Mengungkap Sejarah Hari Santri Nasional 22 Oktober, Jejak Perjuangan Ulama dan Santri

22 Oktober 2026 16:23 22 Okt 2026 16:23

Devi Permatasari, Aziz Mahrizal

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Mengungkap Sejarah Hari Santri Nasional 22 Oktober, Jejak Perjuangan Ulama dan Santri

Foto Hasil AI Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama santriwan santriwati ( Foto : Biro Adpim Setdaprov Jatim)

KETIK, SURABAYA – Setiap 22 Oktober, Indonesia memperingati Hari Santri Nasional sebagai bentuk penghargaan terhadap peran ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan bangsa. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan juga momentum untuk mengenang kontribusi kalangan pesantren dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional berawal dari usulan kalangan pesantren yang menginginkan adanya pengakuan terhadap peran santri dalam perjuangan kemerdekaan. Setelah melalui berbagai pembahasan, Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015.

Pemilihan tanggal 22 Oktober bukan tanpa alasan, tanggal tersebut merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh para ulama pada 22 Oktober 1945. Seruan ini menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa, terutama ketika Indonesia menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Lantas, bagaimana Resolusi Jihad bermula?

Menjelang akhir Oktober 1945, situasi di Indonesia semakin memanas seiring meningkatnya ketegangan antara para pejuang Indonesia dan pasukan Sekutu yang datang ke Surabaya. Kondisi tersebut mendorong para ulama untuk membahas langkah yang perlu diambil guna mempertahankan kemerdekaan.

Pada 21–22 Oktober 1945, para ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) menggelar pertemuan di Surabaya. Pertemuan tersebut dipelopori oleh KH Hasyim Asy'ari bersama sejumlah ulama, di antaranya KH Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri. Musyawarah itu kemudian melahirkan Resolusi Jihad yang menyerukan kewajiban umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan.

Seruan tersebut turut membangkitkan semangat perjuangan masyarakat, termasuk kalangan santri, dalam menghadapi pasukan sekutu. Semangat perlawanan itu menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang mengantarkan pada Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya melibatkan satu tokoh atau kelompok. Sejumlah ulama dan tokoh dari berbagai organisasi turut memberikan kontribusi melalui perjuangan, pendidikan, dan penguatan semangat kebangsaan. Di antaranya adalah KH Hasyim Asy'ari dari Nahdlatul Ulama dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Kalangan santri juga berkontribusi dalam perjuangan bersenjata, termasuk di antara mereka yang terlibat dalam berbagai kelompok perjuangan pada masa revolusi.

Peringatan Hari Santri pun menjadi kesempatan untuk mengenang sejarah sekaligus merefleksikan peran santri dalam kehidupan bangsa. Di tengah perubahan zaman, semangat belajar, menjaga persatuan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat menjadi bagian dari perjuangan yang dapat terus dilanjutkan. (*)

Tombol Google News

Tags:

Hari Santri 2026 Gubernur Jawa Timur Resolusi Jihad Hari Santri Nasional Hari Santri santri