KETIK, SURABAYA – Kesabaran dan ketekunan merupakan kunci dalam segala hal. Seperti yang dilakukan oleh Irma Rusanti, dosen Prodi D4 Tata Busana Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Irma Rusanti telah sabar dan tekun mengembangkan batik tanah. Ia mengungkapkan riset yang dilakukan sejak 2013 hingga sekarang, 2026 atau sudah 13 tahun.
"Jadi ternyata saya menemukan bahwa tanah itu bisa dipakai pewarna untuk batik. Nah kemudian selama ini saya sudah mengembangkan banyak motif batik," katanya, Senin, 25 Mei 2026.
Ia mengungkapkan motif-motif yang dibuat dari batik berbahan warna tanah ini seperti batik Surabaya dan Lampung.
"Gambar-gambarnya banyak. Seperti yang saya bawa ini gambar hewan yang dilindungi," lanjutnya.
Keunggulan batik dengan pewarna tanah, kata Irma lebih dingin daripada warna berbahan lainnya. Hal inilah yang membuat pemakainya lebih nyaman dipakai seharian.
"Pewarna tanah lebih dingin karena semua dicelup tanah, jadi dia (kain) lebih dingin ketika dipakai," ungkapnya.
Kendati memiliki kelebihan, Irma mengungkapkan tidak semua tanah bisa menjadi pewarna kain. Hal ini karena setiap tanah memiliki karakteristiknya masing-masing.
"Kesulitannya, ternyata tidak semua tanah bisa dipakai. Awalnya dari tanah Malang, kemudian Madura itu enggak bisa. Tanah terlalu kering ataupun tanah terlalu basah enggak bisa," tuturnya.
Menurutnya, tanah yang terlalu basah memiliki banyak kandungan silikat, apabila diaplikasikan ke kain dapat menutup pori-pori kain. Sehingga tidak bisa digunakan untuk membatik.
"Akhirnya setelah saya melakukan riset lagi ditemukan tanah yang cocok untuk bahan warna dari tanah daerah Madura, Lamongan dan Tuban," sambungnya.
Untuk proses pewarnaan, ia mengungkapkan tidak bisa dilakukan cepat-cepat. Sebaliknya, prosesnya membutuhkan waktu yang lama, hingga berhari-hari.
"Semakin lama semakin bagus. Tapi efek buruknya dapat membuat kain rapuh, jadi harus tepat. Waktunya harus pas, sehingga warna dan kain dapat menyatu," kata koordinator D4 Tata Busana Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Sekarang riset yang ia lakukan sudah membuahkan hasil. Langkah selanjutnya menemukan mitra untuk memasarkan batik tanah, agar lebih dikenal banyak orang. (*)
