KETIK, SURABAYA – Ikhlas menjadi kata yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan pondok pesantren. Nilai ini tidak sekadar dipahami sebagai konsep, tetapi dijalani dalam aktivitas harian santri. Secara umum, ikhlas dimaknai sebagai ketulusan hati dalam melakukan sesuatu tanpa mengharap imbalan. Lalu, bagaimana santri memaknai ikhlas dalam realitas keseharian mereka?
Dua santri dari Pondok Pesantren Al Jihad Surabaya, Zahratul Fitri dan Rahma Salsabila Al Magfuri, membagikan pandangan mereka tentang arti ikhlas yang mereka jalani.
Zahratul Fitri menilai bahwa ikhlas merupakan fondasi utama, terutama bagi seseorang yang memegang amanah sebagai pemimpin. Tanpa ikhlas, menurutnya, seseorang tidak akan mampu bertahan dalam menjalankan tanggung jawab.
“Ikhlas itu harus ada dalam diri, apalagi kalau menjadi pemimpin. Kalau tidak ada ikhlas, seseorang tidak akan mampu bertahan,” ujarnya, Rabu, 22 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa ikhlas menuntut kesiapan untuk berkorban, baik dari segi waktu, tenaga, maupun materi. Selain itu, seseorang juga harus siap menghadapi berbagai respon, mulai dari kritik hingga cibiran.
“Ikhlas itu menerima pengorbanan, baik waktu, tenaga, maupun materi. Juga harus siap menerima kritik, masukan, bahkan hal-hal yang tidak menyenangkan, dengan hati yang lapang,” lanjutnya.
Menurutnya, ikhlas bukan sesuatu yang instan. Nilai tersebut terbentuk dari proses panjang dan latihan sejak awal melalui berbagai ujian kehidupan.
“Ikhlas tidak bisa dibeli, tetapi bisa dilatih sejak awal. Orang yang terbiasa menghadapi cobaan kecil akan lebih siap menghadapi cobaan besar,” katanya.
Ia juga mengaitkan ikhlas dengan barakah dari guru. Tanpa ikhlas, segala pekerjaan akan terasa berat, sedangkan dengan ikhlas, proses yang dijalani terasa lebih ringan dan bermakna.
Sementara itu, Rahmah Salsabila Al Maghfuri memandang ikhlas sebagai proses batin yang tidak selalu mudah. Ia mengakui bahwa dalam praktiknya, niat lillahi ta’ala sering kali bercampur dengan dorongan lain yang bersifat manusiawi.
“Pada dasarnya, melakukan sesuatu itu karena lillahi ta’ala. Namun, dalam kenyataannya, hati kadang masih disertai keinginan lain,” ungkapnya.
Ia mencontohkan adanya dorongan untuk diakui atau merasa paling bertanggung jawab. Meski demikian, hal tersebut dinilainya sebagai bagian wajar dalam proses belajar ikhlas.
“Kadang muncul keinginan seperti ingin dianggap baik atau merasa ‘kalau bukan kita, siapa lagi’. Itu hal yang wajar dalam proses,” tambahnya.
Menurutnya, seiring waktu, niat tersebut dapat berubah menjadi lebih tulus jika terus dilatih dan dibiasakan. Ikhlas membutuhkan kesadaran diri serta kemampuan mengendalikan hati.
“Ikhlas harus dilatih dari hati. Perlu membiasakan diri dan mengendalikan perasaan agar tidak mudah terbebani,” jelasnya.
Ia juga mengaitkan ikhlas dengan datangnya barakah, terutama ketika menjalankan tugas yang awalnya terasa berat, tetapi kemudian menjadi lebih ringan dan terselesaikan dengan baik.
“Sering kali, hal yang awalnya terasa berat justru menjadi ringan. Mungkin di situlah letak barakah dari apa yang kita lakukan,” katanya.
Ia mengutip ungkapan yang akrab di lingkungan pesantren, “al-‘ilmu bit ta‘allum wal barokatu bil khidmah”, yang berarti ilmu diperoleh dengan belajar, sedangkan barakah hadir melalui pengabdian.
Dari kedua pandangan tersebut, ikhlas di lingkungan pondok pesantren tidak hanya dimaknai sebagai ketulusan semata, tetapi juga sebagai proses panjang yang melibatkan pengorbanan, latihan batin, serta keterkaitan erat dengan barakah dalam menjalani kehidupan. (*)
