AKI Indonesia Masih Relatif Tinggi, Pakar Soroti Tantangan Menuju Target SDGs 2030

21 Juni 2026 14:56 21 Jun 2026 14:56

Thumbnail AKI Indonesia Masih Relatif Tinggi, Pakar Soroti Tantangan Menuju Target SDGs 2030

Ilustrasi ibu hamil. (Desain: Dina Elwarda/Ketik.com)

KETIK, SLEMAN – Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia tergolong masih relatif tinggi dan menjadi salah satu tantangan besar dalam sektor kesehatan nasional. Meski menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, capaian terbaru masih belum mampu memenuhi target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.

Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, AKI Indonesia tercatat sebesar 144 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih jauh dari target global SDGs yang menargetkan penurunan AKI hingga 70 per 100.000 kelahiran hidup pada 2030.

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, Dr. dr. Eugenius Phyowai Ganap, M.Kes., Sp.O.G., Subsp.Obginsos, menilai capaian tersebut patut diapresiasi, tetapi tidak boleh membuat pemerintah lengah.

Ia menegaskan bahwa penurunan AKI memang sudah terjadi, namun laju penurunannya masih belum cukup cepat untuk mengejar target SDGs dalam lima tahun ke depan.

“Artinya, dalam lima tahun ke depan kita masih memiliki pekerjaan besar untuk mencapai target tersebut,” ujarnya, Minggu, 21 Juni 2026.

Phyowai menjelaskan bahwa tingginya AKI tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor sistemik dalam layanan kesehatan. Ketersediaan tenaga medis saja tidak cukup jika tidak didukung oleh sarana, prasarana, dan sistem pelayanan yang kuat.

Ia menekankan perlunya sistem kesehatan yang mampu merespons kondisi kegawatdaruratan ibu secara cepat dan terintegrasi.

“Kita membutuhkan sistem kesehatan yang resilien. SDM yang baik tidak akan optimal apabila sarana-prasarana tidak memadai atau sistem rujukan tidak berjalan dengan baik. Selain itu, kemampuan deteksi dini juga menjadi faktor yang sangat penting,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah juga didorong untuk memperkuat distribusi tenaga kesehatan, termasuk dokter spesialis obstetri dan ginekologi, agar layanan kesehatan ibu merata di seluruh daerah.

Phyowai menilai mekanisme pengawasan dan insentif bagi tenaga kesehatan perlu diperkuat agar penugasan di daerah dapat berjalan optimal.

Ia juga menekankan bahwa penguatan sistem rujukan dan pemerataan layanan kesehatan menjadi kunci dalam menurunkan AKI secara signifikan.

Ke depan, ia berharap penguatan sistem kesehatan nasional dapat mempercepat pencapaian target SDGs 2030, khususnya dalam menekan angka kematian ibu di Indonesia.

Tombol Google News

Tags:

Aki Indonesia Angka Kematian Ibu Sdgs 2030 Kesehatan Ibu Sistem Kesehatan Indonesia