KETIK, JAKARTA – Pencegahan demensia perlu dimulai jauh sebelum seseorang memasuki usia lanjut. Pengendalian faktor risiko sejak dini, termasuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah, menjadi salah satu upaya yang perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko gangguan yang memengaruhi daya ingat dan kemampuan berpikir tersebut.
Dosen Keperawatan Jiwa dan Komunitas Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. Sri Mulyani, S.Kep., Ns., M.Ng., mengacu pada penelitian yang menunjukkan bahwa penanganan faktor risiko berpotensi mencegah hingga 40 persen kasus demensia.
“Jadi, ternyata kasus demensia itu berdasarkan penelitian bisa dicegah hingga 40 persen jika sejak awal, early life, sudah melakukan pencegahan-pencegahan,” tuturnya.
Sri menjelaskan bahwa hipertensi dan diabetes perlu dikendalikan karena berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular yang dapat berkontribusi terhadap demensia. Upaya menjaga kesehatan juga perlu dibangun sejak masa kanak-kanak, termasuk dengan memperhatikan kebiasaan konsumsi sehari-hari.
Masyarakat perlu membatasi konsumsi makanan cepat saji serta makanan dan minuman tinggi gula dan kalori yang dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular. Edukasi sejak dini diharapkan membantu masyarakat memahami hubungan antara kebiasaan hidup, kesehatan jantung, dan kesehatan otak.
“Jadi, apa yang bagus untuk jantung juga bagus untuk perlindungan otak,” katanya.
Pencegahan faktor risiko menjadi salah satu bagian dari upaya menghadapi peningkatan kebutuhan penanganan demensia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 55,2 juta orang di dunia hidup dengan berbagai tipe demensia pada 2019. Jumlah tersebut diproyeksikan mencapai 139 juta orang pada 2050 seiring pertumbuhan penduduk dan penuaan populasi.
Di Indonesia, Alzheimer Indonesia memperkirakan jumlah penderita sindrom demensia mencapai 1,2 juta orang pada 2016 dan dapat meningkat menjadi 4 juta orang pada 2050. Proyeksi tersebut menunjukkan pentingnya upaya pencegahan yang berjalan beriringan dengan kesiapan layanan kesehatan.
Data dan Layanan Demensia Indonesia Perlu Diperkuat
Sri menilai Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memperoleh gambaran menyeluruh mengenai jumlah penderita demensia. Sejumlah penelitian telah dilakukan, tetapi cakupannya belum cukup untuk menggambarkan kondisi nasional secara utuh. Hasil skrining juga tidak dapat disamakan dengan diagnosis.
“Angka demensia di Indonesia itu belum ada data yang jelas. Yang ada itu penelitian yang skalanya tidak terlalu besar dan juga hasil-hasil screening, di mana screening itu berbeda dengan diagnosis,” ungkapnya.
Indonesia telah memiliki National Dementia Plan sejak 2016. Namun, menurut Sri, pelaksanaannya masih perlu dioptimalkan. Edukasi masyarakat perlu disertai informasi mengenai tempat pemeriksaan, mekanisme rujukan, dan layanan yang dibutuhkan oleh orang dengan demensia (ODD).
Sri membandingkan kondisi tersebut dengan Singapura yang telah menjalankan upaya pencegahan secara intensif. Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat edukasi, deteksi dini, dan layanan keperawatan komunitas untuk menghadapi kebutuhan perawatan demensia, baik saat ini maupun pada masa mendatang.
Penguatan layanan tersebut juga penting karena demensia dapat berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun sebelum penderita membutuhkan pendampingan dan pengawasan selama 24 jam. Oleh karena itu, kesiapan layanan perlu berjalan beriringan dengan dukungan keluarga dalam merencanakan perawatan jangka panjang.
Selain memperkuat pencegahan dan layanan, masyarakat juga perlu mengenali gejala demensia sejak dini. Perubahan perilaku yang tidak biasa, misalnya, perlu mendapat perhatian agar keluarga dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan tidak langsung menganggapnya sebagai pikun biasa. (*)
