KETIK, BOGOR – Slow jogging semakin populer sebagai pilihan olahraga yang ringan, mudah dilakukan, dan cocok bagi hampir semua kelompok usia. Di balik gerakannya yang santai, aktivitas fisik ini ternyata menawarkan berbagai manfaat kesehatan yang didukung bukti ilmiah, mulai dari meningkatkan kebugaran hingga menjaga kesehatan jantung.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Putri Utami, MBiomed, menjelaskan bahwa slow jogging dilakukan dengan kecepatan santai atau niko-niko pace, yakni sekitar 50 persen dari kapasitas aerobik maksimal. Pada intensitas tersebut, denyut jantung umumnya berada di kisaran 110–140 kali per menit.
Menurutnya, intensitas tersebut merupakan zona yang efektif untuk meningkatkan fungsi sistem kardiovaskular sekaligus memperbaiki metabolisme tubuh tanpa memberikan tekanan fisik yang berlebihan.
"Pada intensitas tersebut, tubuh lebih banyak memanfaatkan lemak sebagai sumber energi dibandingkan glikogen otot. Selain membantu mengurangi lemak tubuh, latihan ini juga merangsang pembentukan mitokondria dan pembuluh darah kapiler baru yang utama untuk meningkatkan daya tahan tubuh dalam jangka panjang," ujarnya.
Ia menjelaskan, meskipun jumlah kalori yang terbakar setiap menit lebih rendah dibandingkan jogging dengan kecepatan tinggi, adaptasi fisiologis yang dihasilkan dalam jangka panjang hampir setara. Karena itu, slow jogging tetap menjadi pilihan olahraga yang efektif bagi masyarakat yang ingin meningkatkan kebugaran tanpa harus memaksakan kemampuan tubuh.
Putri menilai keberhasilan program olahraga tidak hanya ditentukan oleh seberapa berat intensitas latihannya, melainkan oleh konsistensi seseorang dalam menjalankannya. Aktivitas fisik dengan intensitas ringan hingga sedang cenderung lebih mudah dipertahankan karena tidak menyebabkan rasa pegal berlebihan setelah berolahraga.
"Olahraga terbaik bukanlah yang paling berat, tetapi yang paling konsisten dilakukan. Saat tubuh tidak mengalami rasa pegal yang mengganggu aktivitas sehari-hari, motivasi untuk kembali berolahraga akan jauh lebih tinggi," tuturnya.
Selain membantu menjaga kesehatan jantung, slow jogging juga berkontribusi dalam meningkatkan daya tahan tubuh melalui pembentukan mitokondria baru yang berperan menghasilkan energi bagi sel. Tubuh juga membentuk lebih banyak pembuluh darah kapiler sehingga distribusi oksigen ke jaringan menjadi semakin optimal.
Dengan manfaat tersebut, slow jogging dinilai layak menjadi alternatif olahraga harian bagi masyarakat yang ingin meningkatkan kebugaran secara bertahap tanpa risiko kelelahan berlebihan.
Meski demikian, manfaat slow jogging tidak hanya berkaitan dengan pembakaran lemak dan kesehatan jantung. Teknik berlari yang digunakan juga berperan penting dalam menekan risiko cedera sehingga olahraga ini cocok bagi pemula maupun lanjut usia.
Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan slow jogging juga memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental. Aktivitas fisik berintensitas ringan mampu merangsang pelepasan hormon yang membantu memperbaiki suasana hati dan membuat olahraga lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang. (*)
