KETIK, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan tren melemah. Pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, kurs rupiah sempat menyentuh angka Rp17.500 per dolar AS.
Goyahnya nilai tukar ini dipicu oleh ekonomi global yang kurang stabil, menguatnya nilai dolar AS, serta tekanan pada pasar keuangan dalam negeri.
Kondisi tersebut mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga sejumlah barang impor yang digunakan masyarakat sehari-hari. Produk seperti gadget, elektronik, hingga bahan baku industri berpotensi mengalami kenaikan harga apabila nilai rupiah terus melemah dalam waktu lama.
Pengamat ekonomi menilai melemahnya rupiah membuat biaya impor menjadi lebih mahal karena transaksi pembelian dari luar negeri menggunakan dolar AS. Akibatnya, perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli barang dari luar negeri. Kondisi ini biasanya akan berdampak pada harga jual produk di dalam negeri.
Beberapa sektor yang dinilai paling rentan terdampak adalah elektronik dan otomotif. Harga smartphone, laptop, hingga konsol game diperkirakan dapat ikut naik apabila kurs dolar terus menguat. Selain itu, industri makanan dan minuman juga dinilai cukup terpengaruh karena masih bergantung pada bahan baku impor.
Selain barang elektronik, pelemahan rupiah juga dapat berpengaruh pada masyarakat yang memiliki kebutuhan transaksi luar negeri. Biaya pendidikan di luar negeri, langganan layanan digital internasional, hingga tiket perjalanan ke luar negeri menjadi lebih mahal karena pembayaran menggunakan dolar AS.
Sejumlah pelaku usaha kini mulai berhati-hati dalam melakukan impor barang. Beberapa importir disebut memilih menunda pembelian dalam jumlah besar sambil menunggu kondisi nilai tukar lebih stabil. Jika situasi terus berlanjut, kenaikan biaya impor dikhawatirkan akan berdampak pada harga barang di pasaran.
Pemerintah dan Bank Indonesia masih terus memantau pergerakan rupiah dan kondisi pasar keuangan nasional. Bank Indonesia sebelumnya menyatakan akan menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar asing serta langkah pengendalian lainnya.
Masyarakat diimbau untuk tidak panik. Pengamat menyebut dampak pelemahan rupiah terhadap harga barang biasanya terjadi secara bertahap, tergantung kondisi pasar dan kebijakan masing-masing perusahaan. (*)
