KETIK, YOGYAKARTA – Kebiasaan scrolling media sosial sering dituding sebagai penyebab menurunnya kesehatan otak. Namun, persoalan utamanya ternyata bukan aktivitas scrolling itu sendiri, melainkan kebiasaan duduk terlalu lama yang menyertainya. Kondisi tersebut dapat mengganggu aliran darah dan pasokan oksigen menuju otak apabila berlangsung terus-menerus.
Dosen Fisiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, menjelaskan otak merupakan organ yang sangat bergantung pada pasokan oksigen. Sekitar 20 persen kebutuhan oksigen tubuh digunakan untuk menjaga fungsi otak tetap bekerja secara optimal.
"Otak manusia membutuhkan sekitar 20 persen dari seluruh oksigen yang digunakan tubuh. Oleh karena itu, kata kunci pertama untuk menjaga kesehatan otak adalah oksigen," ujarnya, seperti dikutip dari laman resmi UGM, Jumat, 17 Juli 2026.
Menurut Zaenal, manusia sebagai makhluk bipedal menghadapi pengaruh gravitasi yang membuat distribusi darah di dalam tubuh tidak selalu seimbang. Saat seseorang berdiri terlalu cepat setelah berbaring, aliran darah menuju otak dapat menurun drastis sehingga tubuh memerlukan waktu untuk melakukan penyesuaian.
Karena itu, ia menyarankan masyarakat tidak terburu-buru berdiri setelah bangun tidur. Langkah yang lebih aman ialah memulai dengan berbaring miring selama sekitar 30 detik, kemudian duduk sambil berdoa selama 30 detik sebelum berdiri perlahan. Setelah berdiri, gerakan jinjit sekitar delapan kali dapat membantu memompa darah kembali ke arah otak.
Zaenal menegaskan ancaman yang lebih besar justru berasal dari kebiasaan duduk dalam waktu lama. Posisi tersebut membuat darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat pengaruh gravitasi sehingga suplai darah menuju otak menjadi kurang optimal.
"Masalah utamanya bukan semata-mata aktivitas scrolling, tetapi karena posisi duduk yang terlalu lama membuat darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat gravitasi," jelasnya.
Untuk mengurangi risiko tersebut, ia menganjurkan masyarakat tidak duduk lebih dari satu jam tanpa jeda. Setelah itu, seseorang sebaiknya berdiri, berjalan kaki, atau melakukan peregangan ringan selama sekitar dua menit sebelum kembali bekerja atau menggunakan gawai.
Menurut Zaenal, hasil penelitiannya melalui orthostatic test menunjukkan kemampuan tubuh beradaptasi terhadap perubahan posisi sangat dipengaruhi oleh kondisi jantung, paru-paru, serta sistem sirkulasi darah. Ketiga komponen tersebut menjadi fondasi utama agar suplai oksigen ke otak tetap terjaga.
"Jika sistem dasar ini bekerja dengan baik, maka fungsi otak juga akan optimal. Sebaliknya, bila dasar ini terganggu, maka otak pun akan mengalami gangguan," katanya.
Ia menambahkan bahwa menjaga kesehatan otak tidak cukup hanya dengan mengurangi durasi duduk. Aktivitas fisik yang dilakukan secara benar juga berperan penting dalam memperlancar sirkulasi darah sekaligus meningkatkan kebugaran tubuh.
Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa olahraga bukan sekadar bergerak, tetapi harus dilakukan dengan jenis, intensitas, dan durasi yang tepat agar benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan otak. Konsep tersebut menjadi bagian dari pendekatan Exercise is Medicine, yang menempatkan olahraga sebagai salah satu terapi untuk menjaga fungsi tubuh secara optimal. (*)
.png)