KETIK, CILACAP – Dinilai mempunyai potensi yang produktif di bidang pariwisata, Ketua Komisi B DPRD Cilacap, Didi Yudi Cahyadi kembali menyoroti Pulau Nusakambangan sebagai tempat wisata yang menjanjikan.
Ia mendorong pemerintah daerah setempat untuk mengambil langkah konkret dalam mengembangkan sejumlah titik yang dinilai potensial.
Menurut Didi, kawasan pantai pasir putih di sisi Nusakambangan yang menghadap Pangandaran, Jawa Barat, sangat potensi bilamana dikembangkan.
"Kalau kita melihat pasir putihnya Nusakambangan yang menghadap ke Pangandaran, dinas di Pangandaran sendiri mengatakan itu pantai terindah yang mengalahkan Pangandaran," ujarnya, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Legislator dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa ini menyebut keindahan pantai pasir putih di sisi selatan pulau tersebut tidak kalah dari destinasi wisata Pangandaran.
Didi mendorong pemerintah daerah cukup memilih sejumlah titik yang memungkinkan untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata secara legal dengan membuka pariwisata lewat Patimuan dan Rawaapu.
"Jadi bukan berarti kita ingin menguasai Nusakambangan secara keseluruhan, itu tidak. Tapi kita cari spot-spot yang memungkinkan untuk dikembangkan menjadi wisata," tegasnya.
Didi mengatakan, potensi wisata yang ada di Nusakambangan itu harus ditangkap sebagai peluang untuk menggerakkan perekonomian sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Cilacap.
"Kalau saya mengatakan, ya yang namanya eksekutif harus cerdas cari uang. Lahan-lahan uang itu harus dicari bagaimana dan itu dilakukan. Kalau kapan waktunya? Ya secepatnya," ungkap Didi.
Namun demikian, pengembangan potensi wisata Nusakambangan ini kata Didi harus melalui prosedur, mulai dari komunikasi, kajian, dan pemenuhan aspek legalitas bersama pemerintah pusat.
Hal ini mengingat pulau tersebut sebagian besar kawasan dan pengelolaannya itu berada di bawah kewenangan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas).
Untuk itu, pemkab perlu aktif berkomunikasi dengan pemerintah pusat agar mengetahui persyaratan apa saja yang harus dipenuhi.
"Pemerintah daerah harus lobi ke pusat, menanyakan persyaratan apa saja yang diperlukan. Kalau legalitas itu sudah kita dapat, izin dari pusat, ini harusnya bisa cepat dilakukan, tidak harus menunggu-menunggu," ujar kader PKB ini.
"Kita sudah mendorong Dinas Pariwisata juga untuk membuat Detail Engineering Design (DED) dan rencana induk kepariwisataan, dan tahun ini kita anggarkan," pungkas Didi.
Begitupun komunikasi dengan Bappeda, Didi menyatakan telah melakukan rapat dengan Bappeda Cilacap. Bappeda akan meminta jembatan yang menghubungkan Kutawaru sebagai icon wisata.
"Kalo kita tidak hanya yang ke Kutawaru mintanya, yang ke Nusakambangan juga di buatkan jembatan. Insya Allah seperti di Madura. Dan yang paling indah ketika melihat di Batam. Di Batam ada jembatan penghubung yang indah dan menjadi icon wisata," beber Didi.
"Harapan kita nanti Jembatan yang menghubungkan Kutawaru dengan Nusakambangan ini tidak hanya sebagai angan-angan saja tetapi memang kita dorong eksekutif berhitung, merencanakan, dan yang utama adalah agresif melakukan lobi-lobi dengan pemerintah pusat," tandas Didi. (*)
