KETIK, SURABAYA – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur menyiapkan kerja sama program “Jogo Pondok” untuk mengatasi maraknya kasus perundungan di sekolah dan pesantren.
“Selama ini, polisi sudah punya (program) Jogo Sekolah dan Jogo Omah, karena PWNU punya rencana yang sama untuk pondok, nanti kita kerjasamakan juga Jogo Pondok,” ujar Kapolda Jatim Irjen Pol Dekananto Eko Purwono.
Hal tersebut disampaikan saat Kapolda Jatim dan jajarannya berkunjung ke Kantor PWNU Jatim, pada Kamis 11 November 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Kapolda didampingi Wakapolda Kombes Pol Feri Handoko S, Dirintelkam Kombes Pol Bondan Witjaksono, Dirbinmas Kombes Pol Darman, Wadireskrimsus AKBP Henri Noveri Santoso, dan Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Dr Luthfie Sulistiawan.
Kapolda dan jajaran disambut langsung oleh Katib Syuriah PWNU Jatim KH Ahsanul Haq, Plh Ketua PWNU Jatim KHM B Firjaun Barlaman (Gus Firjaun), Wakil Ketua PWNU Prof Masykuri Bakri, Sekretaris PWNU HM Faqih, Bendahara PWNU H Yoke Candra Katon, serta KH Sullamul Hadi dari Lembaga Pendampingan dan Bantuan Hukum PWNU.
“Selama ini, saya perhatikan hubungan Polda Jatim dengan PWNU Jatim sudah berjalan dengan baik, hubungan kemitraan yang terakhir adalah pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jombang pada Agustus lalu, karena itu sebagai pimpinan baru, saya sowan ke PWNU untuk melanjutkan hubungan baik itu. Kalau nggak ke sini, bisa kualat,”ujar Kapolda.
Dari beberapa informasi pasca-muktamar yang sedang ramai, ia menilai hal itu biasa terjadi di kalangan NU dan pesantren yang memang beragam, tapi biasanya pasca-gegeran (perdebatan yang ramai) akan diakhir dengan ger-ger-an (guyon/humor) yang ramai.
Menurutnya Itu biasa, dikarenakan ia pernah membantu pengamanan Muktamar NU di Lampung.
Kunjungan kali ini Kapolda Jatim mengharapkan arahan dan bimbingan PWNU, karena NU merupakan organisasi terbesar dan jumlahnya terbanyak di Jatim.
Ia juga minta kritik apabila ada anggotanya yang sikapnya kurang berkenan, ia juga mengatakan akan membiasakan keliling masjid setiap Jumat sekaligus sebagai pendekatan ke masyarakat.
Oleh karena itu, pihaknya juga berharap kemitraan dalam banyak hal dengan PWNU Jatim, baik program Jogo Pondok, program Dai Kamtibmas, dan sebagainya.
“Saya yakin kalau Dai Kamtibmas di Jatim itu mayoritas dari NU. Karena itu, saya juga berterima kasih kepada PWNU, karena Jatim sekarang kondusif pada saat banyak gejolak di Jakarta,” katanya.
Plh Ketua PWNU Jatim Gus Firjaun juga berharap kunjungan Kapolda Jatim dengan jajarannya akan memperkuat ukhuwah dan kerjasama yang selama ini sudah berjalan dengan baik dengan PWNU dan harapan ke depan akan dapat ditingkatkan lagi.
“Warga NU itu bukan cuma terbesar di Jatim, tapi di dunia, karena itu kalau kami merepotkan Polda ya kami mohon maaf. Beberapa hari ini, kami ada kegiatan Hari Santri, tapi sebentar lagi juga ada Harlah NU pada akhir Januari 2027, barangkali kami bisa di-support dalam kegiatan Apel Kader Harlah NU yang dipusatkan di Banyuwangi,” ujarnya.
Apel Kader NU yang direncanakan diikuti 35.000 kader se-Jatim pada Harlah NU 30-31 Januari 2027 itu bertujuan untuk meneguhkan komitmen kebangsaan NU yang selama ini sudah menjaga NKRI dan Pancasila dari rongrongan elemen anti-NKRI, yakni kelompok khilafah.
“Khusus program Jogo Kali ini bisa dimatangkan lagi dalam tiga kegiatan yakni pencegahan di pesantren melalui pelatihan atau pemahaman tentang bullying, pendampingan secara paralegal bila sudah terjadi perundungan, dan pemulihan pasca-kejadian yang melibatkan psikolog dan Bimmas/PPA,” ujarnya.
Gus Firjaun menambahkan program lain yang mengundang kolaborasi adalah PWNU Jatim Sapa Pulau Terluar.
Sebelumnya, PWNU Jatim juga sudah membantu masyarakat Luar Jatim yakni pengiriman bantuan senilai Rp120 juta bagi penyintas bencana gempa bumi di Pulau Flores, NTT, serta bantuan tujuh bangunan fasilitas keagamaan serta sosial untuk korban terdampak banjir bandang di Aceh dengan nilai total donasi mencapai sekitar Rp3 miliar. (*)
