KETIK, PALEMBANG – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Selatan memusnahkan puluhan kilogram narkotika hasil pengungkapan jaringan narkoba internasional dengan rute Malaysia–Palembang–PALI.
Sebanyak 45,5 kilogram sabu dan 9.439 butir ekstasi dimusnahkan di halaman Kantor BNNP Sumsel, Kamis 17 September 2026.
Pemusnahan dipimpin Kepala BNNP Sumsel Brigjen Pol Hisar Siallagan bersama Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru.
Sebelum dimusnahkan, seluruh barang bukti terlebih dahulu diperiksa tim Bidlabfor untuk memastikan kesesuaian dan keamanannya.
Sabu dan ekstasi kemudian dihancurkan menggunakan alat khusus dengan cara diblender hingga tidak dapat disalahgunakan kembali.
Sementara itu, 140 cartridge etomidate dimusnahkan dengan cara dihancurkan menggunakan alat.
Barang bukti puluhan kilogram narkotika hasil pengungkapan jaringan narkoba di halaman Kantor BNNP Sumsel, Kamis 17 September 2026. (Foto : Yola/Ketik.com)
Kepala BNNP Sumsel Brigjen Pol Hisar Siallagan mengatakan, persoalan penyalahgunaan narkoba di Sumatera Selatan masih menjadi perhatian serius.
"Ini menjadi persoalan yang sangat serius dan juga merupakan isu nasional. Kita berharap dengan berbagai upaya pemberantasan yang terus dilakukan, angka penyalahgunaan narkoba di Sumatera Selatan bisa kita tekan," ujar Hisar.
Hisar mengungkapkan, berdasarkan survei sekitar enam tahun lalu yang disampaikannya, Sumatera Selatan berada di posisi kedua secara nasional terkait jumlah penyalahguna atau pecandu narkoba setelah Sumatera Utara.
"Dari sekitar sembilan juta penduduk Sumatera Selatan, berdasarkan data survei yang kita punya, ada sekitar 450 ribu orang yang merupakan pecandu narkoba," katanya.
Besarnya jumlah tersebut, menurut Hisar, menjadi pasar yang sangat besar bagi sindikat narkoba untuk menjalankan bisnis ilegalnya.
"Ini menjadi pasar yang sangat besar dan sangat menarik bagi sindikat narkoba untuk menjalankan bisnis ilegalnya," ungkapnya.
Karena itu, BNNP Sumsel terus mengembangkan pengungkapan kasus dengan membidik jaringan peredaran narkoba, bukan hanya mengejar jumlah barang bukti.
"Dalam setiap pengungkapan, kita tidak menjadikan jumlah barang bukti sebagai target utama. Yang paling penting adalah bagaimana kita membongkar jaringan dan memastikan para pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum," tegas Hisar.
Ia menjelaskan, pada 2025 BNNP Sumsel mengamankan sekitar 29 kilogram sabu dan 20 butir ekstasi dengan dukungan anggaran bidang pemberantasan sekitar Rp2 miliar.
Sementara pada 2026, jumlah sabu yang berhasil diungkap meningkat menjadi sekitar 65 kilogram, meski anggaran bidang pemberantasan hanya sekitar Rp200 juta.
"Keterbatasan anggaran akibat efisiensi tidak menyurutkan semangat kami dalam memberantas peredaran narkoba," tegasnya.
Menurut Hisar, keberhasilan pengungkapan tersebut merupakan hasil pengembangan kasus dan pemetaan pola jaringan yang dilakukan petugas.
"Besarnya barang bukti yang berhasil diamankan ini merupakan hasil dari pengembangan dan pemetaan pola jaringan yang dilakukan oleh petugas," jelasnya.
Hisar menegaskan, peredaran narkoba harus terus ditekan, terutama agar tidak menyasar generasi muda.
"Kalau narkoba sampai menyasar generasi muda, dampaknya bisa merusak masa depan mereka. Generasi muda yang seharusnya menjadi sumber daya manusia yang produktif justru bisa berubah menjadi beban bagi masyarakat dan negara," katanya.
BNNP Sumsel memastikan penelusuran terhadap jaringan peredaran narkoba akan terus dilakukan hingga ke akar-akarnya.
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Selatan memusnahkan Barang bukti puluhan Brigjen Pol Hisar Siallagan saat memusnahkan kilogram narkotika hasil pengungkapan jaringan narkoba internasional di halaman Kantor BNNP Sumsel, Kamis 17 September 2026. (Foto : Yola/Ketik.co.)
Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengapresiasi kinerja BNNP Sumsel bersama aparat penegak hukum dalam mengungkap dan memusnahkan barang bukti narkoba.
"Kita memberikan apresiasi kepada BNNP Sumatera Selatan dan seluruh aparat penegak hukum yang terus bekerja keras dalam memberantas peredaran narkoba," ujar Herman Deru.
Menurut Herman Deru, pemberantasan narkoba merupakan pekerjaan berat karena para pelaku terus memperbarui cara mereka dalam memasarkan maupun memasukkan narkoba ke Sumatera Selatan seiring perkembangan teknologi.
"Ini pekerjaan yang berat, karena para pelaku terus memperbarui cara mereka dalam memasarkan dan memasukkan narkoba ke wilayah Sumatera Selatan, apalagi dengan perkembangan teknologi," katanya.
Ia berharap angka penyalahgunaan narkoba di Sumatera Selatan dapat mengalami penurunan dibandingkan hasil survei sekitar enam tahun lalu.
"Kita berharap angka penyalahgunaan narkoba di Sumatera Selatan bisa terus menurun dibandingkan hasil survei sekitar enam tahun yang lalu," ungkap Herman Deru.
Selain penindakan, Herman Deru menekankan pentingnya membangun benteng perlindungan bagi generasi muda.
"Generasi muda harus kita lindungi bersama. Bentengnya bukan hanya pemerintah dan aparat penegak hukum, tetapi juga keluarga, tokoh agama, dan tokoh masyarakat," tegasnya.
Menurut Herman Deru, keluarga dan lingkungan masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah generasi muda terjerat narkoba.
"Ketika seseorang sudah terpengaruh narkoba, dampaknya bisa meluas menjadi persoalan sosial dan ekonomi. Bahkan, ketika tidak mampu membeli narkoba, seseorang bisa terdorong melakukan tindak kejahatan," jelasnya.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyatakan dukungannya terhadap berbagai langkah pemberantasan narkoba yang dilakukan BNNP Sumsel, mulai dari pengungkapan jaringan, penindakan, hingga pemusnahan barang bukti.
"Kita harus melakukan pemberantasan ini secara bersama-sama agar peredaran narkoba dapat ditekan dan generasi muda Sumatera Selatan terlindungi," pungkas Herman Deru.(*)
