KETIK, MALANG – Penemuan empat spesies baru kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu di kawasan UB Forest menjadi momentum penting bagi pengelola untuk memperkuat fungsi kawasan tersebut sebagai laboratorium alam, pusat penelitian, sekaligus kawasan konservasi berbasis keanekaragaman hayati.
Pengelola UB Forest menyiapkan sejumlah langkah strategis pasca penemuan tersebut, mulai dari penguatan ekosistem hutan, penambahan sumber pakan satwa liar, hingga peningkatan fasilitas penelitian guna menarik lebih banyak peneliti nasional maupun internasional.
Kepala UPT Pengelola Kawasan Hutan Universitas Brawijaya, Dr. Mochammad Roviq, S.P., M.P., mengatakan bahwa keberadaan spesies baru menjadi indikator penting bahwa kondisi ekologis UB Forest masih terjaga dengan baik.
"Kalau ada spesies baru yang ditemukan, itu berarti UB Forest secara alamiah masih lestari. Ini menjadi bukti bahwa kawasan ini memiliki nilai ekologis yang tinggi sekaligus penting untuk terus dijaga," ujarnya.
Menurut Roviq, salah satu langkah yang akan dilakukan pengelola adalah memperkuat habitat alami di kawasan hutan lindung melalui penanaman 23 spesies tanaman ficus atau keluarga beringin yang menghasilkan buah. Tanaman tersebut dipilih karena mampu menyediakan sumber pakan alami bagi berbagai satwa liar, terutama mamalia dan burung.
Keberadaan tanaman tersebut diharapkan dapat menciptakan kawasan penyangga atau buffer zone yang mampu menahan satwa agar tidak turun ke area agroforestri dan lahan pertanian masyarakat.
"Seluruh spesies ficus yang akan kami tanam merupakan tanaman berbuah. Harapannya, satwa akan memiliki sumber makanan yang cukup di dalam kawasan hutan sehingga tidak perlu keluar menuju area pertanian atau perkebunan," jelasnya.
Pengelola menilai ketersediaan sumber pakan alami akan menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus meningkatkan biodiversitas di kawasan hutan seluas lebih dari 50 hektare tersebut.
Selain penguatan ekosistem, UB Forest juga mendorong keberlanjutan riset terhadap empat spesies kumbang yang baru ditemukan oleh Prof. Dr. Agr. Sc. Hagus Tarno, S.P., M.P., bersama tim peneliti dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya.
Penelitian lanjutan diharapkan tidak hanya berhenti pada proses identifikasi dan klasifikasi spesies baru, tetapi juga mampu mengungkap peran ekologis masing-masing spesies terhadap kesehatan hutan dan keseimbangan rantai makanan.
"Kami berharap penelitian berikutnya dapat menjelaskan manfaat spesies tersebut terhadap ekosistem hutan, termasuk kemungkinan perannya dalam menjaga keberlangsungan biodiversitas di UB Forest," kata Roviq.
Lebih jauh, penemuan empat spesies baru tersebut diproyeksikan menjadi daya tarik baru bagi para peneliti untuk menjadikan UB Forest sebagai lokasi penelitian berbagai bidang ilmu, mulai dari entomologi, kehutanan, ekologi, hingga konservasi satwa liar.
Mahasiswa Universitas Brawijaya melakukan kegiatan sampling biomassa di kawasan UB Forest sebagai bagian dari penelitian dan pengukuran potensi karbon serta kondisi ekosistem hutan. (Foto: UB Forest)
Sebagai kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK), UB Forest memang diproyeksikan untuk mendukung pendidikan, pelatihan, penelitian, serta pengembangan ilmu pengetahuan.
"Temuan ini menunjukkan bahwa masih banyak potensi biodiversitas yang belum terungkap di UB Forest. Kami berharap semakin banyak peneliti yang datang dan melakukan penelitian di sini," ujarnya.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, pengelola juga menyiapkan pengembangan fasilitas penelitian berupa penginapan glamping berstandar internasional yang dapat dimanfaatkan peneliti selama melakukan kegiatan riset lapangan.
Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya tarik UB Forest di mata peneliti asing sekaligus memperkuat posisinya sebagai laboratorium alam milik Universitas Brawijaya yang berkelas internasional.
Dengan berbagai langkah tersebut, penemuan empat spesies baru kumbang ambrosia dan kulit kayu tidak hanya menjadi pencapaian ilmiah semata, tetapi juga menjadi titik awal penguatan fungsi UB Forest sebagai pusat riset biodiversitas dan konservasi hutan tropis di Indonesia.
.png)