KETIK, SURABAYA – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan, Surabaya, Rabu, 24 Juni 2026.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa sejumlah tuntutan mulai dari penolakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), penghentian pembangunan batalyon di lahan pertanian produktif, hingga penindakan tegas terhadap aktivitas pertambangan ilegal di Jawa Timur.
Aksi yang berlangsung sejak pukul 14.15 WIB hingga 16.50 WIB itu diikuti sekitar 500 mahasiswa dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Massa aksi bergantian menyampaikan orasi di depan Kantor Gubernur Jatim sambil membentangkan spanduk dan poster tuntutan.
Situasi sempat memanas ketika massa yang meminta bertemu langsung dengan perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak kunjung mendapatkan respons.
Kekecewaan peserta aksi kemudian diwujudkan dengan membakar ban di depan lokasi demonstrasi.
Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur, Muhammad Ivan Akiedozawa, mengatakan salah satu isu utama yang dibawa dalam aksi tersebut adalah kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
"Kami membawa isu regional mengenai rusaknya lingkungan akibat industri pertambangan di Jawa Timur. Kami meminta dilakukan operasi besar-besaran untuk mencabut tambang yang tidak memiliki izin," kata Edo sapaan akrabnya.
Selain isu lingkungan, PMII juga menyoroti sejumlah program pemerintah yang dinilai perlu dievaluasi, termasuk Program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih.
Menurutnya, Kantor Gubernur Jawa Timur dipilih sebagai lokasi aksi karena dianggap menjadi pusat pengambilan kebijakan di tingkat daerah yang memiliki kewenangan untuk menyampaikan aspirasi tersebut kepada pemerintah pusat.
Sebelum mendatangi Kantor Gubernur, massa PMII terlebih dahulu menggelar aksi simbolik di Taman Makam Pahlawan (TMP).
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap minimnya ruang dialog yang mereka rasakan dengan pemerintah.
"Kami sudah merasa hari ini tidak bisa berbicara dengan pemerintah yang hidup, maka kami mengadukan semuanya kepada para pahlawan yang telah mendahului kita," ujarnya.
Mahasiswa berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap berbagai persoalan yang mereka sampaikan, khususnya terkait perlindungan lingkungan hidup, ketahanan pangan, keberlangsungan lahan pertanian produktif, dan evaluasi program-program yang dinilai berdampak langsung terhadap masyarakat.
Meski sempat diwarnai ketegangan dan aksi bakar ban, demonstrasi berlangsung dalam pengawalan aparat keamanan dan berakhir tanpa insiden berarti.(*)
.png)