KETIK, SURABAYA – Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia merayakan Hari Kartini untuk menghormati pahlawan perempuan, Raden Ajeng Kartini. Hari peringatan itu bukan sekadar perayaan biasa.
Peringatan ini adalah pengingat sekaligus simbol perjuangannya menuntut hak dan kesempatan, agar kaum perempuan bisa memberikan pengaruh nyata di era modern.
Kartini adalah tokoh perempuan yang hidup pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ia memimpin perjuangan untuk memberikan hak pendidikan dan kebebasan bagi kaum perempuan.
Dasar pemikirannya mengenai kesetaraan, hak untuk mandiri, dan kewajiban mendapatkan pendidikan telah menjadi landasan kemajuan sosial serta ekonomi bagi perempuan Indonesia saat ini.
Foto R.A Kartini Mengajar di pendopo, Jepara (Foto: Facebook).
Melalui momen ini, kita diajak merenungkan bagaimana nilai-nilai yang dipelopori Kartini tetap hidup dan tidak lekang oleh perubahan zaman.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, hambatan bagi perempuan ternyata masih ada. Perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan masih harus diatasi dengan melihat kenyataan di lapangan.
Fakta membuktikan bahwa jumlah perempuan yang menempati posisi strategis atau penentu keputusan di dunia kerja masih tertinggal dibandingkan laki-laki.
Ilustrasi suasana memperingati hari Emansipasi Wanita (Foto: AI Gemini).
Selain itu, tantangan nyata saat ini adalah memastikan perempuan berani bersuara di ruang publik. Perempuan harus memiliki akses yang sama untuk berkarya, menyusun cerita, menyebarkan informasi yang benar, dan menjadi penggerak di industri kreatif maupun penyiaran yang mencerdaskan masyarakat luas.
Oleh karena itu, Hari Kartini harus menjadi pendorong tindakan nyata. Perempuan masa kini dituntut untuk berani mengambil peran penting, meruntuhkan batasan yang mengekang, dan menjadi pembawa perubahan positif demi mencapai keadilan bagi semua pihak. (*)
