KETIK, TULUNGAGUNG – Dalam memperingati peristiwa bersejarah Kelabu 27 Juli (Kudatuli), Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung menggelar Dialog Publik bertajuk "Jas Merah Untuk Demokrasi Indonesia" di Bento Kopi, Desa Plosokandang, pada Senin, 27 Juli 2026.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber penting, di antaranya Erma Susanti (Ketua DPC PDI Perjuangan Tulungagung sekaligus Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur), Akhol Firdaus (Dosen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung), serta Heru dan Wiwik yang hadir mewakili jajaran senior DPC PDI Perjuangan Tulungagung.
Acara yang dipandu oleh Fariz Ramdhan selaku moderator ini dipadati oleh perwakilan dari berbagai organisasi mahasiswa se-Kabupaten Tulungagung.
Saat ditemui oleh awak media di sela-sela kegiatan, Ketua DPC PDI Perjuangan Tulungagung, Erma Susanti, menegaskan pentingnya pemahaman sejarah bagi generasi muda saat ini melalui prinsip Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah).
"Bangsa ini menjadi besar karena tahu proses panjang sejarahnya, sehingga bisa merefleksikannya untuk masa depan," ujar Erma.
Erma menjelaskan bahwa peristiwa Kudatuli 27 Juli bukan sekadar konflik internal partai atau dinamika politik pasca-Kongres yang memilih Megawati Soekarnoputri. Lebih dari itu, peristiwa tersebut merupakan tonggak penting demokrasi Indonesia.
Peristiwa serangan yang memakan korban jiwa dan martir pada masa itu menjadi kran pembuka bagi eskalasi gerakan rakyat yang berujung pada era Reformasi.
Erma berpesan agar mahasiswa dan generasi muda tidak disesatkan oleh narasi sejarah yang salah. Sejarah yang keliru akan memproduksi perspektif yang salah dalam memandang masa depan bangsa.
"Untuk mencapai negara demokratis yang kita nikmati hari ini, ada perjuangan panjang dan pengorbanan yang luar biasa. Jangan sampai demokrasi ini semakin defisit. Anak muda harus memperjuangkannya agar bangsa ini tidak kembali ke masa lalu yang represif," tegasnya.
Menjawab pertanyaan media mengenai potensi ancaman terhadap bingkai NKRI dan demokrasi saat ini, Erma menilai kegelisahan tersebut tidak hanya dirasakan oleh dirinya, tetapi juga oleh kalangan mahasiswa dan masyarakat luas.
Erma menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang tengah dihadapi bangsa, seperti:
Tingginya angka korupsi yang menggerogoti program-program strategis, termasuk sektor pendidikan.
Tantangan geopolitik global yang menuntut pengelolaan APBN secara optimal dan akuntabel demi kesejahteraan rakyat. Ancaman ekonomi nyata, seperti tingginya angka pengangguran dan sulitnya iklim berusaha bagi masyarakat.
Ia menekankan pentingnya mempersiapkan generasi muda dalam memanfaatkan momentum bonus demografi.
Pendidikan yang berkualitas dan kesempatan yang setara menjadi kunci agar generasi muda mampu bersaing dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. (*)
