Berjuang dari Nol, Ini Kisah Ibnu Riyanto Sebelum Jadi Pengusaha Batik Sukses

2 Oktober 2026 14:40 2 Okt 2026 14:40

Agitha Putri I. R., Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Berjuang dari Nol, Ini Kisah Ibnu Riyanto Sebelum Jadi Pengusaha Batik Sukses

Pengusaha Batik Trusmi di Cirebon yang kini dikenal luas di kalangan masyarakat Indonesia. (@ibnutrusmigrup)

KETIK, CIREBON – Setiap 2 Oktober, Indonesia memperingati hari batik untuk mengenang sekaligus menjadi momentum melestarikan batik sebagai warisan budaya. Di tengah perkembangan tersebut, sejumlah pengusaha menjadikan batik sebagai bagian dari perjalanan bisnisnya. Salah satunya, Ibnu Riyanto yang memiliki kisah menarik bersama sang istri. 

Ibnu Riyanto merupakan pengusaha yang mendirikan Trusmi Grup bersama sang istri. Dirinya melakukan berbagai upaya untuk membuat batik lebih dekat dengan masyarakat. Perjalanannya tidak mudah, berbagai lika-liku dihadapi sampai kini usaha batiknya dikenal luas di tanah air.

Kisah itu dimulai ketika Ibnu nekat menikahi sang Istri Sally Giovanni di saat umur keduanya masih 17 tahun dan belum memiliki pekerjaan. Sehingga setelah menikah, Ibnu memulai usaha dengan menjadi pemasok kain mori di Desa Trusmi, Cirebon, kampungnya. Dengan modal yang tidak sedikit, Ibnu mulai menawarkan pada pengrajin batik di desa tersebut.

Kemudian, setelah melihat Pasar Tanah Abang yang menjadi tujuan utamanya, Ibnu mulai melihat proses pengerjaan batik. Melihat itu, pikirannya berubah dari sekadar pemasok menjadi pengrajin batik. Awal usaha, dirinya hanya menjualkan kain batik lewat ruang tamu rumah orangtuanya yang hanya berukuran 4x4. Usaha tersebut terus berkembang hingga dirinya bersama sang istri bisa mendirikan usaha batik sendiri. 

Keteguhan tersebut membawa mereka sampai batik miliknya dikenal masyarakat luas. Salah satu pencapaiannya adalah mendapatkan rekor MURI pada 25 Maret 2013 sebagai pemilik usaha batik terbesar dan terluas pada usia muda, ketika usianya sekitar 23 tahun.

Untuk menjangkau generasi yang lebih muda, Ibnu meluncurkan produk yang bisa dipakai sehari-hari seperti kaos, jaket dan hoodie yang bermotif batik. Tidak berhenti sampai situ, strategi tersebut berlanjut dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk mengajak anak-anak muda bekerja sama dengan mengenalkan produk batiknya hingga mengajaknya untuk membatik bersama.

Dikuti dari Instagram @ibnutrusmigrup, Ibnu mengajak Azka, seorang mahasiswa Oxford yang juga merupakan finalis ke-12 Clash of Champions untuk membatik bersama di Batik Trusmi. Langkahnya mengajak Azka membuat usahanya semakin dikenal banyak kalangan muda karena di beberapa waktu terakhir, Azka sering menjadi perbincangan pada dunia pendidikan yang mengikuti program Clash of Champions.

Berawal dari pemasok kain mori hingga jadi pengusaha batik sukses, Ibnu kembali membangun usaha Rumah Ningrat dengan penjualan lebih murah bagi masyarakat yang ingin memiliki rumah pertama yang layak. Perjalanan yang tidak mudah dan penuh lika-liku itu membawa Ibnu dan Sally menjadi pengusaha muda yang sukses dan dikenal banyak orang. (*)

Tombol Google News

Tags:

Ibnu Riyanto Pengusaha Batik Hari Batik Nasional