KETIK, MALANG – Peneliti masyarakat Tengger, Dr. Purnawan Dwikora Negara, menilai masyarakat Tengger mengalami dilema identitas keagamaan akibat kebijakan pemerintah pada masa lalu.
Berdasarkan penelitiannya selama lebih dari tiga dekade, ia menyebut kepercayaan asli masyarakat Tengger sejatinya adalah Budo Jowo Sanyoto. Kepercayaan ini berfokus pada penghormatan alam melalui Sanggar Pamujan, siklus pertanian, dan tradisi Yadnya Kasada.
"Tengger itu lebih kepada Hindu Kuno, bukan Hindu Bali, beda, itu Hindu Kuno. Hindu awal-awal masuk Nusantara itu. Dia bukan Hindu Bali, Hindu Kuno," kata Purnawan saat berbagi pengalamannya meneliti masyarakat Tengger beberapa waktu lalu.
Ia mengatakan, persoalan itu bermula pada 1976 ketika pemerintah hanya mengakui lima agama. Sementara itu, masyarakat Tengger telah menganut Budo Jowo Sanyoto sejak lama. Namun kepercayaan tersebut tidak termasuk lima agama yang diakui negara.
“Apa akibatnya? Ketika negara hanya mengakui lima agama, orang Tengger tersingkir. KTP kosong berarti. Dia Islam bukan, Kristen bukan, Katolik bukan, Hindu bukan, Buddha juga bukan,” lanjutnya
Menurutnya, Kondisi ini semakin sulit pasca peristiwa 1965 karena kawasan Tengger yang dikelilingi wilayah Tapal Kuda. Pada masa itu, warga yang mengosongkan kolom agama di KTP berisiko dicurigai tidak beragama atau dikaitkan dengan PKI. Akhirnya mereka mencantumkan agama Hindu karena paling dekat dengan mereka.
“Akhirnya dia mencantumkan agama yang dekat dengan dia. Apa? Hindu. Dimasukkanlah agama Hindu di KTP mereka supaya mereka dianggap memiliki agama sebagaimana ketentuan pemerintah. Nah, tapi sebetulnya bukan Hindu Bali, tapi Hindu Kuno,” ujarnya.
Meskipun begitu, setelah mereka tercatat sebagai penganut Hindu, pemerintah kemudian mengirim sejumlah tokoh pemuda Tengger untuk mempelajari praktik keagamaan di Bali. Menurutnya, dari proses tersebut mulai muncul pura dan pelinggih di kawasan Tengger. Padahal sebelumnya, hal tersebut tidak dikenal dalam tradisi masyarakat Tengger.
“Akhirnya di sana ada dua... dua dikotomi, namanya Pak Dukun dan Pak Mangku. Mangku untuk upacara-upacara agama Hindu Bali, Pak Dukun untuk agama Budo Jowo mereka,” imbuhnya.
Selain itu, Purnawan juga menyoroti pembangunan vihara di kawasan Tengger. Menurutnya, hal tersebut dipengaruhi anggapan bahwa istilah “Budo” dalam kepercayaan masyarakat Tengger merujuk pada ajaran Buddha.
"Jadi kalau kamu ke sana lihat ada pura di tengah lautan pasir, itu kekeliruan sebetulnya. Kalau kamu ke sana lihat pelinggih Padmasana di depan rumah-rumah, itu kekeliruan. Tapi mereka diam saja, mengakomodir, mengakomodir karena mereka punya janji setia kepada Guru Pemerintah namanya. Dia tidak akan melawan," jelasnya.
Menurut Purnawan, persoalan masyarakat Tengger tidak hanya soal agama. Ia menilai pembangunan jalan dan berkembangnya pariwisata juga mengubah kehidupan sosial masyarakat. Menurutnya, pembangunan tersebut belum sepenuhnya memperhatikan nilai gotong royong dan kebersamaan yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Tengger.
“Tengger kelihatannya cantik secara pariwisata, tetapi secara konstitusional mereka tersiksa,” tuturnya.(*)
