen sejak 1971 tersebut kini telah diteruskan hingga generasi kedua.Potret Hj. Simpen bersama cucunya di area dapur Rujak Cingur Hj. Simpen, Sukodono, Sidoarjo. Usaha kuliner yang dirintis Hj. Simpen sejak 1971 tersebut kini telah diteruskan hingga generasi kedua.

“Mungkin ramainya itu mulai dari generasi kedua, sih. Karena dulu kan tidak ada media sosial, kan sekarang itu banyak orang yang kayak bikin di TikTok, di mana gitu, kan,” ujarnya.

Sebelum media sosial berkembang, informasi mengenai Rujak Cingur Hj. Simpen lebih banyak tersebar melalui rekomendasi dari pelanggan. Orang yang pernah berkunjung kemudian menceritakan keberadaan warung tersebut kepada orang lain. Cara promosi dari mulut ke mulut itu berlangsung sejak usaha tersebut pertama kali dirintis.

Kini, perubahan teknologi membuat cara masyarakat mengenal kuliner turut berubah. Konten yang dibuat pelanggan di berbagai platform media sosial dapat memperkenalkan Rujak Cingur Hj. Simpen kepada calon pelanggan yang sebelumnya tidak mengetahui keberadaan warung tersebut. Perubahan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat usaha yang telah berdiri sejak 1971 itu semakin dikenal pada generasi kedua.

Cita rasa menjadi bagian lain yang membuat Rujak Cingur Hj. Simpen tetap diminati. Menurut narasumber, selain promosi yang semakin luas melalui media sosial, rasa bumbu yang enak dan harga yang ramah di kantong menjadi alasan pelanggan datang kembali. Perpaduan tersebut membuat makanan yang telah menjadi bagian dari usaha keluarga selama puluhan tahun tetap memiliki peminat.

Foto Seporsi rujak cingur dengan bumbu petis yang pekat disajikan di Rujak Cingur Hj. Simpen, Jalan Raya Dungus Nomor 22, Sukodono, Sidoarjo. Hidangan tersebut menjadi salah satu menu utama yang ditawarkan dengan harga Rp20.000 per porsi.Seporsi rujak cingur dengan bumbu petis yang pekat disajikan di Rujak Cingur Hj. Simpen, Jalan Raya Dungus Nomor 22, Sukodono, Sidoarjo. Hidangan tersebut menjadi salah satu menu utama yang ditawarkan dengan harga Rp20.000 per porsi.

Saat dicicipi, bumbu petis menjadi rasa yang cukup menonjol dalam seporsi rujak cingur. Rasa petis berpadu dengan berbagai isian dan pelengkap yang disajikan dalam satu porsi. Cingur yang digunakan juga tidak menimbulkan bau yang mengganggu sehingga dapat dinikmati dengan nyaman.

"Petisnya disini enak, pekat dan kental, cingurnya juga tidak bau," ujar Zaini selaku pelanggan.

Dengan harga Rp20.000, seporsi rujak cingur dapat menjadi pilihan bagi pelanggan yang ingin menikmati makanan khas Jawa Timur dengan harga yang relatif terjangkau. Sementara itu, pelanggan yang tidak ingin menyantap rujak cingur dapat memilih menu lain yang tersedia, seperti gado-gado dan bakso.

"Rujak Cingur disini uenak, murah dan ngangenin rasanya, kalau lagi di Sidoarjo wajib masuk list kuliner pokok'e," ujar Rahma, selaku pengunjung.

Bagi usaha yang telah berjalan lebih dari 50 tahun, keberadaan pelanggan menjadi bagian penting dalam mempertahankan warung dari generasi ke generasi. Rujak Cingur Hj. Simpen tidak hanya mengandalkan nama yang telah dikenal sejak lama, tetapi juga mengikuti perubahan cara masyarakat mencari informasi mengenai kuliner.

Peralihan dari promosi melalui rekomendasi langsung menuju media sosial menjadi salah satu perubahan yang dirasakan oleh generasi kedua. Jika sebelumnya pelanggan harus mengetahui warung tersebut dari orang lain, kini informasi mengenai lokasi dan menu dapat ditemukan melalui konten yang dibagikan di internet.

Perjalanan Rujak Cingur Hj. Simpen dari generasi pertama hingga generasi kedua memperlihatkan cara sebuah usaha kuliner tradisional mengikuti perkembangan zaman. Usaha yang dimulai Hj. Simpen pada 1971 tersebut tetap mempertahankan rujak cingur sebagai menu utama, sekaligus membuka pilihan makanan lain bagi pelanggan.

Lebih dari lima dekade setelah pertama kali berdiri, Rujak Cingur Hj. Simpen masih menjadi salah satu pilihan kuliner bagi masyarakat di Sidoarjo. Cita rasa bumbu, harga yang terjangkau, serta promosi melalui berbagai platform di media sosial menjadi bagian dari perjalanan warung tersebut dalam mempertahankan keberadaannya hingga generasi kedua.(*)

Tombol Google News

Tags:

Rujak Cingur Sukodono Rekomendasi Kuliner Sidoarjo Kuliner Viral Sidoarjo

Berita Lainnya oleh Zenyta Eka Apriliana